Posted by: schariev | October 14, 2013

Image

Gulungan ombak pantai perlahan mencium hamparan pasir putih yang memantulkan sinar matahari pagi. Permukaan air laut berwarna kebiruan pun ikut berkilau, layaknya ribuan butir kristal permata yang mengkilap, bergoyang terbuai angin laut yang hangat.

Nyanyian burung camar dan elang diiringi deru ombak yang menghantam pantai berkarang di sebelah timur dan barat. Angin Samudera Hindia menggoyangkan pepohonan yang berderet di sekeliling pantai, membuat dahan-dahannya bergoyang, menari diiringi simfoni pantai selatan Kabupaten Garut.

Hamparan pasir putih layaknya permandani ini memanjang setengah lingkaran dan berujung pada serakan karang di sebelah barat dan timur. Lembutnya pasir putih dan tangguhnya hamparan karang mengajak para pengunjung menjelajahinya dengan kaki telanjang atau beralas.

Jika sinar matahari dirasa cukup menyengat, pepohonan tropis seperti palem, kelapa, akasia, katapang, mangrove, dan semak-semak besar, yang berjejer di sekeliling pantai bersedia dijadikan tempat berteduh. Sambil duduk atau berbaring di atas pasir, menikmati pemandangan pantai dan garis horizon yang tampak mempertemukan samudera dan langit.

Suasana alam ini tersaji di Pantai Rancabuaya di Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Melalui Jalan Pemprov Jabar rute Banjaran-Pangalengan-Cisewu-Caringin, dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk mencapainya dari Bandung. 

Walaupun belum banyak dikunjungi wisatawan, pantai ini terlalu eksklusif untuk disebut sebagai pantai tempat rekreasi alternatif. Pemandangan dan kondisi alamnya yang dapat merangkum seluruh pantai di selatan Jawa Barat membuat Pantai Rancabuaya layak mendapat posisi istimewa.

Mulai dari hamparan pasir putih layaknya pantai di Karibia serta pantai berkarang dan bertebing layaknya pantai di Irlandia tersaji di ujung Kabupaten Garut ini. Air lautnya jernih, membiaskan bayangan dasar laut berupa pasir putih, karang, dan biota laut lainnya.

Jika matahari sudah berada di atas kepala atau di langit barat, jangan khawatirkan soal makanan. Hidangan ikan salmon, tuna, atau kakap, dapat menjadi pengisi perut. Tersaji dengan sambal kecap pedas dan nasi pulen hangat.

Sejumlah tempat makan menyediakan berbagai hidangan ini bagi para wisatawan, dimasak dengan cara digoreng atau dibakar ala pesta kebun bersama keluarga atau kerabat.

Jika ingin bermalam, terdapat tiga kompleks hotel eksklusif dan deretan penginapan sederhana di pinggir pantai. Hotel dan penginapan ini dapat menjadi tempat bermalam setelah menyaksikan matahari terbenam atau sebelum menyaksikan matahari terbit di horizon Pantai Rancabuaya.

Seorang wisatawan asal Garut, Yude (28), mengatakan pantai ini mulai marak dibicarakan setelah Jalan Pemprov Jabar penghubung Bandung-Rancabuaya diperbaiki tahun lalu. Akhirnya, Yude pun mengajak teman-temannya untuk berekreasi ke Pantai Rancabuaya.

“Pantai Rancabuaya ini termasuk pantai paling lengkap. Tempat makan, hotel, sampai saung, semuanya ada. Pantainya juga ada yang berkarang dan berpasir. Ombaknya tidak terlalu besar jadi aman buat berenang,” kata Yude, Jumat (20/9).

Yude mengatakan pentai ini terbilang sepi walaupun menjelang akhir pekan. Hal ini membuatnya lebih menikmati suasana pantai tanpa terganggu keramaian pengunjung lainnya. Paling cocok, ucapnya, menghabiskan sore dengan memandang surya tenggelam sambil menikmati hidangan pantai di saung.

Advertisements
Posted by: schariev | October 14, 2013

Danau Kabuyutan Garut

Image

 

Deretan pohon pinus berdiri tegak menggapai birunya langit Garut Selatan. Mereka berjejer bersama pepohonan khas hutan hujan tropis lainnya dan tebing-tebing batu cadas, mengelilingi sebuah danau.

Rerumputan hijau yang menyelimuti tanah tampak mencium permukaan air danau yang berwarna kehijauan. Angin berembus melewati hutan yang rindang membelai permukaan danau sampai membentuk riak, mengaburkan cerminan pepohonan di sekitarnya.

Telinga dimanjakan dengan kicauan berbagai jenis burung dan alunan suara pepohonan yang tertiup angin. Burung-burung walet pun berterbangan di atas danau, dinaungi bayangan tarian awan di atas danau bernama Situ Kabuyutan ini.

Kesan damai dan sunyi menyelimuti danau yang tersembunyi dibalik perbukitan ini. Hamparan rerumputan hijau nampak mengajak para pengunjung untuk duduk atau tiduran sejenak sambil menikmati pemandangan alam di sekitar danau.

Situ Kabuyutan terletak di perbatasan antara Kecamatan Pakenjeng dan Kecamatan Bungbulang. Dari kawasan perkotaan atau pusat Kabupaten Garut, jaraknya sekitar 80 kilometer. Danau ini bisa diakses dari Jalan Pakenjeng-Bungbulang, tepatnya melalui cabang jalan di Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang.

Beberapa puluh meter kemudian setelah memasuki kawasan hutan pinus milik Perhutani KPH Garut, perjalanan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Maklum, hanya tersedia jalan setapak melewati hutan pinus menuju Situ Kabuyutan. 

Medan jalan menuju danau pun kadang sangat curam dengan permukaan jalan berupa tanah dan bebatuan. Selain hutan pinus, pengunjung akan melintasi sejumlah hutan semak, kebun, atau sawah warga.

Walaupun pada akhir pekan, Situ Kabuyutan sangat sepi pengunjung. Tidak dipungut tiket masuk untuk memasuki area milik Perhutani ini. Di Situ Kabuyutan, warga yang mencari kayu bakar, pencari ikan dan udang, petani, penyadap getah pinus, dan pencari rumput, kerap dijumpai beraktivitas di sekitar danau. 

Keindahan Situ Kabuyutan ini nampaknya menarik minat warga Kecamatan Garutkota, Imam Nugraha (27). Menurut Imam, danau ini belum banyak terekspos media atau masuk dalam referensi wisata. Karenanya, danau ini masih asri dan sepi pengunjung.

“Bukan pertama kalinya saya ke sini, dulu ada sejumlah villa di sekitar danau. Sekarang sudah tidak ada. Tempat ini sangat nyaman untuk dijadikan area berkemah atau kumpul-kumpul dengan rekan-rekan,” kata Imam saat ditemui di Situ Kabuyutan, Sabtu (14/9).

Imam berharap pengelola Situ Kabuyutan menata jalan setapak menuju danau sehingga lebih mudah dilalui pengunjung. Dengan demikian, pengunjung bisa melewati jalan setapak tersebut dengan nyaman pada musim hujan.

“Danau ini akan jauh lebih indah pada musim hujan. Tanamannya jauh lebih hijau dan airnya lebih banyak. Cuma, kalau musim hujan, jalan setapak itu kalau tidak dengan jalan kaki, paling bisa dilalui motocross atau trail,” kata warga yang hobi fotografi ini. 

Situ Kabuyutan ini nampak bersembunyi di balik perbukitan hijau di Garut Selatan. Danau yang dikelilingi cadas dan pohon pinus membuat Situ Kabuyutan tidak kalah indahnya dengan danau-danau di Swiss atau Amerika Serikat.

Posted by: schariev | October 14, 2013

Pantai Rancabuaya, Permata di Ujung Garut

Gulungan ombak pantai perlahan mencium hamparan pasir putih yang memantulkan sinar matahari pagi. Permukaan air laut berwarna kebiruan pun ikut berkilau, layaknya ribuan butir kristal permata yang mengkilap, bergoyang terbuai angin laut yang hangat.

Nyanyian burung camar dan elang diiringi deru ombak yang menghantam pantai berkarang di sebelah timur dan barat. Angin Samudera Hindia menggoyangkan pepohonan yang berderet di sekeliling pantai, membuat dahan-dahannya bergoyang, menari diiringi simfoni pantai selatan Kabupaten Garut.

Hamparan pasir putih layaknya permandani ini memanjang setengah lingkaran dan berujung pada serakan karang di sebelah barat dan timur. Lembutnya pasir putih dan tangguhnya hamparan karang mengajak para pengunjung menjelajahinya dengan kaki telanjang atau beralas.

Jika sinar matahari dirasa cukup menyengat, pepohonan tropis seperti palem, kelapa, akasia, katapang, mangrove, dan semak-semak besar, yang berjejer di sekeliling pantai bersedia dijadikan tempat berteduh. Sambil duduk atau berbaring di atas pasir, menikmati pemandangan pantai dan garis horizon yang tampak mempertemukan samudera dan langit.

Suasana alam ini tersaji di Pantai Rancabuaya di Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Melalui Jalan Pemprov Jabar rute Banjaran-Pangalengan-Cisewu-Caringin, dibutuhkan waktu tiga sampai empat jam untuk mencapainya dari Bandung. 

Walaupun belum banyak dikunjungi wisatawan, pantai ini terlalu eksklusif untuk disebut sebagai pantai tempat rekreasi alternatif. Pemandangan dan kondisi alamnya yang dapat merangkum seluruh pantai di selatan Jawa Barat membuat Pantai Rancabuaya layak mendapat posisi istimewa.

Mulai dari hamparan pasir putih layaknya pantai di Karibia serta pantai berkarang dan bertebing layaknya pantai di Irlandia tersaji di ujung Kabupaten Garut ini. Air lautnya jernih, membiaskan bayangan dasar laut berupa pasir putih, karang, dan biota laut lainnya.

Jika matahari sudah berada di atas kepala atau di langit barat, jangan khawatirkan soal makanan. Hidangan ikan salmon, tuna, atau kakap, dapat menjadi pengisi perut. Tersaji dengan sambal kecap pedas dan nasi pulen hangat.

Sejumlah tempat makan menyediakan berbagai hidangan ini bagi para wisatawan, dimasak dengan cara digoreng atau dibakar ala pesta kebun bersama keluarga atau kerabat.

Jika ingin bermalam, terdapat tiga kompleks hotel eksklusif dan deretan penginapan sederhana di pinggir pantai. Hotel dan penginapan ini dapat menjadi tempat bermalam setelah menyaksikan matahari terbenam atau sebelum menyaksikan matahari terbit di horizon Pantai Rancabuaya.

Seorang wisatawan asal Garut, Yude (28), mengatakan pantai ini mulai marak dibicarakan setelah Jalan Pemprov Jabar penghubung Bandung-Rancabuaya diperbaiki tahun lalu. Akhirnya, Yude pun mengajak teman-temannya untuk berekreasi ke Pantai Rancabuaya.

“Pantai Rancabuaya ini termasuk pantai paling lengkap. Tempat makan, hotel, sampai saung, semuanya ada. Pantainya juga ada yang berkarang dan berpasir. Ombaknya tidak terlalu besar jadi aman buat berenang,” kata Yude, Jumat (20/9).

Yude mengatakan pentai ini terbilang sepi walaupun menjelang akhir pekan. Hal ini membuatnya lebih menikmati suasana pantai tanpa terganggu keramaian pengunjung lainnya. Paling cocok, ucapnya, menghabiskan sore dengan memandang surya tenggelam sambil menikmati hidangan pantai di saung.

Posted by: schariev | October 14, 2012

Pantai Santolo, Karibia dari Garut.

Image

Sejak dulu, pantai selatan Kabupaten Garut terkenal dengan pemandangannya yang sangat indah. Masih minimnya jumlah pengunjung jika dibandingkan dengan pantai lainnya di Jawa Barat, membuat pantai selatan Kabupaten Garut terbilang masih alami dan bersih.

Berbagai bentuk pantai pun bisa ditemui di sejumlah titik di pantai selatan ini. Mulai dari pantai berpasir cokelat dan hitam di Pantai Leuweung Sancang, Kecamatan Cibalong, sampai pantai berpasir putih bersih di Pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin.

Selain dua pantai di ujung barat dan timur pantai selatan Kabupaten Garut ini, terdapat sejumlah pantai lainnya yang menyuguhkan keindahan alam yang tidak kalah cantiknya. Di antaranya Pantai Cijayana di Kecamatan Bungbulang, Pantai Manalusu di Kecamatan Cikelet, serta Pantai Sayang Heulang, Pantai Karang Paranje, dan Pantai Cijeruk Indah di Kecamatan Pameungpeuk.

Namun, dari seluruh pantai di kawasan selatan Kabupaten Garut, pantai yang paling terkenal adalah Pantai Santolo di Kecamatan Cikelet. Pantai ini terletak sekitar 90 kilometer dari pusat Kabupaten Garut atau dapat ditempuh dengan kendaraan selama tiga jam.

Pantai santolo memiliki pasir berwarna putih kecokelatan, menghampar sepanjang Pantai Santolo yang berbentuk setengah lingkaran. Ombaknya relatif kecil, mengundang para pengunjung untuk berenang di pantai ini.

Air lautnya jernih, memantulkan warna biru langit yang membentang di atasnya pada siang hari. Terkadang, pasir pantai yang nyaris berwarna putih di dasar pantai sampai bisa terlihat dengan jelas. Pantai ini relatif sepi pada hari biasa bahkan akhir pekan. Membuat para pengunjung merasa nyaman berjalan-jalan sepanjang Pantai Santolo.

Seorang wisatawan asal Kota Bandung, Vera Andriani (25), mengatakan bisa merasakan ketenangan di Pantai Santolo. Dia bisa berjalan-jalan dengan teman-temannya untuk menikmati keindahan Pantai Santolo tanpa terganggu aktivitas pedagang atau wisatawan lainnya.

“Kalau naik perahu ke tengah laut, terus melihat ke Pantai Santolo, speechless. Air lautnya berwarna biru kehijauan dan jernih, beda sama pantai lainnya. Pasir pantainya luar biasa indah. Kalau saja banyak pohon kelapa di pantainya, bakalan mirip pantai di Karibia,” kata Vera, Sabtu (6/10).

Menghabiskan waktu menjelang matahari terbenam di Pantai Santolo, ujarnya, akan terasa sangat mengagumkan. Menurut Vera yang telah menginap semalam di sekitar pantai tersebut, cahaya matahari senja akan membuat langit dan permukaan lautnya berwarna kemerahan.

“Kalau sore enaknya duduk-duduk sama teman-teman di pantai. Menyaksikan matahari terbenam sambil mendengarkan suara ombak. Suasananya tenang,” kata Vera.

Ujarnya, kawasan Pantai Santolo bisa dibilang seperti pantai yang masih perawan. Dia jarang menemukan sampah di kawasan pantainya. Sayangnya, kata Vera, kawasan penginapan, restoran, dan pertokoan di dekat gerbang pantai tidak tertata rapi. Jalannya pun masih berupa tanah dan sejumlah kios tidak tertata rapi.

Akan lebih baik, ujarnya, kawasan gerbang tersebut ditata ulang sehingga akan menyuguhkan kesan eksklusif, rapi, dan bersih, saat masuk ke kawasan Pantai Santolo.

“Keadaan alam pantainya sangat bagus. Akan sangat disayangkan kalau nantinya malah dibuat kumuh dengan kehadiran pedagang yang berjualan seenaknya. Tidak mustahil kan membuat Pantai Santolo yang bersih dan indah, dilengkapi sarana penginapan, restoran, pertokoan, dan toilet, yang berkelas dan tertata. Seperti di Bali atau bahkan Karibia,” tutur Vera.

Posted by: schariev | October 14, 2012

Curug Sanghyang Taraje, Tangga Menuju Langit.

Image

Kabupaten Garut memiliki sejuta pesona keindahan alam yang dapat membuat orang yang menyaksikannya berdecak kagum. Kawasan selatannya berbukit-bukit dan berujung di pantai berpasir putih, menyembunyikan sejumlah air terjun dan sungai berair jernih di sela bukit-bukit hijaunya.

Sebagian air terjun sudah cukup terkenal kerap menjadi tujuan wisata. Begitu pun dengan sungai berarus deras seperti Sungai Cisanggiri dan Cikandang yang menjadi pilihan warga yang hobi berarung jeram. Namun, tidak sedikit juga keindahan alam di Garut belum diketahui banyak orang, di antaranya Curug Sanghyang Taraje.

Air terjun di Kampung Kombongan, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, ini sangat jarang dikunjungi wisatawan, berbeda dengan Curug Orok yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Curug Sanghyang Taraje.

Ketika Curug Orok dikunjungi wisatawan hampir tiap hari atau minimal pada akhir pekan, Curug Sanghyang Taraje cenderung sepi pengunjung. Curug yang dapat terlihat langsung dari jalan desa Pakenjeng ini seringnya hanya dijamah warga yang mencari kayu bakar dan rumput untuk pakan ternaknya.

Padahal, pesona Curug Sanghyang Taraje tidak kalah indah dan unik dengan sejumlah air terjun lainnya di selatan Jawa Barat. Puncak air terjun setinggi sekitar 90 meter dari kolam di bawahnya ini terdiri atas dua jalur tumpahan air terjun. Sehingga, dua jalur air terjun ini membentuk dua garis vertikal pararel berjeda sekitar lima meter.

Air terjun kembar ini diapit dua bukit yang dirimbuni hutan. Curug Sanghyang Taraje berada di atas tebing dan airnya mengalir ke Sungai Cikandang melewati kolam air terjun dan sungai berbatu. Jika pengunjung berdiri di posisi dan waktu yang tepat, lengkung pelangi yang terbentuk akibat butiran air dari Curug Sanghyang Taraje dan terpaan sinar matahari bisa terlihat.

Dinamai sebagai Curug Sanghyang Taraje karena bentuk curug tersebut mirip  tangga atau dalam dalam Bahasa Sunda disebut “taraje”, kata Anah (60), warga sekitar yang tengah memungut kayu bakar di sekitar curug. Berdasarkan legenda setempat, ujarnya, Sangkuriang menggunakan curug ini untuk mencapai langit dan mengambil bintang untuk Dayang Sumbi.

Di dasar air terjun tersebut, tuturnya, terdapat batu besar berbentuk tapal kaki raksasa yang hanya dapat terlihat saat kolam air terjun surut. Selain itu, ujarnya, berdasarkan cerita yang disampaikan turun-menurun dari leluhurnya, di balik curug terdapat pintu rahasia menuju ruangan berisi harta karun yang dijaga ular besar.

“Namanya juga cerita, boleh percaya boleh tidak. Yang jelas, seunik apapun ceritanya, tetap saja curug ini sepi pengunjung. Ramainya kalau libur pas Lebaran, sampai pengunjung dimintai karcis. Paling, warga sekitar yang mencari kayu bakar atau rumput untuk ternak saja yang ke sini kalau hari biasa,” kata Anah saat ditemui di sekitar curug, Senin (17/9).

Curug Sanghyang Taraje dapat ditempuh dari pusat perkotaan Garut selama sekitar tiga jam. Dari Jalan Raya Bayongbong, perjalanan berlanjut ke arah Bungbulang sampai masuk ke Kecamatan Pamulihan. Dari gerbang kecamatan ini, jalan menuju curug berkondisi rusak dengan aspal yang terkelupas serta menyisakan bebatuan dan pasir.

Selain itu, jalan yang sempit pun hanya bisa dilalui satu kendaraan roda empat. Turunan dan tanjakan tajam dengan jurang dan tebing di kedua sisi jalan pun harus dilalui menuju curug tersebut. Pemandangan perkebunan teh, deretan bukit hijau, dan jajaran tebing, mengawal perjalanan menuju lokasi curug.

Namun, setelah sampai di kawasan curug, kelelahan dan ketegangan akibat perjalanan panjang terhapus oleh pesona keindahan Curug Sanghyang Taraje. Air terjun layaknya tangga menuju langit ini bagaikan menunggu para pemburu harta karun keindahan alam untuk menjelajahi dan menikmati pesona alamnya.

Posted by: schariev | June 19, 2012

Curug Malela, Niagara dari Tatar Sunda


Butiran air memerciki dan menyeka keringat yang menempel di wajah. Udara segar mengisi paru, mengusir napas berat yang telah mengiringi perjalanan satu kilometer menuruni bukit dengan berjalan kaki. Mata terpaku pada sebuah curug selebar sekitar 60 meter dan setinggi 50 meter.

Telinga kian dimanjakan dengan deru jutaan liter air yang turun dan menghantam bebatuan di tebing dan dasar curug. Sejenak, tubuh terpaku dengan telapak kaki berpijak di atas bebatuan besar, berdecak kagum sambil menyaksikan keagungan dan keindahan Curug Malela.

Di balik dan sela jalur turunnya air curug, terlihat batuan cadas berwarna hitam mengkilap. Curug di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, ini diapit dua bukit yang dipenuhi pepohonan hijau dan deretan tebing. Air yang mengalir dari Curug Malela cukup jernih. Seakan mengajak pengunjung untuk bermain air di sungai dan kolam alami sekitar curug, membenamkan kaki yang lelah, atau berfoto di atas bebatuannya.

Curug Malela merupakan bagian dari aliran Sungai Cidadap yang berhulu di lereng Gunung Kendeng. Sepanjang sepanjang dua kilometer setelah Curug Malela, aliran Sungai Cidadap ini kembali berkelok melewati enam undakan curug yang lebih kecil, mulai dari Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk, yang kemudian bermuara di Cisokan.

Warga dan pengunjung kerap menjuluki air terjun di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur ini sebagai Niagara mini. Sebab, bentuk Curug Malela yang tinggi dan melebar mengingatkan mereka terhadap bentuk Air Terjun Niagara yang juga lebar di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.

Jarak dari Kota Bandung ke Curug Malela mencapai sekitar 80 kilometer. Dari Kota Bandung, wisatawan bisa mengambil rute Kota Cimahi-Batujajar-Cililin-Sindangkerta-Gununghalu-Rongga. Selain itu, Curug Malela di Desa Cicadas ini pun bisa ditempuh melalui rute Cipatat-Saguling-Cipongkor-Rongga.

Menuju curug di ujung Kabupaten Bandung Barat ini, jalan beraspal hanya bisa dinikmati sampai kawasan Desa Cibedug, Kecamatan Rongga. Sekitar 10 kilometer selanjutnya, sampai di ujung Jalan Desa Cicadas, hanya terdapat jalan berbatu, berpasir, dan berlumpur. Selain itu, jalan yang sebagian besar belum pernah tersentuh aspal ini memiliki permukaan bergelombang, lebih cocok untuk trek off road.

Jalan Desa Cicadas ini berujung di Kampung Manglid. Kendaraan tidak bisa mencapai lokasi Curug sehingga harus memarkirkannya di lapangan parkir di ujung jalan. Setelah itu, pengunjung harus menelusuri jalan setapak. Sebagian jalan setapak ini sudah dibangun menggunakan beton dan bebatuan sehingga pengunjung bisa dengan nyaman berjalan di atas ratusan anak tangga.

Ratusan meter kemudian, jalan setapak beralas beton ini berujung di kawasan pesawahan. Pengunjung pun harus menyusuri pematang sawah berundak sepanjang puluhan meter. Selanjutnya, jalan setapak berdasar tanah dan bebatuan akan mengantarkan pengunjung sampai Curug Malela. Jalan setapak ini terus menurun dan diteduhi rimbunan berbagai jenis pohon di lereng bukit tersebut.

Belum banyak masyarakat yang mengetahui dan mengunjungi Curug Malela. Entah karena jaraknya yang jauh, infrastruktur jalan menuju curug yang teramat buruk, atau kurangnya promosi. Kebanyakan, informasi mengenai curug ini justru beredar di sejumlah blog milik para penjelajah alam atau pesepeda.

Seorang pengunjung asal Belanda, Myranda Oosthoek (27), mengatakan dia mendapat informasi mengenai Curug Malela dari sebuah blog. Myranda kemudian mengajak tujuh temannya untuk mengunjungi Curug Malela setelah mereka mengunjungi berbagai objek wisata di Ciwidey minggu kemarin.

“Saya tidak tahu kalau jalan menuju ke sini sangat parah. Untung saya ke sini bersama tiga teman dari Rotterdam dan enam teman dari Bandung, jadi tidak takut kalau tersesat. Walaupun berputar dulu ke Bandung dan melewati jalan yang panjang, semua terbayar ketika sampai di Malela,” kata Myranda saat ditemui di lapangan parkir setelah mengunjungi Curug Malela, Senin (28/5).

Menurut Myranda, semua pengunjung hendaknya menyisakan tenaga yang cukup setelah sampai di Curug Malela. Sebab, perjalanan pulang kembali ke lapangan parkir dengan kondisi menanjak sangat melelahkan. “Saya beristirahat sampai tiga kali di perjalanan kembali dari Malela ke lapangan parkir,” kata perempuan yang mengaku telah mendaki Gunung Papandayan ini.

Posted by: schariev | January 1, 2012

Badai Matahari 2012

Tahun 2012 telah datang. Bagi sebagian orang, pergantian tahun ini mungkin tidak akan begitu saja disambut dengan suka cita seperti perayaan pergantian tahun sebelumnya. Mereka yang telah menonton film berjudul “2012” yang bercerita tentang bencana besar yang akan melanda bumi pada 2012 atau telah mengetahui isu-isu yang mengatakan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun depan, sedikitnya akan merasa resah.

Isunya, tahun depan, tepatnya tangga 21 Desember 2012, akan terjadi badai matahari yang menimbulkan berbagai bencana mematikan di bumi. Oleh para penganut teori katastrofi, badai matahari besar tersebut dihubungkan dengan penanggalan suku Maya yang mengatakan bahwa akhir dunia atau kiamat memang terjadi pada tanggal yang terbilang cantik tersebut.

Kepala Observatorium Bosscha, Dr Hakim Luthfi Malasan, sependapat bahwa badai matahari memang akan terjadi pada tahun 2012. Bahkan, diperkirakan akan terjadi juga pada tahun 2013. Badai matahari ini, ujarnya, merupakan siklus alami setiap 11 tahun sekali.

“Artinya aktivitas matahari meningkat setiap 11 tahun sekali. Awalnya, matahari akan menjulurkan lidah api atau flare sepanjang 2 sampai 3 juta kilometer berkekuatan setara dengan miliaran bom atom. Flare ini akan menimbulkan partikel berenergi dan berkecepatan tinggi. kemudian partikelnya akan sampai ke bumi sekitar delapan menit kemudian,” ujar Hakim saat ditemui di Observatorium Bosscha, Lembang, Selasa (27/12).

Partikel berenergi tinggi ini, kemudian akan menembus lapisan magnetosfer dan bisa saja membuat sejumlah satelit buatan manusia yang mengorbit di angkasa mengalami kerusakan dan akhirnya jatuh bebas ke bumi. Inilah, ujarnya, yang harus diwaspadai karena bisa saja terjadi hujan satelit.

Badai matahari sendiri, kata Hakim, tidak pernah menimbulkan bencana seperti gempa atau lainnya. Namun, bisa menimbulkan gangguan pada gaya elektromagnetik yang ada di bumi. Partikel berenergi tinggi yang ditimbulkan badai matahari, katanya, bisa meninggikan gaya elektromagnetik bumi.

Akibat hantaman partikel ini, jaringan telekomunikasi akan rusak, pembangkit listrik bisa langsung mati, berbagai peralatan elektronik seperti handphone, komputer, televisi, ATM, dan radio pun tidak akan berfungsi bahkan rusak.

Akhirnya, manusia akan kembali pada zaman kegelapan. Semua tatanan kehidupan manusia yang telah menginjak zaman serba teknologi tinggi ini, ujarnya, akan sedikit mengalami kelumpuhan.

“11 tahun lalu terjadi badai matahari yang cukup besar. Untungnya, belum banyak perangkat berteknologi tinggi waktu itu sehingga dampaknya hanya sedikit. Sekarang kan sudah sangat pesat kemajuannya. Masyarakat yang terbiasa dengan navigasi, telekomunikasi, dan listrik, akan mengalami kesulitan,” kata Hakim.

Apabila dilihat dari grafik tahunannya, aktifitas matahari menunjukan grafik naik turun seperti jejeran bukit. Pada titik-titik tertentu, matahari akan menghasilkan flare yang menimbulkan badai matahari. Fase sekarang, ujarnya, matahari terus berada pada tingkat minimum.

Inilah, katanya, yang membuat khawatir. Sebab, apabila aktivitas matahari terus berada dalam posisi minimum, dikhawatirkan aktivitasnya akan tiba-tiba melonjak naik dan menghasilkan badai matahari berefek mengerikan.

Akibat lonjakan ini, katanya, beberapa tahun lalu Inggris Raya sempat beku karena jaringan listriknya rusak. Pada 2003, badai matahari pun telah membuat kawasan Kanada dan Alaska mengalami mati lampu, jaringan telekomunikasi rusak, dan sejumlah generator dan dinamo meleleh. Badai matahari pada 2005 pun membuat sejumlah penerbangan mengalami penundaan akibat kekacauan navigasi.

Badai matahari yang menyebabkan matinya berbagai sistem berteknologi tinggi ini, kata Hakim, bisa saja menimbulkan anarkisme dan huru-hara di masyarakat. Dampak psikologis inilah yang perlu juga dikhawatirkan.

Pada Natal 2011, kata Hakim, dirinya mendapatkan laporan bahwa matahari telah mengeluarkan flare, Minggu (25/12) pukul 21.00, yang menimbulkan badai yang cukup besar. Akibatnya, sejumlah jaringan telekomunikasi sempat terganggu.

Pada tanggal tersebut, katanya, jaringan ponsel sempat terganggu. Dirinya pun menyangsikan kalau gangguan hanya disebabkan oleh sibuknya jaringan pada hari libur itu. Sebab, sejumlah ATM pun mengalami gangguan.

“Tapi saya belum berani mengatakan bahwa gangguan pada Natal kemarin ini akibat flare. Sebab, belum diteliti. Tapi, gangguan pada Natal ini jauh lebih buruk daripada Lebaran yang jelas-jelas disebabkan oleh sibuknya jaringan,” kata Hakim.

Dalam jangka panjang, ujarnya, badai matahari pun akan menimbulkan perubahan cuaca. Sebab, cosmic ray yang dihasilkan akibat aktifitas matahari mempengaruhi pembentukan awan. Akibatnya, badai matahari yang berarti naiknya aktivitas matahari dapat membuat pembentukan awan semakin banyak.

Akhirnya, akan terjadi badai el nino yang berarti musim panas berkepanjangan dan badai la nina yang berarti musim hujan yang berkepanjangan.

“Apapun bisa terjadi di tahun 2012. Tidak usah ditakuti tetapi harus tetap diwaspadai. Ada baiknya jika mulai sekarang kita membiasakan diri untuk tidak terlalu tergantung pada alat-alat elektronik dan kembali pada sistem manual,” ujarnya.

Badai matahari, katanya, tidak bisa diprediksi apalagi jika ditetapkan pada tanggal 21 Desember 2012 seperti yang diungkapkan para penganut teori katastrofi. Masyarakat, ujarnya, telah sangat cerdas sehingga tidak akan mudah percaya pada isu kiamat tersebut.

Yang jelas, pada tahun 2012, akan terjadi fenomena antariksa yang unik selain hujan meteor dan gerhana. Yakni, oposisi Planet Mars pada maret 2012 dan transit Planet Venus pada Juni 2012. Mars akan terlihat purnama dari Bumi dan Venus akan berada di antara Bumi dan matahari.

Kaisar Hongwu (1328 – 1398), pendiri Dinasti Ming, terkenal akan kedekatannya dengan komunitas Muslim Hui. Beliau memerakarsai rekonstruksi sejumlah masjid yang telah didirikan semasa pemerintahan Dinasti Tang, Dinasti Song, dan Dinasti Yuan. Selain itu, beliau juga membangun sejumlah masjid baru di Xian, Nanjing, Xining, Yunnan, Guangdong, Fujian, dan kota-kota lainnya.

Saat Kaisar Hongwu berkuasa, Nanjing yang kala itu dijadikan sebagai Ibu Kota Kekaisaran Cina dibanjiri oleh Muslim Hui yang berimigrasi dari berbagai penjuru wilayah Cina. Muslim Cina saat itu memiliki posisi yang penting dalam struktur pemerintahan, bidang perdagangan, pendidikan, bahkan kemiliteran. Kaisar Hongwu mengangkat lebih dari 10 jenderal dari kalangan Muslim, di antaranya adalah Chang Yuchun, Lan Yu, Mu Ying, Feng Sheng, Hu Dahai, Ding Dexing, Hala Bashi, dan Zheng He (Laksamana Cheng Ho).

Selain itu, Kaisar Hongwu sempat menulis sebuah puisi yang terdiri dari seratus kata. Puisi ini berisi sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW, Islam, dan Allah. Pada awalnya, puisi ini hanya terukir pada sebuah monumen batu di halaman Masjid Jing Jue di Nanjing saja. Namun kini, puisi ini dapat ditemukan di berbagai masjid di Cina, tak ketinggalan Masjid Dongguan yang didirikan oleh Sang Kaisar. Berikut adalah puisi tersebut:

Seratus Kata Sanjungan

Semenjak penciptaan alam semesta
Surga telah menunjuk
Sang Pengajar Iman Agung

Dari Barat Dia lahir
Untuk menerima Kitab Suci

Dengan tiga puluh bagian kitab
Menuntun semua makhluk hidup

Raja dari segala Raja
Pemimpin para orang suci

Dengan dukungan dari langit
Melindungi bangsanya

Dengan lima ibadah tiap hari
Dalam hening mengharap kedamaian

Dengan hati tertuju pada Allah
Membantu yang tidak mampu
Menyelamatkan mereka dari malapetaka

Melihat yang tidak terlihat
Menarik sekalian jiwa dan batin
Jauh dari perbuatan dosa

Belas kasih pada dunia
Menulusuri jalan masa lalu yang terkarunia
Membasmi kejahatan untuk selamanya

Agama murni dan sejati
Muhammad,
Yang Mulia dan Agung

Posted by: schariev | September 25, 2011

Masjid Raya Dongguan, Konsep Arsitektur Tradisional Cina

Pagi itu, puluhan ribu Muslim dari berbagai penjuru kota Xining bergegas menuju sebuah masjid raya yang berada di kawasan timur kota. Walaupun masjid ini berpredikat sebagai salah satu tempat ibadah termegah di wilayah Barat Laut Cina, Masjid Raya Dongguan tetap tidak bisa menampung seluruh jamaah yang hendak beribadah. Akibatnya, jamaah yang datang lebih siang harus rela beribadah di luar kompleks masjid. Barisan saf pun bisa berderet hingga ratusan meter dari pagar kompleks masjid dan memenuhi seluruh badan jalan di sekitarnya. Hal semacam ini selalu terjadi sekurangnya dua kali dalam setahun di Masjid Dongguan, yaitu ketika pelaksanaan shalat Idulfitri dan Iduladha.

Masjid Raya Dongguan terletak di Kota Xining, Provinsi Qinghai, Republik Rakyat Cina. Dinamai Dongguan, sebab masjid ini berada di Jalan Dongguan. Pemerintah Cina memang mewajibkan semua bangunan fasilitas umum dinamai sesuai dengan nama jalan atau kawasannya dan melarang menamainya dengan bahasa asing, tak terkecuali tempat ibadah.

Penduduk Xining berjumlah lebih dari 2,1 juta jiwa. Sekitar 17 persen atau 330 ribu di antaranya beragama Islam. Mayoritas Muslim berasal dari suku Hui, Salar, Baoan, Dongxiang, dan Tibet. Masjid Dongguan adalah yang terbesar di antara 239 masjid lainnya di Xining. Selain menjadi pusat peribadatan Muslim, masjid ini juga berperan sebagai salah satu pusat pendidikan Islam paling terkemuka di kota Xining dan Cina bagian barat.

Menurut prasasti yang terdapat di lingkungan masjid, sejatinya masjid yeng terletak di Dataran Tinggi Tibet ini pertama kali dibangun tatkala Kaisar Hongwu memerintah Dinasti Ming (1368 – 1398). Selama enam abad setelahnya, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Kompleks masjid yang berdiri hingga saat ini adalah hasil rekonstruksi pada tahun 1914, perluasan pada tahun 1946, renovasi pada tahun 1979, dan penambahan sejumlah fasilitas pada tahun 1998. Kini, Masjid Dongguan memiliki lahan seluas 13.602 meter persegi.

Rekonstruksi besar-besaran pada tahun 1914 tidak serta-merta mengganti gaya bangunan lama Masjid Dongguan dengan ragam arsitektur lain. Pembangunan kembali aula shalat utama, madrasah, dan gerbang tengah masjid tetap mempertahankan ciri khas masjid yang dibangun pada jaman Dinasti Ming.

Dinasti Ming terkenal dengan kebijakannya yang membuat Cina cenderung mengisolasi diri dari dunia luar. Berbagai pengaruh kebudayaan dari luar Cina diputus oleh dinasti yang dipimpin oleh etnis Han tersebut. Etnis Han, sebagai suku terbesar di Cina, seakan-akan menggali jati dirinya kembali setelah dipimpin oleh etnis minoritas Mongol dari Dinasti Yuan. Saat Dinasti Ming berkuasa, seolah-olah semua hal harus berbau etnis Han.

Begitu pun dengan Muslim Hui yang sejatinya keturunan campuran dari bangsa Arab, Persia, dan Han. Kala itu, suku Hui ikut berpakaian, berbahasa, berbudaya, dan mengadopsi nama seperti etnis Han. Mereka juga mendalami ajaran Konfusius tanpa meninggalkan ajaran Islam. Dalam bidang rancang bangun, Muslim Hui mengadopsi konsep dan seni arsitektur bangsa Han. Alhasil, mayoritas masjid yang dibangun di bawah kekuasan dinasti Ming memiliki corak khas Cina seperti kuil dan istana bangsa Han.

Konsep Siheyuan

Semasa Dinasti Ming, bangunan masjid didirikan dengan konsep siheyuan. Tata letak bangunan yang jamak terlihat pada hunian tempat tinggal, istana, dan kuil bangsa Han ini terdiri dari rangkaian bangunan yang mengelilingi sebuah ruang terbuka.

Pada dasarnya, konsep siheyuan pada bangunan masjid serupa dengan penerapannya pada kuil Budha. Perbedaannya hanya terdapat pada arah hadap bangunannya. Kuil Budha memiliki poros bangunan yang mengarah dari selatan ke utara, sedangkan bangunan masjid berporos dari timur ke barat, sesuai dengan arah kiblat.

Masjid berkonsep siheyuan menempatkan sebuah ruang terbuka tepat di tengah kompleks bangunan. Di sekelilingnya terdapat; aula shalat utama yang didirikan di sebelah barat; bangunan pendukung seperti madrasah, tempat wudu, dan ruang pertemuan di sisi utara dan selatan; serta gerbang utama dan menara tempat pengamatan hilal di sebelah timur. Hingga sekarang, konsep ini masih dilestarikan oleh Muslim Hui, salah satunya pada Masjid Dongguan.

Terletak di bagian muka kompleks Masjid Dongguan, sebuah bangunan moderen berlantai tiga yang memiliki sepasang menara dan sebuah kubah berwarna hijau berdiri dengan tinggi dan megah. Orang yang pertama kali mengunjungi masjid ini mungkin akan langsung menyangka bangunan yang didominasi warna putih dan hijau tersebut adalah bangunan utama masjidnya. Padahal, bangunan yang didirikan pada tahun 1998 ini hanyalah gerbang kompleks Masjid Dongguan yang juga berfungsi sebagai tempat shalat tambahan.

Di dalam bangunan berlantai 3 dan berdenah mirip huruf U ini juga terdapat ruang-ruang kelas, kantor administrasi, toko, ruang resepsi, asrama, kantin, dan fasilitas lainnya. Di balik bangunan moderen ini terdapat kompleks Masjid Dongguan yang didominasi bangunan berarsitektur Cina tradisional. Setelah menembus gerbang masjid tadi, jamaah akan dihadapkan pada sebuah gerbang lagi bernama “Lima Gerbang Tengah”. Gerbang ini memiliki sebuah lengkungan besar di bagian tengahnya dan diapit empat buah lengkungan berukuran lebih kecil pada sisi kiri dan kanannya. Kelima lengkungan gerbang ini kemudian diapit oleh dua buah menara bergaya khas Cina bernama Menara Bangke. Sepasang menara kembar berlantai tiga ini digunakan sebagai tempat pengamatan hilal.

Di balik gerbang tersebut terdapat sebuah lapangan seluas 5.000 meter persegi. Tiga buah bangunan berarsitektur Cina tradisional mengelilingi lapangan ini. Di sisi sebelah barat terdapat aula shalat utama, sedangkan dua buah bangunan panjang yang berada di utara dan selatan lapangan ini merupakan bangunan berisi fasilitas pendukung.

Di bangunan sebelah utara lapangan terdapat ruang resepsi, perpustakaan, ruang pertemuan, dan ruangan lainnya, sedangkan pada bangunan yang berada di sebelah selatan lapangan terdapat ruang kelas dan ruang guru. Kedua bangunan kembar berlantai dua ini sebagian besar dindingnya terbuat dari kayu bercat jingga dan atapnya berupa genting khas Cina.

Bagian utama masjid, yaitu aula utama shalat yang mampu menampung 1.500 jamaah berada di sebelah barat lapangan. Bangunan berarsitektur gabungan antara Cina dan Tibet ini bernama “Burung Phoenix Mambentangkan Satu Sayap”. Dinamai demikian karena apabila dilihat dari samping, atap bangunan ini berbentuk seperti burung phoenix yang sedang membentangkan satu sayap dan menekuk sayap yang lainnya. Pada bagian atapnya diberi hiasan berwarna emas seperti yang terdapat pada kuil-kuil Budha di Tibet.

Bangunan utama ini berada di elevasi yang lebih tinggi daripada lapangan maupun gerbang depan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan konsep feng shui pada bangunan tempat ibadah yang mengharuskan ruang ibadah utama memiliki elevasi yang lebih tinggi dari bangunan pendukung lainnya. Konsepnya, semakin ke belakang, semakin sakral lokasinya. Karenanya, di Masjid Dongguan, jamaah harus menaiki sejumlah anak tangga ketika akan memasuki gerbang utama, gerbang tengah, dan ruang shalat utama.

Aula shalat utama Masjid Dongguan terdiri atas tiga bagian, yaitu serambi, ruang shalat tengah, dan ruang mihrab. Pada bagian muka serambi, sela antara kedelapan tiangnya ditutupi oleh kaca-kaca lebar, menahan udara dingin Kota Xining masuk ke dalam. Pilar-pilar berwarna jingga yang terdapat pada serambi masjid memiliki dougong (rangkaian ornamen penyangga atap yang terbuat dari ukiran kayu berbentuk stalaktit) berwarna biru khas Tibet. Di ruangan serambi yang didominasi warna jingga ini terdapat hiasan dinding berupa 9 panel relief ukiran batu yang menggambarkan Sumeru atau sebuah gunung dalam mitologi Cina. Ukiran batu pada dinding, tangga, gerbang, dan monumen seperti ini adalah salah satu identitas khas masjid bangsa Hui.

Ruang shalat tengah merupakan bagian terbesar dari masjid ini. Sama seperti serambi, ruangan ini memiliki denah memanjang. Interiornya pun didominasi pilar-pilar berwarna jingga dan dinding berwarna putih. Sejumlah kaligrafi Cina dan Arab, balok-balok kayu, serta dougong berwarna jingga pun mengiasi dinding atas dan langit-langit ruangan ini. Mimbar masjid berornamen khas Cina pun berada di ruangan ini.

Bagian paling belakang dari masjid ini adalah ruang mihrab. Ruangan yang memuat mihrab atau tempat imam memimpin shalat ini masih bisa menampung puluhan jamaah dalam 7 buah saf. Sebagian besar masjid yang didirikan oleh bangsa Hui memiliki ruang mihrab yang dijadikan sebagai bagian tersuci dari sebuah masjid. Saking sakralnya, walaupun muat untuk puluhan orang, beberapa masjid bangsa Hui bahkan hanya memperuntukkan ruangan mihrab ini sebagai tempat shalat imam saja.

Posted by: schariev | September 25, 2011

Jami’ah Al-Qarawiyyin, Universitas Tertua di Dunia

Pada masa kejayaan Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, namun juga sebagai pusat aktivitas ilmiah. Semenjak kelahiran peradaban Islam, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya telah menggunakan masjid sebagai tempat pengkajian Al-Quran. Kegiatan intelektual ini kian berlanjut setelah Rasulullah wafat, bahkan terus menyebar ke seluruh kawasan yang telah dikuasai kaum Muslim.

Hal yang sama terjadi di Maroko, tepatnya di Fes. Di kota ini terdapat Masjid Qarawiyyin yang berdiri pada tahun 859 M. Laiknya kebanyakan masjid pada saat itu, masjid yang sering disebut Jami’ah Al-Qarawiyyin ini menjadi pusat pendidikan komunitas Muslim setempat. Kajian ilmiah di masjid ini bahkan setara dengan tingkat perguruan tinggi. Karenanya, pada tahun 1998, The Guinness Book of Record mencatat Jami’ah Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia yang hingga saat ini masih beroperasi dan terus memberikan gelar kesarjanaan kepada lulusannya.

Walaupun memiliki predikat sebagai universitas tertua, Jami’ah Al-Qarawiyyin bukanlah universitas pertama di dunia. Ensiklopedi Encarta menyematkan gelar perguruan tinggi pertama pada Akademi yang didirikan oleh Plato tahun 387 SM di Yunani. Menyusul setelahnya Lyceum di Athena, Universitas Alexandria di Mesir, Universitas Konstantinopel di Turki, dan Universitas Nalanda di India.

Seiring berjalanannya waktu dan pergantian kekuasaan, universitas-universitas tersebut sudah sejak lama tidak beroperasi lagi. Hal inilah yang menjadikan Jami’ah Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia dengan umur hampir mencapai 12 abad. Universitas ini lebih tua dari Universitas Al-Azhar di Kairo yang mulai beroperasi pada abad ke-10, bahkan jauh lebih tua dari berbagai universitas pelopor di Eropa seperti Universitas Bologna, Universitas Paris, dan Universitas Oxford yang baru beroperasi antara abad ke-11 dan abad ke-12.

Pendiri Jami’ah Al-Qarawiyyin adalah Fatimah Al-Fihri (? – 880 M), seorang muslimah terpelajar sekaligus putri pengusaha kaya. Keluarga Al-Fihri adalah imigran dari Kota Qairawan, Tunisia yang kemudian menetap di Fes bersama ribuan imigran lainnya. Sepeninggalan ayahnya, Fatimah menghabiskan seluruh harta warisannya untuk mendanai pembangunan masjid yang nantinya akan menjadi pusat ibadah dan pendidikan bagi penduduk Fes.

Arsitektur Moor

Struktur bangunan Masjid Qarawiyyin mengikuti bentuk masjid tradisional bangsa Arab yang pada umumnya terbagi atas dua bagian, yaitu mughatta (aula shalat beratap) dan sahn (halaman terbuka). Pada Masjid Qarawiyyin, bagian mughatta merupakan bangunan hypostyle yang terbentuk dari deretan aisle (barisan tiang yang membentuk sebuah lorong), sedangkan sahn Masjid Qarawiyyin berupa halaman terbuka yang dikelilingi oleh riwaq atau portico (lorong berpilar dan beratap).

Masjid Qarawiyyin yang ada pada saat ini merupakan hasil rekonstruksi dan ekspansi yang dilakukan berkali-kali oleh sejumlah penguasa Muslim. Pada awalnya, Fatimah Al-Fihri membangun masjid ini dengan struktur yang hampir sama dengan Masjid Qairawan di Tunisia. Kala itu, aula masjid atau mughatta hanya terdiri dari empat saf aisle sepanjang 30 meter, sedangkan di sebelah barat aula tersebut dibangun sebuah sahn dan menara.

Menyikapi pertambahan populasi penduduk Fes dan pelajar di Masjid Qarawiyyin, pada 956 M, Pemimpin Zenata merombak dan memperluas masjid. Khalifah Umayyah dari Kordoba, Abdurrahman III (889 – 961), menyumbangkan dana dengan jumlah yang sangat besar untuk membiayai proyek tersebut. Perluasan pertama dilakukan dengan menambah 14 deret aisle di sebelah barat dan timur aula masjid, memindahkan sahn ke bagian yang lebih barat, dan memindahkan menara ke riwaq sebelah utara.

Pada tahun 1135, Pemimpin Al-Murabitun, Ali bin Yusuf (? – 1143), menambahkan tiga deret aisle pada sisi barat masjid. Dalam perluasan kali ini, dibuat juga sebuah nave (aisle pusat) yang memotong kesepuluh deret aisle pada aula utama. Nave ini menghubungkan pintu utama aula dengan mihrab masjid. Perancang nave Masjid Qarawiyyin adalah dua orang arsitek asal Andalusia yang juga merancang nave Masjid Tlemcen di Aljazair.

Ali bin Yusuf memerintahkan arsiteknya untuk membuat sebuah mihrab baru di bagian tengah dinding kiblat. Mihrab masjid ini memiliki corak Kordoba dengan lengkungan tapal kuda dan ornamen khas ijmiz-nya. Serupa dengan mihrab Masjid Kordoba di Spanyol, ijmiz atau ornamen penghias mihrab Masjid Qarawiyyin dihiasi motif floral, geometri, dan kaligrafi kufi khas Andalusia. Sejumlah mimbar kayu untuk keperluan khutbah dan kuliah pun didatangkan langsung dari Kordoba.

Satu lagi perangkat masjid yang didatangkan dari Andalusia adalah lampu gantung (chandelier) pemberian Pemimpin Dinasti Almohad pada 1203. Lampu ini dibuat dari hasil peleburan sebuah lonceng perunggu raksasa yang diambil ketika Pasukan Almohad memenangi peperangan di Gibraltar. Hal-hal tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara kawasan Spanyol (Andalusia) dan Maroko (Maghribi) yang kala itu sama-sama berada di bawah pemerintahan Islam.

Pada abad ke-16, Sultan Dinasti Sa’adi, Abdallah bin Al-Shaikh, turut mempercantik Masjid Qarawiyyin. Beliau membangun dua buah paviliun kembar dan sebuah air mancur (mathara) sebagai tempat berwudu di halaman masjid. Semua lantai halamannya dilapisi zilij (rangkaian ubin khas Maghribi). Banyak ahli yang berpendapat bahwa halaman Masjid Qarawiyyin merupakan representasi dari “Court of The Lions” di Istana Alhambra, Spanyol.

Masjid Qarawiyyin memiliki menara yang sangat khas dengan denah berbentuk bujur sangkar. Berfungsi sebagai tempat adzan dan observatorium astronomi, menara bercat putih ini berdiri menjulang di tengah kota Fes. Walaupun bentuknya sederhana, menara ini adalah cikal bakal menara bergaya Maghribi dan Andalusia yang dibangun setelahnya. Di atas menara terdapat ruangan bernama Darul Muwaqqit yang di dalamnya terdapat jam air Al-Lajai. Jam air tersebut dipakai untuk menghitung waktu shalat. Selain itu, masjid ini pun dilengkapi dengan jam matahari dan jam pasir.

Secara keseluruhan, masjid yang dapat menampung sekitar 22.700 jamaah ini dapat dikategorikan ke dalam bangunan berarsitektur moor. Jenis arsitektur ini adalah perpaduan antara seni Islam Afrika Utara dengan gaya Visigoth dari Semenanjung Iberia. Karakteristik gaya moor yang terdapat pada Masjid Qarawiyyin dapat dilihat dari muqarnas khas Maghribi dan Andalusia bernama mocarabe yang terdapat pada gerbang dan dinding masjid, hiasan pelaster bercorak geometri dan floral pada dinding dan langit-langit, aula hypostyle, penggunaan ubin keramik zilij, bentuk mihrab dan mimbar yang khas, penggunaan mashrabiyya atau maqsura (sekat pemisah dari kayu), serta penggunaan lengkungan tapal kuda, cuping, runcing, dan lambrequin.

Pusat Pengetahuan dan Kebudayaan Islam di Belahan Bumi Barat

Jami’ah Al-Qarawiyyin memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan budaya dan sejarah keilmuan dunia Islam. Sebagai masjid tertua di kawasan Maghribi, Jami’ah Al-Qarawiyyin telah sejak lama menjadi pusat ibadah serta pendidikan bagi masyarakat setempat. Tidak hanya itu, Qarawiyyin pun menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai negeri.

Pada awalnya aktivitas ilmiah yang ada di masjid ini hanya membahas tentang ilmu tafsir, fiqih, dan hadis. Namun, seketika muncul beberapa kajian lain seperti linguistik, sastra, filsafat, politik, matematika, astronomi, ekonomi, seni rupa, dan musik. Pada abad ke-10, sebelum universitas tertua di Eropa lahir, ilmu kedokteran dan farmasi sudah diajarkan di Jami’ah Al-Qarawiyyin. Menyusul setelahnya kajian sosiologi, geografi, sejarah, arsitektur, teknik, psikologi, dan berbagai cabang ilmu alam lainnya. Dengan tetap mengikuti aturan pihak universitas, pelajar di Qarawiyyin diberikan kebebasan untuk mengambil studi apapun yang diminatinya. Dengan demikian, lahirlah sarjana-sarjana polymath yang menguasai lebih dari satu bidang ilmu.

Praktek kuliah di Masjid Qarawiyyin menggunakan sistem halaqah. Dalam sistem ini, pengajar dan pelajar duduk melingkar di lantai masjid. Pelajar pria dan wanita kuliah dalam tempat terpisah. Mimbar-mimbar masjid sering digunakan pengajar dan ilmuwan tamu untuk memberikan materi pada saat seminar atau kuliah dengan jumlah peserta yang banyak. Terdapat puluhan halaqah yang menyebar di berbagai sudut Masjid Qarawiyyin, sesuai dengan mata kuliah dan jadwalnya. Universitas Qarawiyyin pun sering mengirimkan sejumlah ilmuwannya untuk mentransfer ilmu pengetahuan ke berbagai universitas di dunia, seperti Universitas Bologna, Universitas Sankore, Universitas Al-Azhar, dan Universitas Granada.

Ketika jumlah pelajar di Universitas Qarawiyyin kian bertambah, pihak universitas akhirnya melakukan seleksi yang sangat ketat dalam menerima mahasiswa baru. Calon mahasiswa harus menguasai Al-Quran, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu umum dari madrasah tingkat dasar. Selain itu, untuk mengatasi kepadatan ruang, beberapa halaqah dipindahkan ke sejumlah madrasah di sekitar masjid, seperti Madrasah Mesbahia, Madrasah Attarin, Madrasah Seffarin, Madrasah Fes El Jedid, dan Madrasah Bou Inania.

Aktivitas ilmiah di universitas tertua ini tidak dapat terlepas dari peran Perpustakaan Qarawiyyin yang berada di sebelah timur masjid. Bahan-bahan kuliah selalu diambil dari perpustakaan ini. Tidak hanya digunakan oleh pihak universitas saja, berbagai madrasah di sekitar Masjid Qarawiyyin pun ikut mempergunakan perpustakaan tersebut. Hingga kini, Perpustakaan Qarawiyyin merupakan salah satu yang terbesar di antara tiga puluhan perpustakaan yang ada di Kota Tua Fes.

Universitas Qarawiyyin telah melahirkan sejumlah ilmuwan Muslim yang telah memberikan kontribusi besar pada dunia pengetahuan, di antaranya adalah; ahli geografi dan pembuat peta, Muhammad Al-Idrisi (1099 – 1166); penjelajah, penulis, serta ahli hadis, Ibnu Rashid Al-Sabti (1259 – 1321); geografer, Al-Wazzan Al Fasi atau Leo Africanus (1494 – 1554); ahli teologi dan filsafat, Ibnu Al-Arabi (1076 – 1184); sastrawan, sejarawan, ahli filsafat, dan dokter, Ibnu Al-Khatib (1313 – 11374); astronom, Al-Bitruji atau Alpetragius (? – 1204); dan ahli sejarah, ekonomi, teologi, matematika, filsafat, hukum, astronomi, militer, kesehatan, dan sosiologi, Ibnu Khaldun (1332 – 1406).

ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization) dalam tulisannya yang bertajuk “Fes: Capital of Islamic Culture” mengemukakan, sejumlah ilmuwan besar Muslim asal Andalusia sempat mengajar di Qarawiyyin, di antaranya; ahli astronomi, fisika, psikologi, musik, botani, dan kedokteran, Ibnu Bajjah atau Avempace (1095 – 1138); ahli ilmu kedokteran dan farmasi, Ibnu Zuhr atau Avenzoar (1091 – 1161); dan ahli filsafat, teologi, psikologi, politik, musik, kedokteran, astronomi, geografi, fisika, matematika, dan teknik, Ibnu Rushid atau Averroes (1126 – 1198).

Jami’ah Al-Qarawiyyin yang menjelma menjadi sebuah universitas yang paling terkemuka di abad pertengahan membuatnya tidak hanya diminati oleh para pelajar Muslim, namun juga oleh pelajar non-Muslim. Ahli filsafat dan agama Yahudi ternama, Rabbi Moshe ben Maimon (1135 – 1204) yang dijuluki oleh para penganut Yahudi sebagai “Nabi Musa kedua” adalah lulusan Universitas Qarawiyyin. Nicolas Cleynaerts (1495 – 1542) dan Jacob Golius (1596 – 1667) tercatat pernah belajar tata bahasa Arab di universitas ini. Golius bahkan telah menerjemahkan buku astronomi karya Al-Farghani dan buku kedokteran karya Ibnu Baklarech lalu mempublikasikannya ke Eropa. Gerbert ‘d Aurillac (946 – 1003) yang kemudian menjadi Paus Sylverster II belajar matematika dan astronomi di Qarawiyyin. Beliaulah mempekenalkan sistem numeral Arab ke Eropa.

Kini, Universitas Qarawiyyin dibagi menjadi sejumlah fakultas yang tersebar di empat kota besar, di antaranya Fes, Agadir, Tetouan, dan Marrakech. Jami’ah Al-Qarawiyyin yang telah beroperasi sejak 12 abad lalu hingga sekarang tidak pernah lelah menjadi pusat ilmu bagi para pelajar dari berbagai negeri.

Older Posts »

Categories