Posted by: schariev | January 28, 2009

Arsitektur Usmani

Masjid Sultan Ahmad di Istanbul

Masjid Sultan Ahmad di Istanbul

Terinspirasi dari arsitektur Kristen Bizantium, kaum muslim di kawasan Turki dan sekitarnya mengadopsi gaya ini untuk membuat bangunan masjid, pasar, madrasah, istana, sampai penginapan. Di bawah kekaisaran Usmaniah gaya arsitektur ini berkembang dengan pesat hingga saat ini. Sejarahnya ketika kaum muslim berhasil menaklukan kota Konstantinopel, mereka terpukau dengan kebesaran gereja Hagia Sophia dan gereja yang terbesar pada saatnya itu pun beserta beberapa gereja lainnya kemudian dijadikan masjid. Sebagian orang menganggap kejadian ini untuk membalas kaum kristen yang menjadikan masjid di Kordoba dan Sevilla menjadi Gereja.

Setelah sekian lama kaum muslim melaksanakan ibadah di bekas gereja-gereja tersebut, munculah keinginan untuk membuat masjid yang baru. Dipelopori oleh Sultan Ahmad, kaum muslim mendirikan sebuah masjid besar yang terletak tidak jauh dari Hagia Sophia. Sultan Ahmad ingin membuat masjid sebagai tandingan dari Hagia Sophia. Kemudian masjid ini sering disebut sebagai The Blue Mosque atau masjid biru. Karena memang hampir semua bangunannya terbuat dari marmer biru Torquise. Inilah sejarah dari pembentukan nama negara Turki yang berarti biru Torquise. Arsitek yang paling terkenal pada masa itu adalah Mimar Sinan yang telah merancang puluhan masjid di Turki. Karya terakhirnya adalah masjid Kocatepe di Edirne yang memiliki tingkat kesimetrisan yang tinggi. Dengan teknologi jaman itu, ia bisa membuat suara khatib bisa terdengar ke seluruh ruangan masjid yang sangat luas tanpa memerlukan pengeras suara.

Berbeda dengan arsitektur bizantium, arsitektur Usmaniah sangat memerhatikan kesimetrisan dan menggunakan tiang tiang yang lebih ramping dalam jumlah banyak untuk menopang bangunannya. Menara masjid yang memiliki beberapa balkon dengan atap yang meruncing menjadi ikon keturkiannya. Ukiran staglimit yang menjadi ciri khas arsitektur islam seperti pada arsitektur Persia, Mamluk dan Maghribi menjadi hal yang dominan pada gaya Usmaniah ini. Walaupun begitu, bangsa Turki tidak bisa begitu saja meninggalkan arsitektur bizantium, mereka hingga sekarang tetap menggunakan kubah yang berbentuk seperti serabi terbalik untuk atap bangunannya dan kaca patri berwarna untuk jendelanya. Arsitektur usmaniah dapat dijumpai di negara Turki dan bekas jajahannya seperti Bulgaria, Albania, Bosnia, Macedonia dan negara lainnya seperti pada masjid-masjid di Jerman, Austria dan Jepang sebagai tanda bahwa muslim yang berasal dari Turki tinggal di negara tersebut.


Responses

  1. umm..i think..your articel is very rasism..thanks a lot..plis very objective with choosen a word carefully.thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: