Posted by: schariev | May 29, 2010

Islamic Cultural Center New York

Sentuhan Modern pada Gaya Arsitektur Turki Usmani

Masyarakat New York memanggil masjid ini dengan berbagai sebutan, mulai dari “Manhattan Mosque”, “New York Mosque”, sampai “96th Street Mosque”. Semua nama tersebut didasarkan pada lokasi masjid yang memang beralamat di 96th Street, sektor Manhattan, kota New York, Amerika Serikat. Adapun nama resmi dari masjid yang sekaligus berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam ini adalah Islamic Cultural Center New York.

Rencana pembangunan masjid sebenarnya sudah ada sejak tahun 1966, tetapi dibutuhkan waktu yang lama untuk mengurus masalah pembebasan lahan dan perijinannya. Pembangunan masjid baru dimulai pada tahun 1987. Menurut salah satu artikel dari harian setempat, The New York Times, 46 negara muslim telah menyumbang biaya pembangunan masjid ini hingga mencapai 17 juta dolar dengan dana terbesar yang berasal dari pemerintah Kuwait, Arab Saudi, dan Libya.

Pada awalnya proyek pembangunan masjid yang pertama kali dibangun di kota New York ini dipercayakan kepada Ali Dadras, seorang arsitek keturunan Iran-Amerika, yang memiliki rencana untuk membangun masjid dengan gaya arsitektur tradisional, namun para donatur lebih menginginkan sebuah bangunan masjid yang memiliki gaya arsitektur modern, yaitu sebuah masjid yang dapat menggambarkan kehadiran Islam di akhir abad ke-21. Proyek pembangunan lalu dipercayakan kepada Skidmore, Owings & Merrill (SOM), sebuah perusahaan terpercaya yang telah mengerjakan berbagai proyek pembangunan di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain. Proyek yang telah dikerjakan oleh perusahaan ini diantaranya adalah beberapa bangunan di kota Jeddah, yaitu Terminal Haji, National Commercial Bank, dan Universitas King Abdul Aziz.

Mengenai gaya arsitekturnya, para donatur menginginkan sebuah masjid dengan arsitektur modern, tetapi mereka juga tetap menginginkan kehadiran nuansa kebudayaan Islam pada bangunan masjidnya. Menanggapi permintaan mereka, SOM kemudian membuat rancangan masjid dengan cara mengadopsi gaya arsitektur Turki Usmani abad 18-19 dan menggabungkannya dengan gaya arsitektur modern. Gaya arsitektur Turki Usmani abad 18-19 memiliki ciri khas pada bangunan masjidnya yang tinggi dilengkapi dengan kubah tunggal, jendela-jendela besar, dan menara, seperti pada masjid Ortakoy dan Nur Osmaniye di Istanbul, Turki.

Pembangunan menara masjid dipercayakan kepada perusahaan Swanke Hayden Connell Architects of New York, sedangkan perancang menaranya adalah Alton Gursel, seorang arsitek keturunan Turki-Amerika. Menara yang ada sekarang ini merupakan pilihan terbaik di antara sembilan rancangan yang telah dibuatnya. Desain menara dibangun mengikuti gaya bangunan masjidnya dengan perbandingan tinggi masjid dan tinggi menara 1:1,5.

Penggabungan antara unsur kebudayaan Islam yang kaya akan nilai sejarah dan desain modern yang sederhana dalam pembangunan masjid ini menghasilkan sebuah karya yang dapat mempresentasikan kehadiran Islam yang berperadaban tinggi dan sederhana di tengah kota New York. Sejak pembukaannya pada tahun 1991, Islamic Cultural Center New York telah menjadi salah satu landmark di kota itu.

Keindahan Islam dalam Wajah Modern

Bangunan utama dari masjid berkubah ini terdiri atas tiga lantai. Pada lantai terbawah terdapat ruang shalat yang sering digunakan untuk shalat lima waktu. Pada bagian ini kehadiran dekorasi bergaya Islam tradisional terasa cukup kental. Mihrab bertuliskan kaligrafi bahasa Arab dengan hiasan geometri dan corak tumbuhan berada di bagian terdepan ruangan sebagai tanda arah kiblat dan tempat shalat imam. Dinding ruangan dihiasi juga oleh hiasan geometri khas masjid-masjid di Timur Tengah. Karpet berwarna merah dengan desain tradisional terhampar menutupi seluruh ruang shalat. Tempat shalat wanita berada di bagian belakang ruangan ini. Selain tempat shalat, di lantai dasar juga terdapat ruang kelas, perpustakaan, kantor, toko buku dan toko makanan.

Dari lantai dasar, tangga mengantar para jamaah terlebih dahulu ke tempat wudhu sebelum memasuki ruang shalat kedua di lantai berikutnya. Masjid ini memang memiliki dua buah ruang shalat. Pada saat pelaksanaan shalat Jumat, ruangan di lantai kedua ini dijadikan sebagai ruang shalat utama, ruang shalat di lantai dasar kemudian dipasang media audio visual, sehingga jamaah yang berada di lantai dasar bisa menyaksikan khutbah Jumat dari khatib yang berada di lantai kedua.

Ruang shalat di lantai kedua ini memiliki gaya interior yang berbeda dengan ruang shalat di lantai dasar. Ruangan yang sebenarnya adalah ruang shalat utama masjid ini memiliki gaya interior modern. Walaupun demikian, sentuhan Islami masih terlihat di beberapa bagian ruangan. Di dalam ruangan ini kita bisa melihat interior kubah yang memiliki desain geometris sederhana tanpa hiasan yang rumit kecuali kaligrafi huruf Arab di sekeliling sisi dan pusat kubahnya. Apabila kebanyakan ruang shalat di masjid berarsitektur tradisional menggantungkan lampu besar dari pusat kubah, di masjid ini terdapat 99 buah lampu kecil yang menggantung secara melingkar dari sisi kubahnya. Setiap lampu bertuliskan kaligrafi huruf Arab dari 99 nama Allah.

Pada siang hari, cahaya masuk ke dalam ruang shalat utama menembus jendela-jendela besar bercorak geometri yang berada di bagian atas dinding masjid. Dengan demikian para jamaah bagaikan bermandikan cahaya pada saat melakukan shalat di ruangan ini. Sistim pencahayaan ini diadopsi dari gaya arsitektur Turki Usmani yang selalu menambahkan jendela-jendela besar pada bangunan masjidnya sehingga seluruh bagian dalam masjid menjadi terang. Interior ruang shalat ini terkesan sangat sederhana, jauh dari kesan masjid tradisional yang penuh dengan dekorasi rumit. Mihrab yang terdapat di ruangan ini memiliki desain yang modern, begitu juga dengan mimbar dan karpetnya, berbeda dengan yang terdapat di ruang shalat lantai dasar. Pencahayaan yang baik dan warna dinding yang lembut membuat jamaah yang berada di ruangan ini menjadi sangat nyaman.

Lantai ketiga dari bangunan masjid adalah balkon yang menyatu dengan ruang shalat utama. Tempat ini biasanya dipakai oleh jamaah wanita.

Selain sebagai tempat shalat, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat digelarnya berbagai kegiatan rutin seperti kelas pembelajaran Islam untuk umat muslim pada hari Sabtu dan Minggu, kelas khusus untuk pengunjung nonmuslim dan mualaf pada hari Sabtu, sekolah musim panas, dan dialog antaragama. Pada saat shalat Jumat, masjid ini mampu menampung lebih dari 2000 jamaah.

Keberadaan Islamic Cultural Center New York menjadi ikon keberadaan umat Islam di kota itu. Letak masjid yang berada di salah satu kawasan paling bergengsi dan desain masjidnya yang elegan mencerminkan profil keberagaman muslim yang tinggal di New York. Masjid ini adalah tempat shalat umat muslim dari berbagai bangsa dan negara dengan profesi yang beragam, baik para pekerja, mahasiswa, tenaga profesional, pemilik perusahaan besar, entertainer,  sampai dengan para diplomat dan orang-orang penting dari berbagai negara di dunia yang menetap atau sedang singgah di kota New York.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: