Posted by: schariev | July 14, 2010

Masjid Muslim Kobe Jepang Gaya Turki Tradisional di Negeri Samurai

Oleh Syarif Abdussalam

Masjid ini menjadi salah satu tempat yang selamat dari gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) di Kota Kobe.

Orang Jepang memanggil masjid yang terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe, ini dengan sebutan Kobe-kaikyo-jiin atau Kobe-mosuku. Sedangkan nama aslinya adalah Masjid Muslim Kobe. Masjid ini merupakan masjid tertua di Jepang. Sampai sekarang, Masjid kebanggaan Muslim Jepang ini tetap kokoh berdiri dan dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Islam sekaligus tempat kegiatan keagamaan Muslim Kobe.

Berada di salah satu kawasan paling terkenal di Kobe, dengan dua buah menara kembar dan kubah besarnya, masjid ini berdiri kokoh dan anggun di antara bangunan-bangunan berarsitektur Eropa lainnya. Sejarah pendirian masjid ini tidak dapat terlepas dari kedatangan para pedagang Muslim yang berasal dari wilayah India dan Timur Tengah ke Kota Kobe seabad lalu.

Jumlah para pedagang Muslim yang tinggal di Kobe pada awal 1900-an masih terbilang sedikit. Mereka biasa melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan di rumah-rumah atau aula hotel. Pada 1920-an jumlah komunitas Muslim di Kobe kian meningkat.

Selain jumlah kedatangan para pedagang beserta keluarganya dari India dan Timur Tengah yang terus meningkat, hal ini disebabkan juga oleh kedatangan Muslim Tartar yang berasal dari Rusia dan Asia Tengah. Mereka datang ke Kota Kobe untuk menghindari Revolusi Bolshevik pada saat Perang Dunia I. Tekanan dari rezim komunis memaksa Muslim Tartar keluar dari negara asalnya.

Banyaknya jumlah komunitas Muslim Kobe pada saat itu, membuat mereka harus segera memutuskan untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pada 1928 dibentuklah Komite Muslim Kobe. Para pedagang dari India dan Timur Tengah yang sering bepergian keluar-masuk Jepang terus meminta donasi dari para pedagang lainnya untuk biaya pembangunan Masjid. Enam tahun kemudian akhirnya komite ini mengumpulkan dana sebesar 118.774,73 yen.

Sumbangan terbesar diberikan oleh perusahaan-perusahaan dari India, Konsulat Mesir, Konsulat Afghanistan, serta sumbangan dari Asosiasi Muslim Tartar-Turki. Pada Jumat, 30 November 1934, pembangunan masjid dimulai. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mr Muhammad Bochia selaku penanggung jawab pembangunan masjid.

Turki tradisional

Beberapa sumber menyebutkan bahwa perancang Masjid Muslim Kobe adalah seorang arsitek asal Ceko bernama Jan Josef Svagr yang telah merancang banyak bangunan bergaya Barat di Jepang. Svagr merancang masjid ini dengan gaya Turki tradisional.

Struktur bangunan yang tinggi dan kubah utamanya yang besar merupakan gaya khas Turki tradisional, tetapi bentuk jendelanya yang meruncing akan mengingatkan kita pada bentuk jendela yang terdapat di masjid-masjid bergaya India atau Persia. Dua buah menara kembar yang mengapit pintu utama masjid dan kubah utama tunggal akan mengingatkan kita pada Masjid Sunitskaia di Vladikavkaz, Rusia.

Pengerjaan bangunan masjid dipercayakan kepada perusahaan konstruksi asal Jepang Takenaka dan diawasi oleh Mr Vallynoor Mohamed. Biaya yang terpakai untuk pembangunan masjid, sekolah, dan bangunan lainnya mencapai 87.302,25 yen. Sisa dari biaya pembangunan digunakan untuk investasi. Mereka membeli properti berupa beberapa bangunan di Yamato-dori, Ijinkan, dan Kitano-cho.

Setelah permohonan izin penggunaan masjid disetujui oleh Kekaisaran Jepang, pada Jumat, 2 Agustus 1935 Masjid Muslim Kobe diresmikan oleh Mr Ferozuddin dan dihadiri oleh umat Muslim dari berbagai negara seperti India, Rusia, Asia Tengah, Cina, Jepang, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Afghanistan, dan Mesir.

Setelah memberikan pidato pembukaan, Mr Ferozuddin kemudian membuka pintu masjid dengan menggunakan kunci perak dan naik ke puncak menara untuk mengumandangkan azan. Azan itu merupakan seruan pelaksanaan shalat Jumat yang akan dilaksanakan pertama kalinya di masjid baru itu. Shalat Jumat kemudian dipimpin oleh Mohamed Shamguni, Imam pertama Masjid Muslim Kobe.

Selain sebagai tempat pelaksanaan shalat dan pembelajaran Islam, banyak kegiatan keagamaan lainnya dilakukan di masjid ini. Pada bulan Ramadlan contohnya, acara berbuka puasa bersama (ifthar jama’i) dan beberapa perayaan selalu dilakukan di basement masjid.

Berbagai jenis makanan dan minuman dari berbagai negeri selalu dihidangkan sebagai menu berbuka puasa. Seluruh bagian masjid selalu penuh oleh jamaah ketika shalat tarawih dilaksanakan. Begitu juga dengan pelaksanaan shalat Id. Masjid Muslim Kobe selalu menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Islam yang tinggal Kobe pada saat itu.

Diambil alih angkatan laut

Kedamaian beribadah yang dinikmati oleh umat Muslim Kobe tidak berlangsung lama. Pada 1939, Perang Dunia II dimulai. Para pedagang India yang tinggal di Kobe, dievakuasi kembali ke negaranya. Begitu juga dengan Muslim Tartar dan yang lainnya. Mereka menyelamatkan diri ke luar dari Jepang. Akibat evakuasi besar-besaran ini, hanya sedikit umat Islam yang bertahan di Kobe. Dengan kondisi yang serba tak menentu, dan sedikitnya umat Islam yang beribadah di masjid, akibatnya, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mengambil alih masjid itu.

Pada 1943 mereka menjadikannya sebagai tempat penyimpanan senjata dan persembunyian tentara. Akibatnya, umat Muslim yang tersisa di Kobe tidak bisa beribadah di masjid tersebut.

Tragedi Pearl Harbour membuat Jepang semakin terpojok. Amerika kemudian mengebom berbagai kota di Jepang. Setelah Amerika mengebom Tokyo dan Yokohama, gempuran itu kian mendekati Kobe.

Akhirnya pada 17 Maret 1945 pesawat pengebom B-29 meluluhlantakkan hampir seluruh bangunan di Kobe dan menewaskan 8.841 jiwa. Setelah itu Kobe kembali dihujani serangan bom sebanyak enam kali sampai tanggal 30 Juli 1945. Akibat serangan-serangan ini sebagian besar kota Kobe menjadi hancur lebur.

Ketika bangunan di sekitarnya hampir rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak hitam karena asap serangan bom. Tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari ancaman bom, begitu juga dengan senjata-senjata yang disembunyikannya. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Setelah perang berakhir, pada 1947, umat Muslim Tartar, India, dan lainnya berangsur kembali ke Kota Kobe. Masjid Muslim Kobe dikembalikan oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kepada komunitas Muslim. Renovasi besar-besaran kemudian dilakukan pada masjid yang diselamatkan Allah SWT dari bencana perang ini.

Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini.

Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Muslim Kobe.

Krisis keuangan sering menghampiri kas komite masjid. Pajak bangunan yang tinggi membuat komite masjid harus mengeluarkan cukup banyak biaya dari kasnya. Beruntung, banyak donatur yang siap memberikan uluran tangannya untuk menyelesaikan masalah keuangan pembangunan dan renovasi masjid ini. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Muslim Kobe menjadi semakin berkembang.

Pada 1992 Masjid Muslim Kobe memiliki fasilitas Pusat Islam berupa bangunan kelas, ruang resepsi, perpustakaan, kantor, dan bangunan apartemen. ed: syahruddin e


Saksi Sejarah Gempa 7,3 SR di Kobe

Tanggal 17 Januari 1995 di Kobe, pagi hari itu jam menunjukkan pukul 05.46.46. Sebuah bencana kembali menimpa kota terbesar keenam di Jepang ini. Gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) mengguncang Kobe selama 20 detik.

Gempa bumi ini menimbulkan korban jiwa sebanyak 4.600 orang, sekitar 35 ribu orang luka-luka, lebih dari 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 180 ribu unit bangunan rusak berat.

Kota Kobe saat itu kembali hancur berantakan, akan tetapi Masjid Muslim Kobe tetap berdiri kokoh di antara puing-puing bangunan di sekitarnya. Kuil Ikuta yang merupakan kuil paling bersejarah di Kobe rusak berat. Begitu juga dengan sebuah gereja yang terletak berdekatan dengan masjid.

Pemandangan luar biasa ini menjadikan Masjid Muslim Kobe sebagai sorotan penting dalam pemberitaan di media massa. Pada saat itu masjid ini menjadi tempat penyelamatan para korban gempa dan juga sekali lagi kembali menjadi tempat pengungsian.

Masjid Muslim Kobe kini tetap berdiri kokoh. Basement masjid tetap digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan. Lantai pertama masjid digunakan untuk ruang shalat pria, sedangkan lantai kedua dipakai untuk jamaah wanita. Lantai ketiga sering dipakai untuk kegiatan keagamaan lainnya dan juga sering dijadikan sebagai ruang shalat tambahan.

Di samping masjid terdapat sebuah bangunan Pusat Islam dan lapangan parkir luas yang juga sering dipakai sebagai tempat shalat tambahan pada waktu shalat Jumat atau shalat Ied. Di sekitar masjid terdapat beberapa toko dan restoran yang menjual makanan halal.

Seperti masjid lainnya, siapa pun dipersilakan untuk datang ke masjid ini, hanya saja pengunjung harus berpakaian sopan, tidak mengeluarkan suara keras ketika berada di dalam masjid, dan menjaga anak-anak supaya tidak berlarian.

Pada hari Sabtu dan Ahad, masjid ini menyelenggarakan kelas pembelajaran Islam bagi anak-anak, wanita, dan pria. Masjid ini juga melayani acara pernikahan, pemakaman, konferensi, dan bimbingan haji.

Sejak 75 tahun yang lalu sampai saat ini, Masjid Muslim Kobe tetap menjadi salah satu ikon terpenting yang mencerminkan sejarah dan keberadaan umat Islam di Jepang. syarif abdussalam ed: syahruddin e


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: