Posted by: schariev | December 11, 2010

Masjid Penzberg

Bangunan Bergaya Kontemporer Islami di Kaki Pegunungan Alpen

Ihr Menschen! Wir haben euch aus Mann und Frau erschaffen und haben euch zu Völkern und Stämmen werden lassen, damit ihr euch kennenlernt…” (Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal). Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Jerman dari salah satu ayat dalam Al Quran, yaitu potongan surat Al Hujuraat ayat13. Ayat tersebut tertulis pada salah satu sisi gerbang sebuah masjid yang beralamat di Bichlerstrasse 15, Penzberg, Bayern, Jerman. Makna dari ayat ini adalah penjelasan mengenai keberagaman manusia dan anjuran untuk saling berinteraksi. Ayat inilah yang dijadikan sebagai dasar pembangunan sekaligus jiwa masjid tersebut.

Penzberg adalah sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 16.000 jiwa yang berada di bagian selatan Jerman, yaitu di kaki Pegunungan Alpen. Muslim Penzberg merupakan minoritas di kota ini, hanya berjumlah sekitar 1.000 jiwa. Penzberg adalah sebuah kota multikultur, tempat tinggal sekitar 70 suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Begitu pun dengan komunitas Muslimnya, berasal dari berbagai negara Islam seperti Albania, Turki, dan Bosnia.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Islamische Gemeinde Penzberg e.V atau Jamaah Islam Penzberg, sebuah organisasi Islam multietnis, netral, dan terbuka yang didirikan sejak tahun 1994. Sebelum memiliki masjid seperti sekarang, Muslim Penzberg dulunya biasa melakukan shalat di sebuah bangunan tua bekas kandang sapi. Baru pada September 2005 setelah masjid yang diberi nama Forum Islam ini diresmikan, Muslim Penzberg bisa beribadah dengan sangat nyaman di masjid barunya. Biaya pembangunan masjid yang mencapai 3 juta Euro ditanggung oleh Sultan bin Muhammad Al Qassimi, seorang Emir dari Uni Emirat Arab.

Perancang Forum Islam atau Masjid Penzberg adalah Alen Jasarevic, seorang arsitek Muslim keturunan Bosnia. Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid lainnya di Jerman yang menggunakan gaya arsitektur Turki Usmani, Jasarevic merancang masjid ini dengan gaya kontemporer. Ketika masjid-masjid lainnya dilengkapi kubah dan menara, Masjid Penzberg lebih memilih untuk tidak memiliki kedua ornamen tradisional masjid tersebut. Sebuah masjid memang tidak diwajibkan untuk memiliki menara dan kubah, yang penting adalah sebuah tempat yang layak dan nyaman untuk melaksanakan ibadah dan menjalin silaturahmi.

Jasarevic berpendapat bahwa masjid dengan gaya kontemporer dinilai dapat lebih diterima di Eropa daripada gaya arsitektur lainnya. Selain inovatif, hal ini sejalan dengan harapan Muslim Penzberg, yaitu menginginkan sebuah masjid yang dapat diterima masyarakat sekitarnya tanpa menimbulkan protes dan juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk berinteraksi antara sesama Muslim ataupun dengan warga lainnya. Setelah masjid ini diresmikan, harapan Muslim Penzberg menjadi kenyataan. Tercatat semenjak hari peresmiannya, masjid ini telah dikunjungi puluhan ribu pengunjung, baik Muslim ataupun nonmuslim. Komunitas Muslim Penzberg memiliki hubungan yang sangat baik dengan warga lainnya yang beragama Kristen dan Yahudi.

Menurut Jasarevic, ilmu arsitektur selama berabad-abad telah memberikan kontribusinya pada kelancaran pendakwahan dan pencitraan Islam di berbagai negeri. Pembangunan sebuah masjid selalu mengikuti kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitarnya. Contohnya adalah Masjid Raya Xian di Cina yang dibangun dengan gaya arsitektur Dinasti Ming. Penyesuaian arsitektur bangunan masjid dilakukan sebagai salah satu langkah untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosialnya sehingga Islam bisa diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Langkah inilah yang dilakukan oleh Muslim Penzberg untuk memulai komunikasi yang baik dengan warga lainnya.

 

Arsitektur kontemporer Islami

Masjid Penzberg adalah sebuah bangunan bergaya kontemporer dengan sentuhan kekayaan seni Islami.  Bangunan yang dinding eksteriornya didominasi oleh corak batu bata berwarna pasir pantai ini memiliki denah berbentuk huruf L. Masjid Penzberg memiliki sebuah menara yang unik berupa susunan tiga buah kubus setinggi 13 meter. Menara ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, melainkan rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi bahasa Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu adzan. Dengan begitu, seruan shalat tidak hanya disampaikan 5 kali sehari, tetapi 24 jam sehari tanpa mengganggu para tetangga. Berdiri dengan sederhana dan elegan di dekat pusat kota, gaya arsitektur Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya yang memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan kayu berukir, Masjid Penzberg memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan metal polos. Di atas pintu terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg. Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir setara dengan tinggi bangunan. Pada balok beton sebelah kiri tertulis terjemahan bahasa Jerman dari surat Al Fatihah dan surat Al Hujurat ayat 13, sedangkan pada lembar balok beton sebelah kanan tertulis ayat-ayat Al Quran tersebut dalam bentuk kaligrafi bahasa Arab. Dengan demikian, kedua lembar balok beton ini terlihat seperti sebuah Al Quran terjemahan bahasa Jerman berukuran besar yang sedang terbuka, menyambut siapa pun yang hendak datang ke masjid ini untuk beribadah atau sekedar berkunjung dan mempelajari ajaran Islam.

Apabila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke ruang shalat utama, pintu utama Masjid Penzberg mengantarkan kita pada sebuah koridor, mirip dengan kebanyakan rumah di Jerman yang menggunakan koridor (Flur) untuk menghubungkan pintu-pintu ruangannya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua, sedangkan di sebelah kanan terdapat pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan parkir dan taman.

Di dalam bangunan yang memiliki 3 lantai dan sebuah basement ini selain terdapat ruang shalat, juga terdapat sebuah perpustakaan multimedia dengan koleksi berjumlah lebih dari 6000 buah. Bangunan masjid ini juga memiliki aula, ruang administrasi, dan beberapa ruang kelas. Di bagian luar masjid terdapat taman, teras, dan tempat parkir. Keseluruhan bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi.

Walaupun memilih gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini. Hiasan arabes berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari beberapa corak hiasan yang tedapat di Masjid Kordoba, Spanyol. Langit-langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang membentuk bintang-bintang. Keseluruhan mihrab masjid dibentuk oleh rangkaian kaligrafi yang terbuat dari bahan metal berwarna emas. Untuk tempat berkhutbah, sebuah mimbar tinggi berukir corak geometri berdiri di sebelah depan kanan ruangan shalat.

Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40.000 Euro. Panel-panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air.

Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Selain itu, pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah kanan dan kiri ruang shalat. Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela ini dan menghasilkan cahaya berwarna kebiruan.

Pada malam hari pemandangan masjid akan menjadi lebih indah, khususnya pada bagian eksterior. Seluruh dinding luar masjid disinari oleh lampu sorot, memperjelas efek visual dari corak batu bata pada permukaan dindingnya. Jendela-jendela masjid yang berukuran besar memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan, menegaskan corak geometri berbentuk bintang dan motif bintik-bintik biru pada setiap jendelanya. Tidak ketinggalan, menara masjid ikut menghiasi pemandangan malam kota yang berada di kaki Pegunungan Alpen ini. Cahaya dari dalam menara memancar dan menembus celah-celah ukiran kaligrafinya. Karya besar Jasarevic ini sekarang menjadi salah satu ikon Kota Penzberg.

 

Transparansi untuk integrasi

Hampir 60 persen bangunan Masjid Penzberg ditutupi oleh kaca jendela. Dari luar, kita bisa dengan mudah melihat kegiatan yang sedang berlangsung di ruang shalat, ruang kelas, atau perpustakaan. Gaya kontemporer yang lebih terbuka ini merupakan sebuah cara untuk mempresentasikan identitas sekaligus keinginan Muslim Penzberg untuk bisa berintegrasi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Kondisi bangunan seperti ini akan membuat semua lapisan masyarakat tidak enggan untuk mengunjungi Masjid Penzberg. Fungsi masjid sebagai wadah komunikasi memang dinilai sangat penting di tengah Kota Penzberg yang memiliki penduduk multietnis dan terbuka ini.

Selain sebagai tempat beribadah bagi umat Muslim, Masjid Penzberg juga menggelar berbagai kegiatan pelayanan rutin yang ditujukan untuk semua masyarakat Penzberg, di antaranya adalah kelas pembelajaran Islam, konsultasi agama dan sosial, kursus bahasa, seminar, diskusi antaragama dan antarkultur, konferensi, open house, kelompok bermain anak, dan bimbingan belajar. Semua kegiatan ini membuat Masjid Penzberg tidak pernah sepi.

 

Salah satu bangunan terbaik di Bayern

Pada waktu perencanaan dan proses pembangunannya, masjid ini sempat menuai keresahan dari masyarakat sekitar. Mereka khawatir dengan kehadiran sebuah bangunan asing yang akan mereka lihat setiap hari. Maklum saja, kebanyakan orang Jerman berpikir kalau sebuah masjid pastilah berdiri dengan kubah dan menara khas Turki yang asing bagi mereka. Masjid masih dianggap sebagai sebuah tempat beribadah orang-orang yang tidak ingin berbaur dengan masyarakat lain. Pemikiran ini akhirnya terpatahkan sejalan dengan hadirnya sebuah masjid dengan gaya yang lebih bersahabat dan membaur serta aktivitas-aktivitas masjid yang selalu berusaha merangkul warga sekitarnya.

Kekhawatiran masyarakat Penzberg pun akhirnya berubah menjadi sebuah kebanggaan ketika masjid ini memenangkan penghargaan Wessobrunner Architekturpreis, sebuah penghargaan yang diberikan 5 tahun sekali untuk karya arsitektur terbaik di seluruh Negara Bagian Bayern. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, Masjid Penzberg berhasil mengalahkan puluhan bangunan yang menjadi pesaingnya.

Walikota Penzberg Hans Mummert yang hadir pada acara penyerahan penghargaan menyatakan bahwa penghargaan ini adalah sebuah kehormatan bagi Kota Penzberg. Benjamin Idriz, Imam Masjid Penzberg, kemudian mengungkapkan bahwa inilah pertama kalinya sebuah masjid di Jerman memenangkan penghargaan arsitektur. Masjid Penzberg diakui karena arsitekturnya yang luar biasa, sama halnya dengan aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan yang diselenggarakan di dalamnya. Alen Jasarevic pun berharap Masjid Penzberg bisa menjadi inspirasi bagi Muslim lainnya di Jerman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: