Posted by: schariev | February 8, 2011

Masjid Ahmad Kadyrov Arsitektur Turki Usmani di Pegunungan Kaukasus

Masjid Ahmad Kadyrov terletak di Grozny, Ibu Kota Republik Chechnya. Berada di Pegunungan Kaukasus belahan utara, Republik Chechnya masih merupakan bagian dari Federasi Rusia. Masjid Ahmad Kadyrov adalah salah satu masjid terbesar di Rusia dan juga Eropa. Dalam sekali waktu, masjid yang didirikan di atas lahan seluas 14 hektar ini dapat mengakomodasi lebih dari 10.000 jamaah. Nama masjidnya sendiri diambil dari nama Presiden Chechnya terdahulu, yaitu Ahmad Kadyrov yang tewas terbunuh pada tahun 2004. Beliau merupakan ayah dari Ramzan Kadyrov, Presiden Chechnya saat ini.

Masjid Ahmad Kadyrov dikelilingi oleh beberapa fasilitas penunjang seperti perpustakaan, taman, gedung konferensi, pusat administrasi, gedung mufti, madrasah, asrama, dan universitas Islam. Pembangunan kompleks masjid yang menghabiskan dana sebesar 20 juta US Dollar ini dibiayai oleh Pemerintah Rusia. Setelah tiga tahun proses pengerjaannya, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan Ramzan Kadyrov selaku Presiden Chechnya meresmikan Masjid Ahmad Kadyrov pada tanggal 17 Oktober 2008, bertepatan dengan hari pertama penyelenggaraan sebuah konferensi internasional bertajuk ‘Islam: Agama Perdamaian’. Konferensi ini bertujuan untuk membahas dan mempromosikan toleransi, kedamaian, kemajuan, serta kebenaran dalam ajaran Islam untuk melawan ekstrimisme dan fanatisme. Perwakilan dari 28 negara, 200 lebih tokoh Islam, dan ribuan umat Muslim menghadiri acara peresmian masjid dan konferensi internasional tersebut.

Gaya Turki Usmani

Mengikuti tradisi bangunan masjid bergaya Turki Usmani, Masjid Ahmad Kadyrov memiliki ruang shalat yang terdiri dari dua lantai, yaitu lantai pertama sebagai ruang shalat utama dan balkon yang mengelilinginya di lantai kedua sebagai ruang shalat tambahan atau tempat shalat bagi jamaah wanita. Masjid ini juga memiliki sebuah basement yang dapat diakses dari selasar masjid.

Secara garis besar, Masjid Ahmad Kadyrov memiliki bentuk yang sama dengan Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, Turki. Kedua bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur Turki Usmani klasik. Kemiripan yang paling mencolok pada kedua masjid dapat dilihat di antaranya dari susunan kubah terpusat yang menjadi atapnya. Susunan kubah ini terdiri dari sebuah kubah utama yang menaungi pusat bangunan, empat buah half-dome (kubah terpotong) besar yang menempel pada keempat sisi penampang kubah utama, delapan buah half-dome berukuran lebih kecil yang menempel pada keempat penampang half-dome besar, dan empat buah kubah kecil yang diletakkan di keempat pojok bangunan masjid. Dengan demikian, serangkaian kubah terpusat dan empat buah kubah kecil tersebut dengan sempurna menaungi ruang shalat utama Masjid Ahmad Kadyrov yang memiliki denah berbentuk persegi. Selain itu, 19 kubah kecil lainnya berderet di sisi kanan, kiri, dan muka masjid. Kubah-kubah berukuran kecil ini secara langsung menaungi balkon masjid di lantai kedua dan bagian aisle (lorong pengapit aula utama) yang berada di bawah balkon. Bentuk susunan  kubah yang memiliki denah seperti semanggi berdaun empat ini merupakan pengembangan dari susunan kubah terpusat yang digunakan oleh bangsa Bizantium dalam membangun Hagia Sophia di Konstantinopel (Istanbul).

Pada ruang shalat utama terdapat sebuah mihrab dengan gaya khas Usmani. Kekhasan ini terletak pada ceruk mihrabnya yang dihiasi maqarnas (ornamen berbentuk stalaktit) dan bagian atasnya yang dimahkotai oleh ukiran arabes. Di sebelah kanan dan kiri mihrab diletakkan dua buah lampu hias sebagai pengganti dua buah lilin besar yang biasanya mengapit mihrab masjid bergaya Usmani. Di sebelah kanan mihrab terdapat sebuah mimbar bertangga yang sangat tinggi. Dengan ketinggian terebut, khatib yang berkhutbah di atas mimbar ini bisa terlihat oleh para jamaah yang berada di lantai kedua. Selain itu, di sebelah kiri mihrab diletakkan juga sebuah mimbar atau podium yang jauh lebih pendek. Di sisi kanan ruang shalat utama terdapat sebuah mahfil sebagai tempat mengumandangkan adzan. Mihrab, mahfil, dan kedua mimbar tersebut terbuat dari marmer putih yang dihiasi ornamen kaligrafi berwarna kemasan, muqarnas, serta ukiran arabes berupa corak tumbuhan dan garis-garis geometri. Seluruh lantai pada ruang shalat ditutupi karpet berwarna hijau dengan corak sederhana berupa garis-garis shaf.

Masjid Ahmad Kadyrov memiliki jendela-jendela yang tersusun dalam beberapa tingkatan. Lantai dasar ruang shalat utama memiliki jendela-jendela berukuran besar. Jendela-jendela inilah yang menjadi sumber utama pencahayaan interior masjid. Balkon pada lantai kedua dapat dikatakan kurang mendapat pencahayaan. Hal ini disebabkan oleh minimnya jumlah jendela yang terdapat di lantai kedua. Pada dinding bagian atas (clerestory) dan penampang kubah terdapat deretan jendela dengan kaca patri berwarna-warni.

Sebagai sumber cahaya pendukung interior masjid, sebuah lampu kristal berukuran besar digantungkan pada pusat kubah utama. Beberapa lampu gantung kristal lainnya yang berukuran lebih kecil tersebar di seluruh bagian interior masjid, menggantung pada pusat-pusat kubah yang lebih kecil. Uniknya, pada bagian tengah lampu gantung yang paling besar terdapat sebuah replika Ka’bah berwarna hitam, sedangkan pada lampu gantung yang berukuran lebih kecil terdapat replika kubah hijau Masjid Nabawi dan replika kubah emas Masjid Qubbat As-Sakhra di Yerusalem. Jumlah keseluruhan lampu kristal yang menerangi Masjid Ahmad Kadyrov adalah 36 buah.

Pemandangan interior masjid kian diperindah oleh hiasan-hiasan kaligrafi berwarna emas yang tersebar pada dinding-dinding masjid. Pemandangan yang lebih spektakuler terdapat pada langit-langitnya. Seluruh bagian interior kubah-kubah masjid dihiasi oleh hiasan berupa rangkaian garis-garis geometri dan lukisan bercorak tumbuhan. Kaligrafi berwarna emas bertuliskan ayat-ayat Alquran, lafadz Allah, nama Muhammad dan nama beberapa sahabatnya turut menghiasi pusat-pusat kubah dan puncak pilar masjid. Semua karya seni Islam bercita rasa tinggi ini diterangi oleh cahaya lembut dari jendela-jendela berwarna dan lampu-lampu kristal yang memancarkan sinar keemasan.

Seluruh lengkungan antarpilar yang terdapat pada bagian interior dan eksterior masjid Ahmad Kadyrov terdiri dari voussoir (balok-balok pembentuk lengkungan) berwarna merah dan putih yang disusun secara berselingan. Sistem pengaturan warna seperti ini disebut dengan istilah ablaq yang sering digunakan pada bangunan berarsitektur Moor, Mamluk, dan Usmani. Ablaq merupakan salah satu komponen khas dalam arsitektur Islam selain muqarnas dan arabes.

Masjid Ahmad Kadyrov memiliki empat buah menara setinggi 60 meter yang berada di keempat sudut bangunan masjid. Sama persis dengan bentuk menara Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, keempat menara ini masing-masing memiliki tiga buah balkon dan atap menara berbentuk kerucut. Keempat menara ini dapat terlihat dari berbagai pelosok kota Grozny.

Pada sisi kanan, kiri, dan muka masjid terdapat portico (teras berpilar) yang beratapkan kubah-kubah kecil. Masjid ini memiliki halaman depan berupa ruang terbuka berbentuk persegi yang juga dikelilingi oleh portico pada keempat sisinya. Format seperti ini merupakan ciri khas halaman masjid bergaya Turki Usmani. Hanya saja dalam hal ini, halaman Masjid Ahmad Kadyrov memiliki beberapa perbedaan dengan masjid-masjid bergaya Usmani lainnya. Portico pada halaman Masjid Ahmad Kadyrov tidak memiliki dinding pada sisi terluarnya, sehingga memberikan kesan yang lebih terbuka dan transparan. Tempat wudu (sardivan) tidak diletakan di tengah-tengah halaman seperti biasanya, melainkan diletakkan pada barisan portico terdepan, yaitu tempat yang biasanya digunakan sebagai gerbang utama masjid bergaya Usmani.

Masjid Ahmad Kadyrov dikelilingi oleh halaman luas berupa taman-taman yang tertata rapi dan tiga buah air mancur besar. Eksterior masjid akan terlihat lebih indah ketika sinar matahari senja dipantulkan oleh dinding-dinding masjid yang terbuat dari marmer travertin dan marmer putih dari Pulau Marmara. Pada malam hari, seluruh taman dan jalan menuju masjid diterangi oleh lampu-lampu. Beberapa air mancur bahkan disoroti lampu yang memberikan cahaya berwarna-warni pada setiap pancaran airnya. Pemandangan yang sangat indah ini berada di tempat yang dahulunya porak-poranda akibat peperangan. Maka, tidaklah berlebihan jika warga Chechnya memanggil Masjid Ahmad Kadyrov dengan sebutan “Jantung Chechnya”.

Kembali Berbenah Diri

Republik Chechnya adalah sebuah kawasan di selatan Rusia yang berpenduduk sekitar 1,27 juta jiwa. Lebih dari 90 persen di antaranya beragama Islam. Sebagian besar Muslim Chechnya memeluk ajaran Islam Sunni. Selain itu, ada juga pengikut Tarikat Naqshbandiyah dan Qadiriyah.

Jika dibandingkan dengan wilayah berpenduduk mayoritas Islam lainnya di Rusia, kedatangan Islam ke tanah Chechnya dapat dikatakan mengalami keterlambatan. Islam pertama kali datang ke Rusia pada abad ke-10, khususnya di kawasan Dagestan, Volga Bulgaria (Bashkortostan), dan Tatarstan. Bangsa Dagestan, Bashkir, dan Tatar merupakan para pemeluk Islam pertama di wilayah Rusia. Bangsa Chechnya sendiri baru memeluk Islam antara abad ke-16 sampai abad ke-19 setelah meninggalkan agama terdahulunya, Animisme. Sejak saat itu, Islam menjadi identitas bangsa Chechnya.

Kawasan Chechnya pernah tercabik akibat peperangan antara pejuang Chechnya dengan pasukan Rusia yang terjadi pada tahun 1994-1996 dan tahun 1999-2000. Peperangan tersebut dipusatkan di Kota Grozny. Karenanya, kota ini pun hancur berantakan. Sesuai dengan namanya, Grozny yang berarti kacau-balau.

Setelah peperangan usai, Republik Chechnya mulai berbenah diri. Renovasi besar-besaran pun dilakukan di Kota Grozny, salah satunya adalah dengan membangun sebuah masjid besar yang sejak lama didambakan oleh masyarakat Chechnya. Maklum, pada masa rezim Soviet, pembangunan masjid adalah hal yang terlarang. Bahkan pada saat itu banyak masjid yang ditutup, dialihfungsikan menjadi gudang, dirusak, bahkan dihancurkan.

Hingga sekarang, Pemerintah Chechnya terus membangun sarana dan prasarana di Ibu Kotanya ini. Puluhan ribu apartemen dan tempat tinggal yang hancur akibat perang dibangun kembali. Demikian juga dengan sarana pendidikan, kesehatan, ekonomi, transportasi, dan sarana-sarana lainnya. Bahkan kini, di sekitar Masjid Ahmad Kadyrov mulai terlihat konstruksi-konstruksi gedung pencakar langit. Kehadiran Masjid Ahmad Kadyrov di pusat kota Grozny membawa angin segar dan semangat baru bagi bangsa Chechnya untuk kembali membangun tanah airnya.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: