Posted by: schariev | September 25, 2011

Masjid Raya Dongguan, Konsep Arsitektur Tradisional Cina

Pagi itu, puluhan ribu Muslim dari berbagai penjuru kota Xining bergegas menuju sebuah masjid raya yang berada di kawasan timur kota. Walaupun masjid ini berpredikat sebagai salah satu tempat ibadah termegah di wilayah Barat Laut Cina, Masjid Raya Dongguan tetap tidak bisa menampung seluruh jamaah yang hendak beribadah. Akibatnya, jamaah yang datang lebih siang harus rela beribadah di luar kompleks masjid. Barisan saf pun bisa berderet hingga ratusan meter dari pagar kompleks masjid dan memenuhi seluruh badan jalan di sekitarnya. Hal semacam ini selalu terjadi sekurangnya dua kali dalam setahun di Masjid Dongguan, yaitu ketika pelaksanaan shalat Idulfitri dan Iduladha.

Masjid Raya Dongguan terletak di Kota Xining, Provinsi Qinghai, Republik Rakyat Cina. Dinamai Dongguan, sebab masjid ini berada di Jalan Dongguan. Pemerintah Cina memang mewajibkan semua bangunan fasilitas umum dinamai sesuai dengan nama jalan atau kawasannya dan melarang menamainya dengan bahasa asing, tak terkecuali tempat ibadah.

Penduduk Xining berjumlah lebih dari 2,1 juta jiwa. Sekitar 17 persen atau 330 ribu di antaranya beragama Islam. Mayoritas Muslim berasal dari suku Hui, Salar, Baoan, Dongxiang, dan Tibet. Masjid Dongguan adalah yang terbesar di antara 239 masjid lainnya di Xining. Selain menjadi pusat peribadatan Muslim, masjid ini juga berperan sebagai salah satu pusat pendidikan Islam paling terkemuka di kota Xining dan Cina bagian barat.

Menurut prasasti yang terdapat di lingkungan masjid, sejatinya masjid yeng terletak di Dataran Tinggi Tibet ini pertama kali dibangun tatkala Kaisar Hongwu memerintah Dinasti Ming (1368 – 1398). Selama enam abad setelahnya, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Kompleks masjid yang berdiri hingga saat ini adalah hasil rekonstruksi pada tahun 1914, perluasan pada tahun 1946, renovasi pada tahun 1979, dan penambahan sejumlah fasilitas pada tahun 1998. Kini, Masjid Dongguan memiliki lahan seluas 13.602 meter persegi.

Rekonstruksi besar-besaran pada tahun 1914 tidak serta-merta mengganti gaya bangunan lama Masjid Dongguan dengan ragam arsitektur lain. Pembangunan kembali aula shalat utama, madrasah, dan gerbang tengah masjid tetap mempertahankan ciri khas masjid yang dibangun pada jaman Dinasti Ming.

Dinasti Ming terkenal dengan kebijakannya yang membuat Cina cenderung mengisolasi diri dari dunia luar. Berbagai pengaruh kebudayaan dari luar Cina diputus oleh dinasti yang dipimpin oleh etnis Han tersebut. Etnis Han, sebagai suku terbesar di Cina, seakan-akan menggali jati dirinya kembali setelah dipimpin oleh etnis minoritas Mongol dari Dinasti Yuan. Saat Dinasti Ming berkuasa, seolah-olah semua hal harus berbau etnis Han.

Begitu pun dengan Muslim Hui yang sejatinya keturunan campuran dari bangsa Arab, Persia, dan Han. Kala itu, suku Hui ikut berpakaian, berbahasa, berbudaya, dan mengadopsi nama seperti etnis Han. Mereka juga mendalami ajaran Konfusius tanpa meninggalkan ajaran Islam. Dalam bidang rancang bangun, Muslim Hui mengadopsi konsep dan seni arsitektur bangsa Han. Alhasil, mayoritas masjid yang dibangun di bawah kekuasan dinasti Ming memiliki corak khas Cina seperti kuil dan istana bangsa Han.

Konsep Siheyuan

Semasa Dinasti Ming, bangunan masjid didirikan dengan konsep siheyuan. Tata letak bangunan yang jamak terlihat pada hunian tempat tinggal, istana, dan kuil bangsa Han ini terdiri dari rangkaian bangunan yang mengelilingi sebuah ruang terbuka.

Pada dasarnya, konsep siheyuan pada bangunan masjid serupa dengan penerapannya pada kuil Budha. Perbedaannya hanya terdapat pada arah hadap bangunannya. Kuil Budha memiliki poros bangunan yang mengarah dari selatan ke utara, sedangkan bangunan masjid berporos dari timur ke barat, sesuai dengan arah kiblat.

Masjid berkonsep siheyuan menempatkan sebuah ruang terbuka tepat di tengah kompleks bangunan. Di sekelilingnya terdapat; aula shalat utama yang didirikan di sebelah barat; bangunan pendukung seperti madrasah, tempat wudu, dan ruang pertemuan di sisi utara dan selatan; serta gerbang utama dan menara tempat pengamatan hilal di sebelah timur. Hingga sekarang, konsep ini masih dilestarikan oleh Muslim Hui, salah satunya pada Masjid Dongguan.

Terletak di bagian muka kompleks Masjid Dongguan, sebuah bangunan moderen berlantai tiga yang memiliki sepasang menara dan sebuah kubah berwarna hijau berdiri dengan tinggi dan megah. Orang yang pertama kali mengunjungi masjid ini mungkin akan langsung menyangka bangunan yang didominasi warna putih dan hijau tersebut adalah bangunan utama masjidnya. Padahal, bangunan yang didirikan pada tahun 1998 ini hanyalah gerbang kompleks Masjid Dongguan yang juga berfungsi sebagai tempat shalat tambahan.

Di dalam bangunan berlantai 3 dan berdenah mirip huruf U ini juga terdapat ruang-ruang kelas, kantor administrasi, toko, ruang resepsi, asrama, kantin, dan fasilitas lainnya. Di balik bangunan moderen ini terdapat kompleks Masjid Dongguan yang didominasi bangunan berarsitektur Cina tradisional. Setelah menembus gerbang masjid tadi, jamaah akan dihadapkan pada sebuah gerbang lagi bernama “Lima Gerbang Tengah”. Gerbang ini memiliki sebuah lengkungan besar di bagian tengahnya dan diapit empat buah lengkungan berukuran lebih kecil pada sisi kiri dan kanannya. Kelima lengkungan gerbang ini kemudian diapit oleh dua buah menara bergaya khas Cina bernama Menara Bangke. Sepasang menara kembar berlantai tiga ini digunakan sebagai tempat pengamatan hilal.

Di balik gerbang tersebut terdapat sebuah lapangan seluas 5.000 meter persegi. Tiga buah bangunan berarsitektur Cina tradisional mengelilingi lapangan ini. Di sisi sebelah barat terdapat aula shalat utama, sedangkan dua buah bangunan panjang yang berada di utara dan selatan lapangan ini merupakan bangunan berisi fasilitas pendukung.

Di bangunan sebelah utara lapangan terdapat ruang resepsi, perpustakaan, ruang pertemuan, dan ruangan lainnya, sedangkan pada bangunan yang berada di sebelah selatan lapangan terdapat ruang kelas dan ruang guru. Kedua bangunan kembar berlantai dua ini sebagian besar dindingnya terbuat dari kayu bercat jingga dan atapnya berupa genting khas Cina.

Bagian utama masjid, yaitu aula utama shalat yang mampu menampung 1.500 jamaah berada di sebelah barat lapangan. Bangunan berarsitektur gabungan antara Cina dan Tibet ini bernama “Burung Phoenix Mambentangkan Satu Sayap”. Dinamai demikian karena apabila dilihat dari samping, atap bangunan ini berbentuk seperti burung phoenix yang sedang membentangkan satu sayap dan menekuk sayap yang lainnya. Pada bagian atapnya diberi hiasan berwarna emas seperti yang terdapat pada kuil-kuil Budha di Tibet.

Bangunan utama ini berada di elevasi yang lebih tinggi daripada lapangan maupun gerbang depan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan konsep feng shui pada bangunan tempat ibadah yang mengharuskan ruang ibadah utama memiliki elevasi yang lebih tinggi dari bangunan pendukung lainnya. Konsepnya, semakin ke belakang, semakin sakral lokasinya. Karenanya, di Masjid Dongguan, jamaah harus menaiki sejumlah anak tangga ketika akan memasuki gerbang utama, gerbang tengah, dan ruang shalat utama.

Aula shalat utama Masjid Dongguan terdiri atas tiga bagian, yaitu serambi, ruang shalat tengah, dan ruang mihrab. Pada bagian muka serambi, sela antara kedelapan tiangnya ditutupi oleh kaca-kaca lebar, menahan udara dingin Kota Xining masuk ke dalam. Pilar-pilar berwarna jingga yang terdapat pada serambi masjid memiliki dougong (rangkaian ornamen penyangga atap yang terbuat dari ukiran kayu berbentuk stalaktit) berwarna biru khas Tibet. Di ruangan serambi yang didominasi warna jingga ini terdapat hiasan dinding berupa 9 panel relief ukiran batu yang menggambarkan Sumeru atau sebuah gunung dalam mitologi Cina. Ukiran batu pada dinding, tangga, gerbang, dan monumen seperti ini adalah salah satu identitas khas masjid bangsa Hui.

Ruang shalat tengah merupakan bagian terbesar dari masjid ini. Sama seperti serambi, ruangan ini memiliki denah memanjang. Interiornya pun didominasi pilar-pilar berwarna jingga dan dinding berwarna putih. Sejumlah kaligrafi Cina dan Arab, balok-balok kayu, serta dougong berwarna jingga pun mengiasi dinding atas dan langit-langit ruangan ini. Mimbar masjid berornamen khas Cina pun berada di ruangan ini.

Bagian paling belakang dari masjid ini adalah ruang mihrab. Ruangan yang memuat mihrab atau tempat imam memimpin shalat ini masih bisa menampung puluhan jamaah dalam 7 buah saf. Sebagian besar masjid yang didirikan oleh bangsa Hui memiliki ruang mihrab yang dijadikan sebagai bagian tersuci dari sebuah masjid. Saking sakralnya, walaupun muat untuk puluhan orang, beberapa masjid bangsa Hui bahkan hanya memperuntukkan ruangan mihrab ini sebagai tempat shalat imam saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: