Posted by: schariev | June 19, 2012

Curug Malela, Niagara dari Tatar Sunda


Butiran air memerciki dan menyeka keringat yang menempel di wajah. Udara segar mengisi paru, mengusir napas berat yang telah mengiringi perjalanan satu kilometer menuruni bukit dengan berjalan kaki. Mata terpaku pada sebuah curug selebar sekitar 60 meter dan setinggi 50 meter.

Telinga kian dimanjakan dengan deru jutaan liter air yang turun dan menghantam bebatuan di tebing dan dasar curug. Sejenak, tubuh terpaku dengan telapak kaki berpijak di atas bebatuan besar, berdecak kagum sambil menyaksikan keagungan dan keindahan Curug Malela.

Di balik dan sela jalur turunnya air curug, terlihat batuan cadas berwarna hitam mengkilap. Curug di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, ini diapit dua bukit yang dipenuhi pepohonan hijau dan deretan tebing. Air yang mengalir dari Curug Malela cukup jernih. Seakan mengajak pengunjung untuk bermain air di sungai dan kolam alami sekitar curug, membenamkan kaki yang lelah, atau berfoto di atas bebatuannya.

Curug Malela merupakan bagian dari aliran Sungai Cidadap yang berhulu di lereng Gunung Kendeng. Sepanjang sepanjang dua kilometer setelah Curug Malela, aliran Sungai Cidadap ini kembali berkelok melewati enam undakan curug yang lebih kecil, mulai dari Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir, dan Curug Pameungpeuk, yang kemudian bermuara di Cisokan.

Warga dan pengunjung kerap menjuluki air terjun di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur ini sebagai Niagara mini. Sebab, bentuk Curug Malela yang tinggi dan melebar mengingatkan mereka terhadap bentuk Air Terjun Niagara yang juga lebar di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.

Jarak dari Kota Bandung ke Curug Malela mencapai sekitar 80 kilometer. Dari Kota Bandung, wisatawan bisa mengambil rute Kota Cimahi-Batujajar-Cililin-Sindangkerta-Gununghalu-Rongga. Selain itu, Curug Malela di Desa Cicadas ini pun bisa ditempuh melalui rute Cipatat-Saguling-Cipongkor-Rongga.

Menuju curug di ujung Kabupaten Bandung Barat ini, jalan beraspal hanya bisa dinikmati sampai kawasan Desa Cibedug, Kecamatan Rongga. Sekitar 10 kilometer selanjutnya, sampai di ujung Jalan Desa Cicadas, hanya terdapat jalan berbatu, berpasir, dan berlumpur. Selain itu, jalan yang sebagian besar belum pernah tersentuh aspal ini memiliki permukaan bergelombang, lebih cocok untuk trek off road.

Jalan Desa Cicadas ini berujung di Kampung Manglid. Kendaraan tidak bisa mencapai lokasi Curug sehingga harus memarkirkannya di lapangan parkir di ujung jalan. Setelah itu, pengunjung harus menelusuri jalan setapak. Sebagian jalan setapak ini sudah dibangun menggunakan beton dan bebatuan sehingga pengunjung bisa dengan nyaman berjalan di atas ratusan anak tangga.

Ratusan meter kemudian, jalan setapak beralas beton ini berujung di kawasan pesawahan. Pengunjung pun harus menyusuri pematang sawah berundak sepanjang puluhan meter. Selanjutnya, jalan setapak berdasar tanah dan bebatuan akan mengantarkan pengunjung sampai Curug Malela. Jalan setapak ini terus menurun dan diteduhi rimbunan berbagai jenis pohon di lereng bukit tersebut.

Belum banyak masyarakat yang mengetahui dan mengunjungi Curug Malela. Entah karena jaraknya yang jauh, infrastruktur jalan menuju curug yang teramat buruk, atau kurangnya promosi. Kebanyakan, informasi mengenai curug ini justru beredar di sejumlah blog milik para penjelajah alam atau pesepeda.

Seorang pengunjung asal Belanda, Myranda Oosthoek (27), mengatakan dia mendapat informasi mengenai Curug Malela dari sebuah blog. Myranda kemudian mengajak tujuh temannya untuk mengunjungi Curug Malela setelah mereka mengunjungi berbagai objek wisata di Ciwidey minggu kemarin.

“Saya tidak tahu kalau jalan menuju ke sini sangat parah. Untung saya ke sini bersama tiga teman dari Rotterdam dan enam teman dari Bandung, jadi tidak takut kalau tersesat. Walaupun berputar dulu ke Bandung dan melewati jalan yang panjang, semua terbayar ketika sampai di Malela,” kata Myranda saat ditemui di lapangan parkir setelah mengunjungi Curug Malela, Senin (28/5).

Menurut Myranda, semua pengunjung hendaknya menyisakan tenaga yang cukup setelah sampai di Curug Malela. Sebab, perjalanan pulang kembali ke lapangan parkir dengan kondisi menanjak sangat melelahkan. “Saya beristirahat sampai tiga kali di perjalanan kembali dari Malela ke lapangan parkir,” kata perempuan yang mengaku telah mendaki Gunung Papandayan ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: