Kesultanan Turki Usmani merupakan sebuah dinasti besar yang berkuasa pada akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-20. Di bawah kepemimpinan Sultan Selim I dan Sultan Suleyman pada abad ke-16, Dinasti Usmani berhasil mencapai puncak kejayaannya. Saat itu, wilayah kedaulatannya membentang dari Aljazair di sebelah barat hingga Azerbaijan di sebelah timur dan Yaman di sebelah selatan sampai Hungaria di sebelah utara. Dengan kata lain, 43 negara dari tiga benua yang ada saat ini pernah dikuasai Dinasti Usmani.

Puncak kejayaan Usmani mengantarkannya pada periode klasik. Pada periode inilah Dinasti Usmani memfasilitasi kesultanannya dengan berbagai sarana pemerintahan dan sarana publik berupa bangunan-bangunan bernilai tinggi. Sampai sekarang, jejak-jejak era keemasan Usmani masih bisa dirasakan melalui karya-karya arsitektur yang tersebar di berbagai penjuru wilayah kedaulatannya, terutama di Turki.

Proyek pembangunan Dinasti Usmani pada era tersebut tidak dapat lepas dari peran seorang jenius bernama Mimar Sinan yang kala itu menjabat sebagai kepala arsitek dan teknik sipil Kesultanan Usmani. Beliau melaksanakan tugasnya pada masa kepemimpinan Sultan Suleyman, Sultan Selim II, dan Sultan Murad III.

Merujuk pada tulisan Sai Mustafa Celebi yang berjudul Tezkiretul Ebniye, semasa hidupnya, Mimar Sinan telah mengepalai pendirian 476 buah bangunan berupa masjid, sekolah, pemandian, istana, jembatan, madrasah, rumah sakit, dan berbagai sarana lainnya. Di antara deretan karyanya tersebut terdapat sebuah bangunan monumental yang diakui oleh Mimar Sinan sendiri sebagai karyanya paling termasyhur, yaitu Masjid Selimiye.

Masjid Selimiye dibangun di Kota Edirne. Menurut catatan Evliya Celebi, seorang penjelajah asal Kesultanan Usmani, dipilihnya Edirne sebagai tempat pembangunan masjid tersebut didasarkan pada mimpi Sultan Selim II. Di dalam mimpinya, Nabi Muhammad saw. memerintah Sang Sultan untuk membangun sebuah masjid besar di Edirne, kota yang menurut mimpi itu dilindungi oleh Nabi Muhammad saw. Alasan lainnya menyatakan bahwa para sultan terdahulu telah mendirikan begitu banyak masjid besar di Turki wilayah timur, sedangkan baru sedikit saja yang berada di wilayah sebelah barat. Padahal, daerah ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya Kota Edirne yang menjadi gerbang penghubung antara daratan Turki dengan Benua Eropa. Oleh karena itu, dipilihnya Edirne sebagai tempat pembangunan masjid ini dianggap sebagai pilihan yang sangat bijak.

Sultan Selim II sebagai pemrakarsa masjid memercayakan proses perancangan dan pembangunannya kepada Mimar Sinan. Sang Arsitek sampai membutuhkan waktu delapan tahun untuk menyendiri dan memikirkan rancangan masjid yang akan menjadi karya terbesarnya itu. Pembuatan pondasinya saja membutuhkan waktu dua tahun. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan permukaan dan tekstur tanah di lokasi pendirian masjid.

Proyek pembangunan masjid yang dikerjakan oleh 14.400 pekerja ini menghabiskan dana sebesar 4,58 juta keping emas. Pengerjaannya sendiri dimulai tahun 1568 dan selesai pada 27 November 1574, tetapi masjid ini baru dibuka untuk umum pada tanggal 14 Maret 1575, tiga bulan setelah Sultan Selim II mangkat. Sang Sultan tidak sempat meresmikan masjid yang telah diprakarsainya itu.

Tandingan Hagia Sophia

Dahulu terdapat sebuah ungkapan dari kalangan arsitek Kristen yang menyatakan bahwa tidak akan ada seorang pun arsitek Muslim yang dapat membangun kubah sebesar kubah Hagia Sophia di Istanbul. Pandangan negatif inilah yang menjadi motivasi bagi Mimar Sinan untuk membangun Masjid Selimiye. Dengan berdirinya masjid ini, akhirnya ejekan dari para arsitek Kristen itu pun terpatahkan. Mimar Sinan berhasil mendirikan Masjid Selimiye yang memiliki kubah berdiameter 31 meter, setara dengan kubah Hagia Sophia.

Tinggi kubah utama dari lantai dasar Masjid Selimiye adalah 42 meter. Kubah utama ini memiliki penampang berbentuk persegi delapan yang masing-masing sudutnya ditopang oleh delapan pilar besar. Bagian antara dasar kubah dengan kedelapan pilar tersebut diisi oleh muqarnas (ornamen berbentuk stalaktit). Di bawahnya, empat buah half-dome (kubah terpotong) ditempelkan pada keempat sisi penampang kubah utama dan sebuah half-dome lainnya menaungi ruang mihrab. Dengan demikian, apabila dilihat dari atas, rangkaian kubah terpusat Masjid Selimiye terlihat seperti seekor kura-kura. Jumlah half-dome dan kubah kecil yang menaungi ruang shalat utama masjid terbilang sangat sedikit. Hal ini membuat kubah raksasa yang berada di pusat bangunannya terlihat sangat dominan.

Seperti masjid bergaya Usmani lainnya, Masjid Selimiye memiliki halaman berbentuk persegi panjang dengan sebuah tempat wudhu berupa air mancur (sardivan) di tengahnya. Area terbuka ini dikelilingi oleh portico (teras berpilar) yang beratapkan 18 kubah. Portico Masjid Selimiye memiliki 16 pilar. Menurut para ilmuan, pilar-pilar tersebut berasal dari Mesir, Siprus, Syria, dan Turki. Halaman dengan gaya sepeti ini mengadopsi bentuk peristyle pada halaman bergaya Romawi Kuno atau bentuk sahn pada bangunan-bangunan di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pada keempat sudut masjid bediri empat buah menara setinggi 84 meter. Masing-masing menara memiliki tiga buah balkon. Dua menara di antaranya memiliki tiga buah pintu tangga yang menuju langsung pada ketiga balkonnya. Artinya, terdapat tiga jalur tangga yang berbeda pada sebuah menara. Hal tersebut merupakan bukti lain dari kejeniusan seorang Mimar Sinan.

Ruang utama masjid terdiri dari dua lantai, yaitu lantai dasar sebagai tempat shalat utama dan lantai atas berupa balkon yang mengelilingi ruangan utama. Rancangan seperti ini adalah ciri khas masjid berarsitektur Turki Usmani.

Masjid Selimiye diterangi oleh 384 buah jendela. Ratusan jendela itu terbagi ke dalam lima tingkatan. Jendela-jendela pada tingkat terbawah dan tingkat kedua menerangi lantai dasar dan balkon masjid. Barisan jendela pada tingkat ketiga dan keempat merupakan jendela-jendela clerestory (jendela pada dinding atas) yang cukup banyak membiaskan cahaya alami ke dalam masjid. Pada tingkat kelima terdapat deretan jendela kubah yang menerangi interior kubah masjid. Sinan menggunakan kaca jendela berwarna terang untuk memberikan efek pencahayaan yang maksimal pada interiornya.

Interior masjid didominasi oleh Marmer berwarna putih dan coklat muda dari Pulau Marmara serta ubin-ubin keramik yang berasal dari Kota Iznik. Berbagai ornamen kaligrafi karya Hasan Celebi, hiasan arabes, dan muqarnas khas corak Usmani klasik pun turut menghiasi interior dan eksteriornya. Hampir seluruh lengkungan antarpilar yang terdapat pada Masjid Selimiye terdiri dari voussoir (balok-balok pembentuk lengkungan) berwarna merah dan putih yang disusun secara berselingan.

Di dalam masjid, tepat di tengah ruang shalat utama terdapat mahfil muadzin, yaitu bangunan menyerupai panggung yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Mahfil muadzin di Masjid Selimiye memiliki tinggi 2,4 meter dan ditopang oleh 12 tiang kecil dengan lengkungan berukir. Letak mahfil yang berada tepat di bawah kubah utama ini sempat menimbulkan kontroversi karena biasanya mahfil muadzin diletakkan di pinggir ruang shalat utama. Sinan meletakannya tepat di tengah supaya tidak mengganggu kesimetrisan masjid. Di bawah mahfil muadzin, Sang Arsitek menempatkan sebuah air mancur kecil sebagai metafora jiwa dari kubah raksasa yang tepat berada di atasnya.

Mihrab Masjid Selimiye terletak pada sebuah ceruk yang menonjol keluar seperti apse pada bangunan gereja. Mihrab ini terbuat dari pahatan batu marmer monolitik yang dihiasi ornamen geometri dan kaligrafi. Sebuah mimbar bertangga yang sangat tinggi terletak di sebelah kanan ceruk mihrab. Mahfil sultan sebagai tempat shalat sultan dan para petinggi negara berada di atas balkon yang terletak di sebelah kiri ceruk mihrab. Semua lantai masjid ditutupi oleh karpet berwarna merah. Pada malam hari, pencahayaan interior masjid dibantu oleh sekian banyak lampu gantung.

Masjid Selimiye yang bediri di atas lahan seluas 2.475 meter persegi ini dapat menampung sekitar enam ribu jamaah. Hingga kini, masjid yang berusia empat abad tersebut menjadi ikon Kota Edirne sekaligus menjadi salah satu warisan terbesar peradaban Islam di bidang arsitektur.

Kulliye: Pusat Kota Khas Turki Usmani

Dalam tata kota khas Kesultanan Turki Usmani dikenal istilah ‘kulliye’ yang berarti kompleks sarana publik yang mengelilingi sebuah masjid besar. Sama seperti kebanyakan masjid lainnya di Turki, Masjid Selimiye pun berada di dalam sebuah lingkungan kulliye. Di belakang masjid ini terdapat dua buah bangunan kembar, yaitu Darul Hadits dan Madrasah sebagai tempat pembelajaran Islam dan pengetahuan umum. Kedua sekolah ini merupakan bangunan peristyle berbentuk persegi dengan taman terbuka di tengahnya. Semua ruang kelasnya dihubungkan oleh portico yang mengelilingi taman tersebut.

Di sebelah kanan masjid terdapat kompleks pertokoan (arasta) sepanjang 255 meter yang terdiri dari 124 toko. Deretan toko tesebut berdiri saling berhadapan dan dihubungkan oleh sebuah lorong besar. Pertokoan ini dibangun atas perintah Sultan Murad III untuk menambah pendapatan kas masjid. Terpisah oleh jalan raya, di sekitar masjid terdapat beberapa fasilitas umum lainnya seperti rumah sakit, perpustakaan, pemandian, dapur umum, penginapan, dan permakaman.

Tidak jauh dari kompleks Masjid Selimiye terdapat beberapa bangunan bersejarah lainnya yang telah berdiri beberapa tahun sebelum masjid ini dibangun, di antaranya adalah Masjid Eski Cami yang dibangun atas titah Sultan Mehmet I, Masjid Uc Serefeli yang menjadi salah satu pelopor masjid dengan menara berbalkon tiga, serta Kompleks Museum Kesehatan Bayezid II yang pada era Usmani dahulu merupakan sebuah rumah sakit dan sekolah kesehatan.

Masjid Selimiye dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Edirne menjadikan kota ini bagaikan sebuah museum terbuka yang mampu membuktikan jejak-jejak kejayaan Kesultanan Turki Usmani serta tingginya peradaban Islam pada masa lampau.

Advertisements

Masjid Ahmad Kadyrov terletak di Grozny, Ibu Kota Republik Chechnya. Berada di Pegunungan Kaukasus belahan utara, Republik Chechnya masih merupakan bagian dari Federasi Rusia. Masjid Ahmad Kadyrov adalah salah satu masjid terbesar di Rusia dan juga Eropa. Dalam sekali waktu, masjid yang didirikan di atas lahan seluas 14 hektar ini dapat mengakomodasi lebih dari 10.000 jamaah. Nama masjidnya sendiri diambil dari nama Presiden Chechnya terdahulu, yaitu Ahmad Kadyrov yang tewas terbunuh pada tahun 2004. Beliau merupakan ayah dari Ramzan Kadyrov, Presiden Chechnya saat ini.

Masjid Ahmad Kadyrov dikelilingi oleh beberapa fasilitas penunjang seperti perpustakaan, taman, gedung konferensi, pusat administrasi, gedung mufti, madrasah, asrama, dan universitas Islam. Pembangunan kompleks masjid yang menghabiskan dana sebesar 20 juta US Dollar ini dibiayai oleh Pemerintah Rusia. Setelah tiga tahun proses pengerjaannya, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan Ramzan Kadyrov selaku Presiden Chechnya meresmikan Masjid Ahmad Kadyrov pada tanggal 17 Oktober 2008, bertepatan dengan hari pertama penyelenggaraan sebuah konferensi internasional bertajuk ‘Islam: Agama Perdamaian’. Konferensi ini bertujuan untuk membahas dan mempromosikan toleransi, kedamaian, kemajuan, serta kebenaran dalam ajaran Islam untuk melawan ekstrimisme dan fanatisme. Perwakilan dari 28 negara, 200 lebih tokoh Islam, dan ribuan umat Muslim menghadiri acara peresmian masjid dan konferensi internasional tersebut.

Gaya Turki Usmani

Mengikuti tradisi bangunan masjid bergaya Turki Usmani, Masjid Ahmad Kadyrov memiliki ruang shalat yang terdiri dari dua lantai, yaitu lantai pertama sebagai ruang shalat utama dan balkon yang mengelilinginya di lantai kedua sebagai ruang shalat tambahan atau tempat shalat bagi jamaah wanita. Masjid ini juga memiliki sebuah basement yang dapat diakses dari selasar masjid.

Secara garis besar, Masjid Ahmad Kadyrov memiliki bentuk yang sama dengan Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, Turki. Kedua bangunan masjid ini memiliki gaya arsitektur Turki Usmani klasik. Kemiripan yang paling mencolok pada kedua masjid dapat dilihat di antaranya dari susunan kubah terpusat yang menjadi atapnya. Susunan kubah ini terdiri dari sebuah kubah utama yang menaungi pusat bangunan, empat buah half-dome (kubah terpotong) besar yang menempel pada keempat sisi penampang kubah utama, delapan buah half-dome berukuran lebih kecil yang menempel pada keempat penampang half-dome besar, dan empat buah kubah kecil yang diletakkan di keempat pojok bangunan masjid. Dengan demikian, serangkaian kubah terpusat dan empat buah kubah kecil tersebut dengan sempurna menaungi ruang shalat utama Masjid Ahmad Kadyrov yang memiliki denah berbentuk persegi. Selain itu, 19 kubah kecil lainnya berderet di sisi kanan, kiri, dan muka masjid. Kubah-kubah berukuran kecil ini secara langsung menaungi balkon masjid di lantai kedua dan bagian aisle (lorong pengapit aula utama) yang berada di bawah balkon. Bentuk susunan  kubah yang memiliki denah seperti semanggi berdaun empat ini merupakan pengembangan dari susunan kubah terpusat yang digunakan oleh bangsa Bizantium dalam membangun Hagia Sophia di Konstantinopel (Istanbul).

Pada ruang shalat utama terdapat sebuah mihrab dengan gaya khas Usmani. Kekhasan ini terletak pada ceruk mihrabnya yang dihiasi maqarnas (ornamen berbentuk stalaktit) dan bagian atasnya yang dimahkotai oleh ukiran arabes. Di sebelah kanan dan kiri mihrab diletakkan dua buah lampu hias sebagai pengganti dua buah lilin besar yang biasanya mengapit mihrab masjid bergaya Usmani. Di sebelah kanan mihrab terdapat sebuah mimbar bertangga yang sangat tinggi. Dengan ketinggian terebut, khatib yang berkhutbah di atas mimbar ini bisa terlihat oleh para jamaah yang berada di lantai kedua. Selain itu, di sebelah kiri mihrab diletakkan juga sebuah mimbar atau podium yang jauh lebih pendek. Di sisi kanan ruang shalat utama terdapat sebuah mahfil sebagai tempat mengumandangkan adzan. Mihrab, mahfil, dan kedua mimbar tersebut terbuat dari marmer putih yang dihiasi ornamen kaligrafi berwarna kemasan, muqarnas, serta ukiran arabes berupa corak tumbuhan dan garis-garis geometri. Seluruh lantai pada ruang shalat ditutupi karpet berwarna hijau dengan corak sederhana berupa garis-garis shaf.

Masjid Ahmad Kadyrov memiliki jendela-jendela yang tersusun dalam beberapa tingkatan. Lantai dasar ruang shalat utama memiliki jendela-jendela berukuran besar. Jendela-jendela inilah yang menjadi sumber utama pencahayaan interior masjid. Balkon pada lantai kedua dapat dikatakan kurang mendapat pencahayaan. Hal ini disebabkan oleh minimnya jumlah jendela yang terdapat di lantai kedua. Pada dinding bagian atas (clerestory) dan penampang kubah terdapat deretan jendela dengan kaca patri berwarna-warni.

Sebagai sumber cahaya pendukung interior masjid, sebuah lampu kristal berukuran besar digantungkan pada pusat kubah utama. Beberapa lampu gantung kristal lainnya yang berukuran lebih kecil tersebar di seluruh bagian interior masjid, menggantung pada pusat-pusat kubah yang lebih kecil. Uniknya, pada bagian tengah lampu gantung yang paling besar terdapat sebuah replika Ka’bah berwarna hitam, sedangkan pada lampu gantung yang berukuran lebih kecil terdapat replika kubah hijau Masjid Nabawi dan replika kubah emas Masjid Qubbat As-Sakhra di Yerusalem. Jumlah keseluruhan lampu kristal yang menerangi Masjid Ahmad Kadyrov adalah 36 buah.

Pemandangan interior masjid kian diperindah oleh hiasan-hiasan kaligrafi berwarna emas yang tersebar pada dinding-dinding masjid. Pemandangan yang lebih spektakuler terdapat pada langit-langitnya. Seluruh bagian interior kubah-kubah masjid dihiasi oleh hiasan berupa rangkaian garis-garis geometri dan lukisan bercorak tumbuhan. Kaligrafi berwarna emas bertuliskan ayat-ayat Alquran, lafadz Allah, nama Muhammad dan nama beberapa sahabatnya turut menghiasi pusat-pusat kubah dan puncak pilar masjid. Semua karya seni Islam bercita rasa tinggi ini diterangi oleh cahaya lembut dari jendela-jendela berwarna dan lampu-lampu kristal yang memancarkan sinar keemasan.

Seluruh lengkungan antarpilar yang terdapat pada bagian interior dan eksterior masjid Ahmad Kadyrov terdiri dari voussoir (balok-balok pembentuk lengkungan) berwarna merah dan putih yang disusun secara berselingan. Sistem pengaturan warna seperti ini disebut dengan istilah ablaq yang sering digunakan pada bangunan berarsitektur Moor, Mamluk, dan Usmani. Ablaq merupakan salah satu komponen khas dalam arsitektur Islam selain muqarnas dan arabes.

Masjid Ahmad Kadyrov memiliki empat buah menara setinggi 60 meter yang berada di keempat sudut bangunan masjid. Sama persis dengan bentuk menara Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, keempat menara ini masing-masing memiliki tiga buah balkon dan atap menara berbentuk kerucut. Keempat menara ini dapat terlihat dari berbagai pelosok kota Grozny.

Pada sisi kanan, kiri, dan muka masjid terdapat portico (teras berpilar) yang beratapkan kubah-kubah kecil. Masjid ini memiliki halaman depan berupa ruang terbuka berbentuk persegi yang juga dikelilingi oleh portico pada keempat sisinya. Format seperti ini merupakan ciri khas halaman masjid bergaya Turki Usmani. Hanya saja dalam hal ini, halaman Masjid Ahmad Kadyrov memiliki beberapa perbedaan dengan masjid-masjid bergaya Usmani lainnya. Portico pada halaman Masjid Ahmad Kadyrov tidak memiliki dinding pada sisi terluarnya, sehingga memberikan kesan yang lebih terbuka dan transparan. Tempat wudu (sardivan) tidak diletakan di tengah-tengah halaman seperti biasanya, melainkan diletakkan pada barisan portico terdepan, yaitu tempat yang biasanya digunakan sebagai gerbang utama masjid bergaya Usmani.

Masjid Ahmad Kadyrov dikelilingi oleh halaman luas berupa taman-taman yang tertata rapi dan tiga buah air mancur besar. Eksterior masjid akan terlihat lebih indah ketika sinar matahari senja dipantulkan oleh dinding-dinding masjid yang terbuat dari marmer travertin dan marmer putih dari Pulau Marmara. Pada malam hari, seluruh taman dan jalan menuju masjid diterangi oleh lampu-lampu. Beberapa air mancur bahkan disoroti lampu yang memberikan cahaya berwarna-warni pada setiap pancaran airnya. Pemandangan yang sangat indah ini berada di tempat yang dahulunya porak-poranda akibat peperangan. Maka, tidaklah berlebihan jika warga Chechnya memanggil Masjid Ahmad Kadyrov dengan sebutan “Jantung Chechnya”.

Kembali Berbenah Diri

Republik Chechnya adalah sebuah kawasan di selatan Rusia yang berpenduduk sekitar 1,27 juta jiwa. Lebih dari 90 persen di antaranya beragama Islam. Sebagian besar Muslim Chechnya memeluk ajaran Islam Sunni. Selain itu, ada juga pengikut Tarikat Naqshbandiyah dan Qadiriyah.

Jika dibandingkan dengan wilayah berpenduduk mayoritas Islam lainnya di Rusia, kedatangan Islam ke tanah Chechnya dapat dikatakan mengalami keterlambatan. Islam pertama kali datang ke Rusia pada abad ke-10, khususnya di kawasan Dagestan, Volga Bulgaria (Bashkortostan), dan Tatarstan. Bangsa Dagestan, Bashkir, dan Tatar merupakan para pemeluk Islam pertama di wilayah Rusia. Bangsa Chechnya sendiri baru memeluk Islam antara abad ke-16 sampai abad ke-19 setelah meninggalkan agama terdahulunya, Animisme. Sejak saat itu, Islam menjadi identitas bangsa Chechnya.

Kawasan Chechnya pernah tercabik akibat peperangan antara pejuang Chechnya dengan pasukan Rusia yang terjadi pada tahun 1994-1996 dan tahun 1999-2000. Peperangan tersebut dipusatkan di Kota Grozny. Karenanya, kota ini pun hancur berantakan. Sesuai dengan namanya, Grozny yang berarti kacau-balau.

Setelah peperangan usai, Republik Chechnya mulai berbenah diri. Renovasi besar-besaran pun dilakukan di Kota Grozny, salah satunya adalah dengan membangun sebuah masjid besar yang sejak lama didambakan oleh masyarakat Chechnya. Maklum, pada masa rezim Soviet, pembangunan masjid adalah hal yang terlarang. Bahkan pada saat itu banyak masjid yang ditutup, dialihfungsikan menjadi gudang, dirusak, bahkan dihancurkan.

Hingga sekarang, Pemerintah Chechnya terus membangun sarana dan prasarana di Ibu Kotanya ini. Puluhan ribu apartemen dan tempat tinggal yang hancur akibat perang dibangun kembali. Demikian juga dengan sarana pendidikan, kesehatan, ekonomi, transportasi, dan sarana-sarana lainnya. Bahkan kini, di sekitar Masjid Ahmad Kadyrov mulai terlihat konstruksi-konstruksi gedung pencakar langit. Kehadiran Masjid Ahmad Kadyrov di pusat kota Grozny membawa angin segar dan semangat baru bagi bangsa Chechnya untuk kembali membangun tanah airnya.


Posted by: schariev | December 11, 2010

Masjid Penzberg

Bangunan Bergaya Kontemporer Islami di Kaki Pegunungan Alpen

Ihr Menschen! Wir haben euch aus Mann und Frau erschaffen und haben euch zu Völkern und Stämmen werden lassen, damit ihr euch kennenlernt…” (Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal). Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Jerman dari salah satu ayat dalam Al Quran, yaitu potongan surat Al Hujuraat ayat13. Ayat tersebut tertulis pada salah satu sisi gerbang sebuah masjid yang beralamat di Bichlerstrasse 15, Penzberg, Bayern, Jerman. Makna dari ayat ini adalah penjelasan mengenai keberagaman manusia dan anjuran untuk saling berinteraksi. Ayat inilah yang dijadikan sebagai dasar pembangunan sekaligus jiwa masjid tersebut.

Penzberg adalah sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 16.000 jiwa yang berada di bagian selatan Jerman, yaitu di kaki Pegunungan Alpen. Muslim Penzberg merupakan minoritas di kota ini, hanya berjumlah sekitar 1.000 jiwa. Penzberg adalah sebuah kota multikultur, tempat tinggal sekitar 70 suku bangsa dari berbagai belahan dunia. Begitu pun dengan komunitas Muslimnya, berasal dari berbagai negara Islam seperti Albania, Turki, dan Bosnia.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Islamische Gemeinde Penzberg e.V atau Jamaah Islam Penzberg, sebuah organisasi Islam multietnis, netral, dan terbuka yang didirikan sejak tahun 1994. Sebelum memiliki masjid seperti sekarang, Muslim Penzberg dulunya biasa melakukan shalat di sebuah bangunan tua bekas kandang sapi. Baru pada September 2005 setelah masjid yang diberi nama Forum Islam ini diresmikan, Muslim Penzberg bisa beribadah dengan sangat nyaman di masjid barunya. Biaya pembangunan masjid yang mencapai 3 juta Euro ditanggung oleh Sultan bin Muhammad Al Qassimi, seorang Emir dari Uni Emirat Arab.

Perancang Forum Islam atau Masjid Penzberg adalah Alen Jasarevic, seorang arsitek Muslim keturunan Bosnia. Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid lainnya di Jerman yang menggunakan gaya arsitektur Turki Usmani, Jasarevic merancang masjid ini dengan gaya kontemporer. Ketika masjid-masjid lainnya dilengkapi kubah dan menara, Masjid Penzberg lebih memilih untuk tidak memiliki kedua ornamen tradisional masjid tersebut. Sebuah masjid memang tidak diwajibkan untuk memiliki menara dan kubah, yang penting adalah sebuah tempat yang layak dan nyaman untuk melaksanakan ibadah dan menjalin silaturahmi.

Jasarevic berpendapat bahwa masjid dengan gaya kontemporer dinilai dapat lebih diterima di Eropa daripada gaya arsitektur lainnya. Selain inovatif, hal ini sejalan dengan harapan Muslim Penzberg, yaitu menginginkan sebuah masjid yang dapat diterima masyarakat sekitarnya tanpa menimbulkan protes dan juga dapat dijadikan sebagai tempat untuk berinteraksi antara sesama Muslim ataupun dengan warga lainnya. Setelah masjid ini diresmikan, harapan Muslim Penzberg menjadi kenyataan. Tercatat semenjak hari peresmiannya, masjid ini telah dikunjungi puluhan ribu pengunjung, baik Muslim ataupun nonmuslim. Komunitas Muslim Penzberg memiliki hubungan yang sangat baik dengan warga lainnya yang beragama Kristen dan Yahudi.

Menurut Jasarevic, ilmu arsitektur selama berabad-abad telah memberikan kontribusinya pada kelancaran pendakwahan dan pencitraan Islam di berbagai negeri. Pembangunan sebuah masjid selalu mengikuti kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitarnya. Contohnya adalah Masjid Raya Xian di Cina yang dibangun dengan gaya arsitektur Dinasti Ming. Penyesuaian arsitektur bangunan masjid dilakukan sebagai salah satu langkah untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosialnya sehingga Islam bisa diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Langkah inilah yang dilakukan oleh Muslim Penzberg untuk memulai komunikasi yang baik dengan warga lainnya.

 

Arsitektur kontemporer Islami

Masjid Penzberg adalah sebuah bangunan bergaya kontemporer dengan sentuhan kekayaan seni Islami.  Bangunan yang dinding eksteriornya didominasi oleh corak batu bata berwarna pasir pantai ini memiliki denah berbentuk huruf L. Masjid Penzberg memiliki sebuah menara yang unik berupa susunan tiga buah kubus setinggi 13 meter. Menara ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, melainkan rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi bahasa Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu adzan. Dengan begitu, seruan shalat tidak hanya disampaikan 5 kali sehari, tetapi 24 jam sehari tanpa mengganggu para tetangga. Berdiri dengan sederhana dan elegan di dekat pusat kota, gaya arsitektur Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya yang memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan kayu berukir, Masjid Penzberg memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan metal polos. Di atas pintu terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg. Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir setara dengan tinggi bangunan. Pada balok beton sebelah kiri tertulis terjemahan bahasa Jerman dari surat Al Fatihah dan surat Al Hujurat ayat 13, sedangkan pada lembar balok beton sebelah kanan tertulis ayat-ayat Al Quran tersebut dalam bentuk kaligrafi bahasa Arab. Dengan demikian, kedua lembar balok beton ini terlihat seperti sebuah Al Quran terjemahan bahasa Jerman berukuran besar yang sedang terbuka, menyambut siapa pun yang hendak datang ke masjid ini untuk beribadah atau sekedar berkunjung dan mempelajari ajaran Islam.

Apabila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke ruang shalat utama, pintu utama Masjid Penzberg mengantarkan kita pada sebuah koridor, mirip dengan kebanyakan rumah di Jerman yang menggunakan koridor (Flur) untuk menghubungkan pintu-pintu ruangannya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua, sedangkan di sebelah kanan terdapat pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan parkir dan taman.

Di dalam bangunan yang memiliki 3 lantai dan sebuah basement ini selain terdapat ruang shalat, juga terdapat sebuah perpustakaan multimedia dengan koleksi berjumlah lebih dari 6000 buah. Bangunan masjid ini juga memiliki aula, ruang administrasi, dan beberapa ruang kelas. Di bagian luar masjid terdapat taman, teras, dan tempat parkir. Keseluruhan bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi.

Walaupun memilih gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini. Hiasan arabes berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari beberapa corak hiasan yang tedapat di Masjid Kordoba, Spanyol. Langit-langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang membentuk bintang-bintang. Keseluruhan mihrab masjid dibentuk oleh rangkaian kaligrafi yang terbuat dari bahan metal berwarna emas. Untuk tempat berkhutbah, sebuah mimbar tinggi berukir corak geometri berdiri di sebelah depan kanan ruangan shalat.

Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40.000 Euro. Panel-panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air.

Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Selain itu, pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah kanan dan kiri ruang shalat. Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela ini dan menghasilkan cahaya berwarna kebiruan.

Pada malam hari pemandangan masjid akan menjadi lebih indah, khususnya pada bagian eksterior. Seluruh dinding luar masjid disinari oleh lampu sorot, memperjelas efek visual dari corak batu bata pada permukaan dindingnya. Jendela-jendela masjid yang berukuran besar memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan, menegaskan corak geometri berbentuk bintang dan motif bintik-bintik biru pada setiap jendelanya. Tidak ketinggalan, menara masjid ikut menghiasi pemandangan malam kota yang berada di kaki Pegunungan Alpen ini. Cahaya dari dalam menara memancar dan menembus celah-celah ukiran kaligrafinya. Karya besar Jasarevic ini sekarang menjadi salah satu ikon Kota Penzberg.

 

Transparansi untuk integrasi

Hampir 60 persen bangunan Masjid Penzberg ditutupi oleh kaca jendela. Dari luar, kita bisa dengan mudah melihat kegiatan yang sedang berlangsung di ruang shalat, ruang kelas, atau perpustakaan. Gaya kontemporer yang lebih terbuka ini merupakan sebuah cara untuk mempresentasikan identitas sekaligus keinginan Muslim Penzberg untuk bisa berintegrasi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Kondisi bangunan seperti ini akan membuat semua lapisan masyarakat tidak enggan untuk mengunjungi Masjid Penzberg. Fungsi masjid sebagai wadah komunikasi memang dinilai sangat penting di tengah Kota Penzberg yang memiliki penduduk multietnis dan terbuka ini.

Selain sebagai tempat beribadah bagi umat Muslim, Masjid Penzberg juga menggelar berbagai kegiatan pelayanan rutin yang ditujukan untuk semua masyarakat Penzberg, di antaranya adalah kelas pembelajaran Islam, konsultasi agama dan sosial, kursus bahasa, seminar, diskusi antaragama dan antarkultur, konferensi, open house, kelompok bermain anak, dan bimbingan belajar. Semua kegiatan ini membuat Masjid Penzberg tidak pernah sepi.

 

Salah satu bangunan terbaik di Bayern

Pada waktu perencanaan dan proses pembangunannya, masjid ini sempat menuai keresahan dari masyarakat sekitar. Mereka khawatir dengan kehadiran sebuah bangunan asing yang akan mereka lihat setiap hari. Maklum saja, kebanyakan orang Jerman berpikir kalau sebuah masjid pastilah berdiri dengan kubah dan menara khas Turki yang asing bagi mereka. Masjid masih dianggap sebagai sebuah tempat beribadah orang-orang yang tidak ingin berbaur dengan masyarakat lain. Pemikiran ini akhirnya terpatahkan sejalan dengan hadirnya sebuah masjid dengan gaya yang lebih bersahabat dan membaur serta aktivitas-aktivitas masjid yang selalu berusaha merangkul warga sekitarnya.

Kekhawatiran masyarakat Penzberg pun akhirnya berubah menjadi sebuah kebanggaan ketika masjid ini memenangkan penghargaan Wessobrunner Architekturpreis, sebuah penghargaan yang diberikan 5 tahun sekali untuk karya arsitektur terbaik di seluruh Negara Bagian Bayern. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, Masjid Penzberg berhasil mengalahkan puluhan bangunan yang menjadi pesaingnya.

Walikota Penzberg Hans Mummert yang hadir pada acara penyerahan penghargaan menyatakan bahwa penghargaan ini adalah sebuah kehormatan bagi Kota Penzberg. Benjamin Idriz, Imam Masjid Penzberg, kemudian mengungkapkan bahwa inilah pertama kalinya sebuah masjid di Jerman memenangkan penghargaan arsitektur. Masjid Penzberg diakui karena arsitekturnya yang luar biasa, sama halnya dengan aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan yang diselenggarakan di dalamnya. Alen Jasarevic pun berharap Masjid Penzberg bisa menjadi inspirasi bagi Muslim lainnya di Jerman.

Oleh Syarif Abdussalam

Masjid ini menjadi salah satu tempat yang selamat dari gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) di Kota Kobe.

Orang Jepang memanggil masjid yang terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe, ini dengan sebutan Kobe-kaikyo-jiin atau Kobe-mosuku. Sedangkan nama aslinya adalah Masjid Muslim Kobe. Masjid ini merupakan masjid tertua di Jepang. Sampai sekarang, Masjid kebanggaan Muslim Jepang ini tetap kokoh berdiri dan dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Islam sekaligus tempat kegiatan keagamaan Muslim Kobe.

Berada di salah satu kawasan paling terkenal di Kobe, dengan dua buah menara kembar dan kubah besarnya, masjid ini berdiri kokoh dan anggun di antara bangunan-bangunan berarsitektur Eropa lainnya. Sejarah pendirian masjid ini tidak dapat terlepas dari kedatangan para pedagang Muslim yang berasal dari wilayah India dan Timur Tengah ke Kota Kobe seabad lalu.

Jumlah para pedagang Muslim yang tinggal di Kobe pada awal 1900-an masih terbilang sedikit. Mereka biasa melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan di rumah-rumah atau aula hotel. Pada 1920-an jumlah komunitas Muslim di Kobe kian meningkat.

Selain jumlah kedatangan para pedagang beserta keluarganya dari India dan Timur Tengah yang terus meningkat, hal ini disebabkan juga oleh kedatangan Muslim Tartar yang berasal dari Rusia dan Asia Tengah. Mereka datang ke Kota Kobe untuk menghindari Revolusi Bolshevik pada saat Perang Dunia I. Tekanan dari rezim komunis memaksa Muslim Tartar keluar dari negara asalnya.

Banyaknya jumlah komunitas Muslim Kobe pada saat itu, membuat mereka harus segera memutuskan untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pada 1928 dibentuklah Komite Muslim Kobe. Para pedagang dari India dan Timur Tengah yang sering bepergian keluar-masuk Jepang terus meminta donasi dari para pedagang lainnya untuk biaya pembangunan Masjid. Enam tahun kemudian akhirnya komite ini mengumpulkan dana sebesar 118.774,73 yen.

Sumbangan terbesar diberikan oleh perusahaan-perusahaan dari India, Konsulat Mesir, Konsulat Afghanistan, serta sumbangan dari Asosiasi Muslim Tartar-Turki. Pada Jumat, 30 November 1934, pembangunan masjid dimulai. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mr Muhammad Bochia selaku penanggung jawab pembangunan masjid.

Turki tradisional

Beberapa sumber menyebutkan bahwa perancang Masjid Muslim Kobe adalah seorang arsitek asal Ceko bernama Jan Josef Svagr yang telah merancang banyak bangunan bergaya Barat di Jepang. Svagr merancang masjid ini dengan gaya Turki tradisional.

Struktur bangunan yang tinggi dan kubah utamanya yang besar merupakan gaya khas Turki tradisional, tetapi bentuk jendelanya yang meruncing akan mengingatkan kita pada bentuk jendela yang terdapat di masjid-masjid bergaya India atau Persia. Dua buah menara kembar yang mengapit pintu utama masjid dan kubah utama tunggal akan mengingatkan kita pada Masjid Sunitskaia di Vladikavkaz, Rusia.

Pengerjaan bangunan masjid dipercayakan kepada perusahaan konstruksi asal Jepang Takenaka dan diawasi oleh Mr Vallynoor Mohamed. Biaya yang terpakai untuk pembangunan masjid, sekolah, dan bangunan lainnya mencapai 87.302,25 yen. Sisa dari biaya pembangunan digunakan untuk investasi. Mereka membeli properti berupa beberapa bangunan di Yamato-dori, Ijinkan, dan Kitano-cho.

Setelah permohonan izin penggunaan masjid disetujui oleh Kekaisaran Jepang, pada Jumat, 2 Agustus 1935 Masjid Muslim Kobe diresmikan oleh Mr Ferozuddin dan dihadiri oleh umat Muslim dari berbagai negara seperti India, Rusia, Asia Tengah, Cina, Jepang, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Afghanistan, dan Mesir.

Setelah memberikan pidato pembukaan, Mr Ferozuddin kemudian membuka pintu masjid dengan menggunakan kunci perak dan naik ke puncak menara untuk mengumandangkan azan. Azan itu merupakan seruan pelaksanaan shalat Jumat yang akan dilaksanakan pertama kalinya di masjid baru itu. Shalat Jumat kemudian dipimpin oleh Mohamed Shamguni, Imam pertama Masjid Muslim Kobe.

Selain sebagai tempat pelaksanaan shalat dan pembelajaran Islam, banyak kegiatan keagamaan lainnya dilakukan di masjid ini. Pada bulan Ramadlan contohnya, acara berbuka puasa bersama (ifthar jama’i) dan beberapa perayaan selalu dilakukan di basement masjid.

Berbagai jenis makanan dan minuman dari berbagai negeri selalu dihidangkan sebagai menu berbuka puasa. Seluruh bagian masjid selalu penuh oleh jamaah ketika shalat tarawih dilaksanakan. Begitu juga dengan pelaksanaan shalat Id. Masjid Muslim Kobe selalu menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Islam yang tinggal Kobe pada saat itu.

Diambil alih angkatan laut

Kedamaian beribadah yang dinikmati oleh umat Muslim Kobe tidak berlangsung lama. Pada 1939, Perang Dunia II dimulai. Para pedagang India yang tinggal di Kobe, dievakuasi kembali ke negaranya. Begitu juga dengan Muslim Tartar dan yang lainnya. Mereka menyelamatkan diri ke luar dari Jepang. Akibat evakuasi besar-besaran ini, hanya sedikit umat Islam yang bertahan di Kobe. Dengan kondisi yang serba tak menentu, dan sedikitnya umat Islam yang beribadah di masjid, akibatnya, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mengambil alih masjid itu.

Pada 1943 mereka menjadikannya sebagai tempat penyimpanan senjata dan persembunyian tentara. Akibatnya, umat Muslim yang tersisa di Kobe tidak bisa beribadah di masjid tersebut.

Tragedi Pearl Harbour membuat Jepang semakin terpojok. Amerika kemudian mengebom berbagai kota di Jepang. Setelah Amerika mengebom Tokyo dan Yokohama, gempuran itu kian mendekati Kobe.

Akhirnya pada 17 Maret 1945 pesawat pengebom B-29 meluluhlantakkan hampir seluruh bangunan di Kobe dan menewaskan 8.841 jiwa. Setelah itu Kobe kembali dihujani serangan bom sebanyak enam kali sampai tanggal 30 Juli 1945. Akibat serangan-serangan ini sebagian besar kota Kobe menjadi hancur lebur.

Ketika bangunan di sekitarnya hampir rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak hitam karena asap serangan bom. Tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari ancaman bom, begitu juga dengan senjata-senjata yang disembunyikannya. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Setelah perang berakhir, pada 1947, umat Muslim Tartar, India, dan lainnya berangsur kembali ke Kota Kobe. Masjid Muslim Kobe dikembalikan oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang kepada komunitas Muslim. Renovasi besar-besaran kemudian dilakukan pada masjid yang diselamatkan Allah SWT dari bencana perang ini.

Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini.

Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Muslim Kobe.

Krisis keuangan sering menghampiri kas komite masjid. Pajak bangunan yang tinggi membuat komite masjid harus mengeluarkan cukup banyak biaya dari kasnya. Beruntung, banyak donatur yang siap memberikan uluran tangannya untuk menyelesaikan masalah keuangan pembangunan dan renovasi masjid ini. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Muslim Kobe menjadi semakin berkembang.

Pada 1992 Masjid Muslim Kobe memiliki fasilitas Pusat Islam berupa bangunan kelas, ruang resepsi, perpustakaan, kantor, dan bangunan apartemen. ed: syahruddin e


Saksi Sejarah Gempa 7,3 SR di Kobe

Tanggal 17 Januari 1995 di Kobe, pagi hari itu jam menunjukkan pukul 05.46.46. Sebuah bencana kembali menimpa kota terbesar keenam di Jepang ini. Gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) mengguncang Kobe selama 20 detik.

Gempa bumi ini menimbulkan korban jiwa sebanyak 4.600 orang, sekitar 35 ribu orang luka-luka, lebih dari 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 180 ribu unit bangunan rusak berat.

Kota Kobe saat itu kembali hancur berantakan, akan tetapi Masjid Muslim Kobe tetap berdiri kokoh di antara puing-puing bangunan di sekitarnya. Kuil Ikuta yang merupakan kuil paling bersejarah di Kobe rusak berat. Begitu juga dengan sebuah gereja yang terletak berdekatan dengan masjid.

Pemandangan luar biasa ini menjadikan Masjid Muslim Kobe sebagai sorotan penting dalam pemberitaan di media massa. Pada saat itu masjid ini menjadi tempat penyelamatan para korban gempa dan juga sekali lagi kembali menjadi tempat pengungsian.

Masjid Muslim Kobe kini tetap berdiri kokoh. Basement masjid tetap digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan. Lantai pertama masjid digunakan untuk ruang shalat pria, sedangkan lantai kedua dipakai untuk jamaah wanita. Lantai ketiga sering dipakai untuk kegiatan keagamaan lainnya dan juga sering dijadikan sebagai ruang shalat tambahan.

Di samping masjid terdapat sebuah bangunan Pusat Islam dan lapangan parkir luas yang juga sering dipakai sebagai tempat shalat tambahan pada waktu shalat Jumat atau shalat Ied. Di sekitar masjid terdapat beberapa toko dan restoran yang menjual makanan halal.

Seperti masjid lainnya, siapa pun dipersilakan untuk datang ke masjid ini, hanya saja pengunjung harus berpakaian sopan, tidak mengeluarkan suara keras ketika berada di dalam masjid, dan menjaga anak-anak supaya tidak berlarian.

Pada hari Sabtu dan Ahad, masjid ini menyelenggarakan kelas pembelajaran Islam bagi anak-anak, wanita, dan pria. Masjid ini juga melayani acara pernikahan, pemakaman, konferensi, dan bimbingan haji.

Sejak 75 tahun yang lalu sampai saat ini, Masjid Muslim Kobe tetap menjadi salah satu ikon terpenting yang mencerminkan sejarah dan keberadaan umat Islam di Jepang. syarif abdussalam ed: syahruddin e

Posted by: schariev | May 29, 2010

Masjid Sehitlik Berlin

Sebuah masjid yang didampingi oleh dua buah menara kembar berdiri dengan indahnya di kota Berlin, Jerman. Masjid yang bernama Masjid Sehitlik ini berada di jalan Columbiadamm di wilayah Tempelhof, sebuah wilayah yang terletak di tengah kota Berlin.

Masjid ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Hubungan diplomatik antara Kekhalifahan Turki Usmani dan Negara Jerman yang waktu itu masih bernama Kerajaan Prusia melatarbelakangi pendirian masjid ini. Sejarahnya berawal ketika seorang duta besar dari Kekhalifahan Turki Usmani yang bernama Ali Aziz Efendi meninggal dunia di Berlin pada tahun 1798. Raja Prusia saat itu, Friedrich Wilhelm III, kemudian memberikan sebidang tanah di Tempelhof untuk dijadikan sebagai tempat pemakamannya. Sejak saat itu, lahan ini kemudian menjadi tempat pemakaman muslim.

Seiring berjalannya waktu, kompleks pemakaman ini terus mengalami perluasan hingga mencapai 2.550 meter persegi. Pada saat Perang Dunia I, beberapa tentara Turki yang mengalami luka-luka dikirim ke Jerman untuk dirawat. Beberapa tentara yang meninggal dalam proses perawatan akhirnya dimakamkan di kompleks pemakaman ini. Dengan latar belakang inilah kompleks pemakaman tersebut dinamai dengan bahasa Turki, yaitu “sehitlik” yang berarti pemakaman para syuhada. Baru pada tahun 1983, di dalam kompleks itu didirikan sebuah masjid yang bernama Masjid Sehitlik.

Masjid Sehitlik mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1999. Perancang Masjid Sehitlik yang baru ini adalah seorang arsitek bernama Muharrem Hilmi Senalp. Beliau juga adalah arsitek yang merancang Masjid Jami di Shibuya, Tokyo. Oleh karena itu, kedua masjid ini memiliki banyak kemiripan, khususnya pada bagian interiornya. Masjid sehitlik yang sekarang berdiri memiliki gaya arsitektur khas usmani klasik, yaitu masjid berkubah yang dilengkapi dengan menara beratap kerucut.

Mengikuti gaya arsitektur Masjid Selimiye di Turki, kubah Masjid Sehitlik ditopang oleh delapan pilar dan delapan half dome. Masjid yang berfungsi juga sebagai pusat kebudayaan Islam ini memiliki empat lantai. Lantai terbawah, yaitu ruang bawah tanah digunakan sebagai ruang serbaguna. Lantai dasar digunakan sebagai ruang pertemuan dan ruang shalat tambahan. Ruang shalat utama berada di lantai kedua. Balkon di lantai teratas digunakan sebagai ruang shalat wanita dan ruang shalat tambahan pada saat shalat Jumat. Jumlah luas dari keempat lantai ini adalah 1.360 meter persegi.

Ketika memasuki ruang shalat utama, kita akan dimanjakan oleh keindahan interior masjid yang dihiasi oleh berbagai hiasan khas gaya Usmani klasik, diantaranya adalah sebuah mihrab berukir dan mimbar tinggi yang terbuat dari batu marmer sebagai tempat untuk khatib berkhutbah. Sebuah lampu hias besar menggantung di kubah utama. Bagian pusat dari kubah utama ini dihiasi kaligrafi surat Al-Ikhlas yang terbuat emas 23 karat. Kaligrafi bahasa Arab bertuliskan nama Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hassan, dan Hussain menghiasi bagian atas kedelapan pilar penyangga kubah utama. Setiap dinding masjid dihiasi oleh berbagai kaligrafi bahasa Arab dan hiasan berbentuk tumbuhan atau geometri. Batu marmer yang digunakan untuk pembangunan masjid ini ditambang dan diproses di Pulau Marmara, sedangkan keramiknya didatangkan dari kota Iznik di Turki.

Tinggi kedua menara kembar dan kubah dari masjid yang letaknya berdekatan dengan Bandar Udara Internasional Tempelhof ini sempat menjadi permasalahan. Pemerintah setempat menggugat pihak DITIB (Organisasi Keagamaan Persatuan Islam Turki) selaku pembangun Masjid Sehitlik karena telah membangun menara dan kubah dengan tinggi yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Tinggi menara kembar dari masjid ini adalah 37,10 meter, sedangkan pada kesepakatan awal tinggi menara yang disepakati hanya 28,60 meter. Tinggi kubah yang kini mencapai 21,30 meter ternyata lebih tinggi 4,10 meter dari kesepakatan awal. Oleh karena itu, demi mempertahankan bangunan masjid ini, DITIB akhirnya membayar denda sebesar 80.000 euro atau sekitar 1,2 milyar rupiah.

Luas seluruh kompleks Masjid Sehitlik adalah 2.805 meter persegi. Luas ini meliputi bangunan masjid yang multifungsi, kantor pengurus masjid, mini market, pemakaman, dan taman. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat muslim di Berlin, khususnya umat muslim yang tinggal di distrik Neukoeln dan Kreuzberg. Di masjid ini selalu diselenggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana di masjid lainnya, seperti shalat jumat dan pengajian. Warga nonmuslim pun sering datang ke masjid ini ketika digelar acara open house atau pada kesempatan lainnya untuk mengenal Islam lebih dekat.

Masjid Sehitlik hanyalah salah satu masjid diantara 2.200 lebih masjid yang bertaburan di seantero Jerman. Hingga kini jumlah masjid di Jerman kian bertambah dengan pesat seiring dengan bertambahnya jumlah umat muslim Jerman yang sampai kini sudah mencapai lebih dari 4,3 Juta jiwa.

Posted by: schariev | May 29, 2010

Islamic Cultural Center New York

Sentuhan Modern pada Gaya Arsitektur Turki Usmani

Masyarakat New York memanggil masjid ini dengan berbagai sebutan, mulai dari “Manhattan Mosque”, “New York Mosque”, sampai “96th Street Mosque”. Semua nama tersebut didasarkan pada lokasi masjid yang memang beralamat di 96th Street, sektor Manhattan, kota New York, Amerika Serikat. Adapun nama resmi dari masjid yang sekaligus berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam ini adalah Islamic Cultural Center New York.

Rencana pembangunan masjid sebenarnya sudah ada sejak tahun 1966, tetapi dibutuhkan waktu yang lama untuk mengurus masalah pembebasan lahan dan perijinannya. Pembangunan masjid baru dimulai pada tahun 1987. Menurut salah satu artikel dari harian setempat, The New York Times, 46 negara muslim telah menyumbang biaya pembangunan masjid ini hingga mencapai 17 juta dolar dengan dana terbesar yang berasal dari pemerintah Kuwait, Arab Saudi, dan Libya.

Pada awalnya proyek pembangunan masjid yang pertama kali dibangun di kota New York ini dipercayakan kepada Ali Dadras, seorang arsitek keturunan Iran-Amerika, yang memiliki rencana untuk membangun masjid dengan gaya arsitektur tradisional, namun para donatur lebih menginginkan sebuah bangunan masjid yang memiliki gaya arsitektur modern, yaitu sebuah masjid yang dapat menggambarkan kehadiran Islam di akhir abad ke-21. Proyek pembangunan lalu dipercayakan kepada Skidmore, Owings & Merrill (SOM), sebuah perusahaan terpercaya yang telah mengerjakan berbagai proyek pembangunan di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain. Proyek yang telah dikerjakan oleh perusahaan ini diantaranya adalah beberapa bangunan di kota Jeddah, yaitu Terminal Haji, National Commercial Bank, dan Universitas King Abdul Aziz.

Mengenai gaya arsitekturnya, para donatur menginginkan sebuah masjid dengan arsitektur modern, tetapi mereka juga tetap menginginkan kehadiran nuansa kebudayaan Islam pada bangunan masjidnya. Menanggapi permintaan mereka, SOM kemudian membuat rancangan masjid dengan cara mengadopsi gaya arsitektur Turki Usmani abad 18-19 dan menggabungkannya dengan gaya arsitektur modern. Gaya arsitektur Turki Usmani abad 18-19 memiliki ciri khas pada bangunan masjidnya yang tinggi dilengkapi dengan kubah tunggal, jendela-jendela besar, dan menara, seperti pada masjid Ortakoy dan Nur Osmaniye di Istanbul, Turki.

Pembangunan menara masjid dipercayakan kepada perusahaan Swanke Hayden Connell Architects of New York, sedangkan perancang menaranya adalah Alton Gursel, seorang arsitek keturunan Turki-Amerika. Menara yang ada sekarang ini merupakan pilihan terbaik di antara sembilan rancangan yang telah dibuatnya. Desain menara dibangun mengikuti gaya bangunan masjidnya dengan perbandingan tinggi masjid dan tinggi menara 1:1,5.

Penggabungan antara unsur kebudayaan Islam yang kaya akan nilai sejarah dan desain modern yang sederhana dalam pembangunan masjid ini menghasilkan sebuah karya yang dapat mempresentasikan kehadiran Islam yang berperadaban tinggi dan sederhana di tengah kota New York. Sejak pembukaannya pada tahun 1991, Islamic Cultural Center New York telah menjadi salah satu landmark di kota itu.

Keindahan Islam dalam Wajah Modern

Bangunan utama dari masjid berkubah ini terdiri atas tiga lantai. Pada lantai terbawah terdapat ruang shalat yang sering digunakan untuk shalat lima waktu. Pada bagian ini kehadiran dekorasi bergaya Islam tradisional terasa cukup kental. Mihrab bertuliskan kaligrafi bahasa Arab dengan hiasan geometri dan corak tumbuhan berada di bagian terdepan ruangan sebagai tanda arah kiblat dan tempat shalat imam. Dinding ruangan dihiasi juga oleh hiasan geometri khas masjid-masjid di Timur Tengah. Karpet berwarna merah dengan desain tradisional terhampar menutupi seluruh ruang shalat. Tempat shalat wanita berada di bagian belakang ruangan ini. Selain tempat shalat, di lantai dasar juga terdapat ruang kelas, perpustakaan, kantor, toko buku dan toko makanan.

Dari lantai dasar, tangga mengantar para jamaah terlebih dahulu ke tempat wudhu sebelum memasuki ruang shalat kedua di lantai berikutnya. Masjid ini memang memiliki dua buah ruang shalat. Pada saat pelaksanaan shalat Jumat, ruangan di lantai kedua ini dijadikan sebagai ruang shalat utama, ruang shalat di lantai dasar kemudian dipasang media audio visual, sehingga jamaah yang berada di lantai dasar bisa menyaksikan khutbah Jumat dari khatib yang berada di lantai kedua.

Ruang shalat di lantai kedua ini memiliki gaya interior yang berbeda dengan ruang shalat di lantai dasar. Ruangan yang sebenarnya adalah ruang shalat utama masjid ini memiliki gaya interior modern. Walaupun demikian, sentuhan Islami masih terlihat di beberapa bagian ruangan. Di dalam ruangan ini kita bisa melihat interior kubah yang memiliki desain geometris sederhana tanpa hiasan yang rumit kecuali kaligrafi huruf Arab di sekeliling sisi dan pusat kubahnya. Apabila kebanyakan ruang shalat di masjid berarsitektur tradisional menggantungkan lampu besar dari pusat kubah, di masjid ini terdapat 99 buah lampu kecil yang menggantung secara melingkar dari sisi kubahnya. Setiap lampu bertuliskan kaligrafi huruf Arab dari 99 nama Allah.

Pada siang hari, cahaya masuk ke dalam ruang shalat utama menembus jendela-jendela besar bercorak geometri yang berada di bagian atas dinding masjid. Dengan demikian para jamaah bagaikan bermandikan cahaya pada saat melakukan shalat di ruangan ini. Sistim pencahayaan ini diadopsi dari gaya arsitektur Turki Usmani yang selalu menambahkan jendela-jendela besar pada bangunan masjidnya sehingga seluruh bagian dalam masjid menjadi terang. Interior ruang shalat ini terkesan sangat sederhana, jauh dari kesan masjid tradisional yang penuh dengan dekorasi rumit. Mihrab yang terdapat di ruangan ini memiliki desain yang modern, begitu juga dengan mimbar dan karpetnya, berbeda dengan yang terdapat di ruang shalat lantai dasar. Pencahayaan yang baik dan warna dinding yang lembut membuat jamaah yang berada di ruangan ini menjadi sangat nyaman.

Lantai ketiga dari bangunan masjid adalah balkon yang menyatu dengan ruang shalat utama. Tempat ini biasanya dipakai oleh jamaah wanita.

Selain sebagai tempat shalat, masjid ini juga berfungsi sebagai tempat digelarnya berbagai kegiatan rutin seperti kelas pembelajaran Islam untuk umat muslim pada hari Sabtu dan Minggu, kelas khusus untuk pengunjung nonmuslim dan mualaf pada hari Sabtu, sekolah musim panas, dan dialog antaragama. Pada saat shalat Jumat, masjid ini mampu menampung lebih dari 2000 jamaah.

Keberadaan Islamic Cultural Center New York menjadi ikon keberadaan umat Islam di kota itu. Letak masjid yang berada di salah satu kawasan paling bergengsi dan desain masjidnya yang elegan mencerminkan profil keberagaman muslim yang tinggal di New York. Masjid ini adalah tempat shalat umat muslim dari berbagai bangsa dan negara dengan profesi yang beragam, baik para pekerja, mahasiswa, tenaga profesional, pemilik perusahaan besar, entertainer,  sampai dengan para diplomat dan orang-orang penting dari berbagai negara di dunia yang menetap atau sedang singgah di kota New York.

Posted by: schariev | May 15, 2010

Analisis Transaksional

Berikut adalah BAB II dari skripsi saya. tulisan ini berisi penjelasan tentang teori analisis transaksional dan games people play.

2.1 Analisis Transaksional

Eric Berne adalah ahli psikologi yang pertama kali mempelopori teori analisis transaksional. Menurut Verhaar (1993: 61) latar belakang dari teori ini pada umumnya didasarkan pada teori Sigmund Freud mengenai kepribadian manusia yang terdiri dari id, ego, dan super ego, akan tetapi Berne menganggap bahwa teori ini perlu disesuaikan dengan tuntutan-tuntutan yang berlaku pada interaksi antarindividu. Dalam sumber yang sama, Verhaar (1993: 60) kemudian menyatakan: “Berne menyebut metodenya metode “analisis transaksional” (transactional analisis) karena memang menyangkut transaksi-transaksi (psikis) antara para anggota kelompok”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa analisis transaksional mengkaji transaksi yang dilakukan oleh beberapa individu yang masing-masing memiliki kepribadian tersendiri.

Kata “transaksi” biasanya muncul dalam bidang perdagangan, yaitu proses tukar-menukar dalam sebuah bisnis. Selain itu, dalam Encarta Dictionary 2008 dinyatakan bahwa transaksi dalam bidang komunikasi bisa juga berarti sebagai: “A communication or activity between two or more people that influences all of them”. Pernyataan dari kamus tersebut memiliki arti bahwa transaksi adalah sebuah komunikasi atau aktivitas antara dua orang atau lebih yang memberi pengaruh pada diri mereka masing-masing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa analisis transaksional mengkaji dengan dalam mengenai proses transaksi, baik mengenai subjek pelaku transaksi, yaitu pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut, maupun objek transaksi, yaitu bahasa verbal maupun nonverbal yang diungkapkan oleh para pelaku transaksi tersebut. Berdasarkan teori analisis transaksional, analisis terhadap subjek pelaku transaksi dapat dilakukan melalui analisis instansi identitas atau sering disebut dengan analisis ego state. Sedangkan untuk menganalisis transaksi yang terjadi antara beberapa individu yang masing-masing memiliki ego state tersendiri itu dapat dilakukan sebuah analisis transaksi. Kemudian analisis dapat dilanjutkan pada penganalisisan rangkaian transaksi yang membentuk suatu jenis interaksi interpersonal, Berne menyebutnya dengan nama “pengisian waktu”, di antaranya adalah game (lihat Verhaar, 1993: 62, 72, 85). Untuk pembahasan lebih lanjut tentang ketiga analisis ini, akan dijelaskan dalam subbab-subbab berikutnya.

2.1.1 Ego States Menurut Encarta Dictionary 2008, kata “ego” berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti “saya” dan secara harfiah berarti “diri sendiri”. Kata “state” secara harfiah berarti “bagian” atau ”instansi”. Ego state yang dimaksud oleh Berne (2009: 8) adalah instansi-instansi dari suatu kepribadian atau identitas suatu individu. Berne juga menjelaskan bahwa ego state merupakan kepribadian manusia yang dibangun oleh pola-pola perasaan dan pengalaman yang terkait langsung dengan perilakunya. Dalam sumber lainnya, Verhaar (1993: 63) bahkan hanya menerjemahkan ego state menjadi “instansi identitas” saja.

Eric Berne (2009: 8) mula-mula mengkategorikan secara garis besar instansi-instansi yang dapat ditemukan dalam kepribadian manusia menjadi tiga jenis ego state, yaitu, eksteropsikis (“ekstero” berarti “dari luar”), arkeopsikis (“arkeo” berarti “dari dulu”), dan neopsikis (“neo” berarti “dari masa kini”). Eksteropsikis adalah pengaruh psikis dan pengalaman dalam diri seseorang yang didapatkan dari mereka yang pernah membesarkan seseorang sebagai anak kecil, yaitu orang tua dan orang dewasa yang berada di dalam sebuah keluarga. Arkeopsikis adalah pengaruh psikis yang didapatkan dari sisa-sisa pengalaman mereka sebagai seorang anak kecil. Dan akhirnya, yang dimaksud dengan neopsikis adalah pengalaman baru di dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai orang dewasa yang berpikiran rasional. Setiap individu pasti mendapatkan beberapa pengaruh tersebut yang akan mempengaruhi kepribadian dirinya. Istilah-istilah tersebut dinilai Berne terlalu sulit untuk dimengerti oleh masyarakat umum, oleh karena itu, Berne memakai istilah yang lebih mudah untuk dimengerti. Pengaruh eksteropsikis disebutnya dengan istilah ego state parent atau ego state orang tua, arkeopsikis diganti dengan ego state child atau ego state anak, dan neopsikis dinamai ego state adult atau ego state dewasa. Ego state yang menjadi karakter seseorang ketika dia melakukan transaksi dengan yang lainnya dapat diketahui dari caranya dalam berkomunikasi, seperti pada kalimat yang diungkapkannya dan bagaimana cara dia berbicara.

Mengenai pengertian dari ketiga instansi identitas utama ini, Verhaar (1993: 62) menyatakan: “Parent, Child, dan Adult yang mau dinyatakan adalah bukan pribadinya (bukan seorang ayah atau ibu, bukan seorang anak kecil, bukan seorang dewasa) melainkan instansi identitas, dan memang instansi tersebut tampak di dalam pribadi orang dewasa, anak kecil, atau orang tua.” Dengan kata lain, yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut bukanlah pribadi sesungguhnya, melainkan kepribadian atau sifat-sifat yang tampak pada pribadi-pribadi tersebut, misalnya, seorang anak kecil bisa berkepribadian dewasa (memiliki ego state dewasa) apabila dia selalu mengolah data yang ada ketika sedang berbicara dengan yang lainnya. Seorang anak kecil bisa berkepribadian orang tua apabila suatu ketika ia memerintah, mengajarkan atau menghakimi seseorang. Untuk selanjutnya, istilah dari jenis-jenis ego state yang digunakan dalam penelitian ini adalah istilah ego state dalam bahasa Indonesia, yaitu ego state orang tua, ego state anak, dan ego state dewasa.

Menurut Schlegel (dalam Eschenmoser, 2008: 14) tiga ego state utama yang telah disebutkan di atas masih bisa diuraikan menjadi beberapa bagian ego state lainnya:

1. Orang Tua Pengkritik (Kritisches Eltern): Ego state orang tua pengkritik secara keseluruhan adalah ekspresi pikiran dan perasaan seseorang dari sifat menghakimi. Orang yang memiliki ego state orang tua pengkritik cenderung menyampaikan pesan larangan dan penilaian ketika ia melakukan sebuah komunikasi (Eschenmoser, 2008: 16). Ungkapan-ungkapan dari ego state orang tua pengkritik lebih bersifat pengungkapan pendapat atau opini mengenai sesuatu yang hanya mengkritik atau menilai sesuatu tanpa menerima alasan atau pembelaan dari lawan bicaranya, dia bahkan tidak mau untuk memberikan solusi pemecahan masalahnya, contoh: “Kamu bodoh, menyetrika baju saja kamu tidak bisa.”

2. Orang Tua Pembimbing (Fürsorgliches Eltern): Berbeda dengan ego state orang tua pengkritik, ego state orang tua pembimbing cenderung berisi ungkapan pengertian dan kasih sayang. Sifat utamanya adalah layaknya orang tua yang baik, di antaranya adalah mengajarkan, mendukung, memberi bimbingan dan bahkan menentukan peraturan pada orang lain (Eschenmoser, 2008: 16). Ekspresi wajah yang ditampilkan oleh orang yang memiliki ego state orang tua pembimbing adalah wajah yang tenang dan suara yang lembut. Contoh dari ungkapan ego state ini adalah: “Saya akan mengajari Anda cara membuat laporan dengan benar, setelah itu silahkan Anda mencoba untuk buat sendiri laporannya. Saya yakin Anda pasti bisa.”

3. Anak Alamiah (Natürliches Kind): Sifat alamiah seorang anak menjadi dasar dari sifat ego state anak alamiah, seperti menggunakan perasaan atau emosi dalam berkomunikasi, spontan, dan berorientasi pada dirinya sendiri. Pemilik ego state anak alamiah ini hanya mengungkapkan apa yang ia inginkan dan apa yang ia rasakan (Eschenmoser, 2008: 15), contoh: “Saya senang kamu datang membantu saya. Bisa tolong ajarkan saya sekarang?” 4. Anak Penurut (Angepasstes Kind): Ego state ini muncul sebagai penyesuaian diri atau respon dari ego state orang tua atau ego state dewasa yang diperankan oleh lawan bicaranya. Tanggapan atau respon dari orang yang memiliki ego state anak penurut adalah sikap selalu menerima apa yang diperintahkan atau disarankan oleh lawan bicaranya dengan ekspresi pasrah dan keluhan bahkan dengan perasaan sedikit tidak suka. (lihat Eschenmoser, 2008: 15). Ego state anak penurut ini tidak akan memberi tanggapan lain selain keluhan dan pernyataan untuk menuruti perintah lawan bicaranya, contoh: “Baiklah saya akan mencobanya walaupun saya tidak yakin.”

5. Anak Pemberontak (Rebellisches Kind): Sama halnya seperti pada kasus ego state anak penurut, ego state ini muncul sebagai penyesuaian dirinya atau respon dari ego state orang tua atau ego state dewasa, akan tetapi respon yang diberikan jauh berbeda dari respon yang diberikan oleh ego state anak penurut. Ego state anak pemberontak biasanya memberikan respon dengan bentuk penolakan, emosi, dan ekspresi tidak suka (lihat Eschenmoser, 2008: 15). Contoh ungkapan dari ego state anak pemberontak adalah: “Enak saja menyuruh orang! saya tidak mau melakukannya!”

6. Dewasa (Erwachsenen): Ego state dewasa merupakan kepribadian yang ideal. Ego state dewasa tidak menggunakan emosi seperti ego state anak atau menggunakan opini seperti ego state orang tua, melainkan menggunakan data dan fakta sebagai bahan untuk membangun pemikirannya yang selalu rasional (lihat Eschenmoser, 2008: 17). Ego state dewasa selalu menggunakan komunikasi dua arah, diplomatis, hati-hati, dan jelas. Ego state dewasa selalu berbicara dengan tenang dan nada suara yang datar. Contoh dari ungkapan seseorang yang memiliki ego state ini adalah: “Saya sudah membaca semua bahan mata kuliah yang Ibu berikan kemarin. Saya akan memberikan laporannya lusa karena besok adalah hari raya.”

2.1.2 Analisis Transaksi

Pada subbab sebelumnya telah diutarakan bahwa dalam sebuah komunikasi, setiap pelakunya selalu mengungkapkan pesannya berdasarkan ego state yang dimilikinya. Ketika para pelaku komunikasi yang masing-masing memiliki ego state tersendiri ini berinteraksi, maka terbentuklah sebuah hubungan interpersonal yang dalam hal ini diistilahkan dengan nama transaksi. Dalam subbab ini akan dijelaskan lebih dalam menganai transaksi, khususnya macam-macam transaksi. Transaksi adalah suatu unit hubungan interpersonal yang dibangun oleh sebuah hubungan antara stimulus dan respon. Jika terdapat dua orang atau lebih dalam sebuah keadaan yang memungkinkan bagi mereka untuk melakukan sebuah komunikasi, maka cepat atau lambat salah seorang dari mereka akan berbicara atau memberikan beberapa indikasi lain yang menunjukan tentang keberadaan masing-masing bahwa sebenarnya mereka bisa saling berkomunikasi, contohnya adalah dengan mengatakan, “Selamat pagi!” atau melambaikan tangan, inilah yang dimaksud dengan stimulus transaksi. Kemudian orang yang lainnya mengatakan atau berbuat sesuatu dalam beberapa cara, seperti melambaikan tangan atau mengatakan, “Selamat pagi juga!” untuk memberikan tanggapan akan stimulus yang telah diungkapkan orang yang menyapanya, inilah yang disebut dengan respon transaksi (lihat Berne, 2009: 10).

Secara singkat Berne mendefinisikan pengertian dari analisis transaksi sebagai: “Ein Transaktions-Stimulus plus eine Transaktions-Reaktion” (Joines dalam Eschenmoser, 2008: 23). Pernyataan ini berarti bahwa sebuah transaksi terdiri dari sebuah stimulus dan sebuah reaksi. Dengan kata lain, syarat terbentuknya sebuah transaksi adalah adanya hubungan timbal balik antara stimulus yang diungkapkan penutur dan respon yang diungkapkan oleh lawan bicaranya. Selanjutnya Berne (2009: 10) menyatakan bahwa: “Analisis transaksi sederhana mendiagnosa bagaimana ego state mempengaruhi stimulus dan respon transaksi yang diungkapkan oleh masing-masing individu”. Memperjelas pernyataan Berne ini, Eschenmoser (2008: 23) kemudian menambahkan keterangan mengenai objek transaksinya, yaitu: “Hal yang dipertukarkan atau yang menjadi objek dalam sebuah transaksi adalah ungkapan dalam bentuk bahasa verbal maupun nonverbal.” Berdasarkan ketiga pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa analisis transaksi merupakan analisis hubungan antara stimulus dan respon yang diungkapkan dengan bahasa verbal maupun nonverbal oleh beberapa individu yang masing-masing memiliki ego state tersendiri.

Di dalam bukunya, Berne menyebutkan tiga jenis transaksi, yaitu complementary transaction (transaksi saling melengkapi atau transaksi komplementer), crossed transaction (transaksi silang), dan ulterior transaction (transaksi tersembunyi). Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai ketiga transaksi tersebut, akan dibahas dalam subbab-subbab berikutnya. Dalam setiap subbab, akan diberikan juga penjelasan melalui beberapa contoh dan gambar diagram transaksi. Diagram tersebut akan menjelaskan transaksi yang terjadi antara beberapa jenis ego state yang masing-masing disingkat menjadi OT (ego state orang tua), D (ego state dewasa), dan A (ego state anak).

2.1.2.1 Transaksi Komplementer Jenis transaksi ini akan terjadi apabila suatu ego state mengeluarkan stimulus berupa sebuah ungkapan atau perilaku dan akhirnya dia menerima respon yang tepat atau respon yang diharapkan (Berne, 2009: 11). Berikut ini adalah dua buah contoh dari transaksi komplementer yang dicontohkan oleh Verhaar (1993: 73 dan 78). Bagan A adalah percakapan mengenai seorang suami yang menanyakan letak arloji miliknya kepada istrinya lalu sang istri menjawabnya. Bagan B adalah percakapan mengenai seorang suami yang meminta uang kepada istrinya untuk membeli rokok lalu istrinya mengeluarkan sebuah opini bahwa suaminya itu terlalu banyak merokok: Pada bagan A, sang suami mengeluarkan stimulus kepada istrinya berupa pertanyaan objektif mengenai keberadaan arloji miliknya, dengan kata lain, stimulus ini berasal dari ego state dewasa. Kemudian istrinya menanggapi dengan jawaban yang objektif juga, jadi stimulus istrinya ini berasal dari ego state dewasa juga. Dengan kata lain, transaksi antar-ego state dewasa ini merupakan transaksi komplementer, karena sang suami mendapatkan respon yang diharapkannya. Pada bagan B, sang suami mengeluarkan stimulus kepada istrinya berupa pernyataan ekspresif bahwa dirinya menginginkan rokok, yaitu sebuah permintaan yang mengharapkan respon dari ego state orang tua. Kata “mau” adalah kata ekspresif yang menunjukkan keinginan dari dirinya sendiri, jadi stimulus ini berasal dari ego state anak. Lalu istrinya menanggapi dengan jawaban yang bersifat mengatur dan beropini bahwa suaminya terlalu banyak merokok: “Sebungkus saja.”, jadi stimulus ini berasal dari ego state orang tua. Transaksi ini juga dikatakan sebagai transaksi saling melengkapi atau komplementer karena sang suami yang mengeluarkan stimulus dari ego state anak akhirnya mendapatkan jawaban dari istrinya berupa respon dari ego state orang tua walaupun bisa saja sebenarnya sang suami tidak menghendaki opini dari istrinya. Transaksi komplementer merupakan jenis transaksi terbaik dalam suatu komunikasi antarindividu karena terjadi kesamaan pandangan dan pemaknaan terhadap pesan yang mereka pertukarkan. Transaksi ini bisa saja terus berjalan dengan baik dan menghasilkan transaksi-transaksi berikutnya. Apabila transaksi terus berjalan atau menghasilkan transaksi-transaksi lainnya sehingga membentuk sebuah rangkaian transaksi, maka respon yang diberikan akan menjadi stimulus baru bagi transaksi berikutnya.

2.1.2.2 Transaksi Silang “Transaksi silang akan terjadi ketika pemberi stimulus tidak mendapatkan respon yang tidak diharapkannya.” (Berne, 2009: 12). Hal ini bisa saja terjadi karena kesalahpahaman yang terjadi antara pemberi stimulus dan pemberi respon. Berikut ini adalah dua buah contoh dari transaksi silang. Contoh pertama adalah percakapan sepasang suami istri. Dalam contoh pertama ini, suami menanyakan letak arlojinya kemudian sang istri malah mengira kalau suaminya menuduh dirinya telah menyembunyikan arlojinya. Contoh kedua adalah percakapan sepasang kakak beradik. Dalam contoh kedua ini, seorang kakak menyuruh adiknya untuk membereskan kamarnya, tetapi sang adik malah memberontak dan beropini kalau kamar kakaknya lebih kotor: Dalam bagan C, sang suami mengeluarkan stimulus kepada istrinya berupa pertanyaan objektif mengenai keberadaan arlojinya, jadi stimulus ini berasal dari ego state dewasa dan mengharapkan untuk dibalas dengan respon dari ego state dewasa juga. Tetapi istrinya menanggapi dengan jawaban berupa respon dari ego state anak karena sang istri malah menganggap kalau suaminya tadi memberikan stimulus dari ego state orang tua yang mengeluarkan opini bahwa sang istri menyembunyikan arlojinya. Kesalahpahaman dalam pemaknaan ini pada akhirnya berujung pada pembentukan transaksi silang. Pada bagan B, terlihat sebuah konflik antara seorang kakak dan adiknya. Sang kakak mengeluarkan stimulus dari ego state orang tua dan mengharapkan adiknya mengeluarkan respon dari ego state anak penurut. Sang kakak memberikan stimulus dari ego state orang tua dengan cara menyuruh adiknya untuk membersihkan kamarnya. Tetapi sang adik malah mengeluarkan ego state orang tua juga yang memberikan opini bahwa kamar kakaknya lebih kotor. Pada akhirnya yang terjadi adalah transaksi silang. Berbeda dengan transaksi komplementer, transaksi ini sering menghasilkan hasil berupa efek negatif, seperti konflik. Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman dalam pemaknaan stimulus dan respon antar-pelaku transaksi.

2.1.2.3 Transaksi Tersembunyi Pada jenis transaksi tesembunyi, stimulus dan respon yang diungkapkan para pelaku transaksi memiliki arti yang tersembunyi dalam bentuk stimulus dan respon yang lain. Dengan kata lain, pesan yang diucapkan memiliki makna lain yang tersembunyi dibalik pesan yang diucapkan tersebut. Untuk lebih jelas mengenai jenis transaksi ini, dapat dilihat dari contoh yang dikemukakan oleh Verhaar (1993: 81) dalam bukunya sebagai berikut: Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga). Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal. Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”. Pada bagan E, terlihat bahwa semua stimulus dan respon yang diungkapkan masing-masing pelaku memiliki sifat dari ego state dewasa karena sama sekali tidak telihat mengandung opini atau sebuah ekspresi. Akan tetapi, ketika penjual berkata kepada sang ibu: “Yang tinggi itu terlalu mahal bagi ibu.”, sebenarnya terdapat respon tersembunyi pada perkataannya itu, yaitu respon yang diberikan oleh ego state orang tua pada anak. Dalam hal ini, penjual sebenarnya memberikan opini bahwa sang ibu tidak akan mampu membeli lemari es yang mahal. Kemudian, ibu itu membalas stimulus penjual tadi dengan respon tersembunyi di balik respon dewasa: “Yang tinggi itu mau saya beli!”. Pernyataan tadi adalah respon tersembunyi dari ego state anak sebagai jawaban dari stimulus tersembunyi penjual yang merupakan ego state orang tua. Berdasarkan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa pada transaksi tersembunyi, pemberi stimulus sebenarnya menginginkan agar lawan bicaranya bisa mengerti stimulus tersembunyi di balik stimulus yang diucapkannya dan memberikan respon yang diharapkan, sehingga komunikasi akan berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, apabila lawan bicaranya tidak mengerti stimulus tersembunyi yang terkandung dalam kalimat yang diungkapkannya, maka transaksi ini tidak akan lancar.

2.1.3 Pengisian Waktu Teori yang dikemukakan oleh Eric Berne dalam buku “Games People Play” tidak hanya membahas tentang analisis ego state dan analisis transaksi saja, melainkan juga tingkah laku orang dan bagaimana cara mereka berkomunikasi pada umumnya. Berne menonjolkan tingkah laku orang dan cara mereka berkomunikasi sehubungan dengan masalah yang terkadang sedang dialami orang-orang tersebut. Perbedaan jenis hubungan komunikasi ini dibedakan berdasarkan pada cara bagaimana setiap individu melakukan komunikasi pada saat dan di tempat tertentu, serta komunikasi seperti apa yang mereka lakukan jika bertemu dengan orang lain yang mempunyai hubungan sosial yang berbeda. Berne menyebutkan enam jenis interaksi interpersonal yang disebutnya dengan nama “structuring of time” atau “pengisian waktu”, yaitu: pengunduran, ritual, kegiatan, perintangan, game, dan keintiman (lihat Verhaar, 1993: 62 dan Berne, 2009: 6). Penjelasan mengenai jenis-jenis pengisian waktu tersebut akan diuraikan dalam subbab-subbab berikutnya.

2.1.3.1 Pengunduran

Sering didapatkan bahwa seseorang menaiki bis kota dan langsung duduk di kursi bis tesebut tanpa berbicara apapun pada penumpang yang lainnya selama perjalanan walaupun dirinya mengetahui bahwa bisa saja dia melakukan percakapan kecil dengan orang yang duduk di sampingnya. Tingkah laku seperti itu bisa terjadi karena usaha untuk mengundurkan diri dari interaksi sosial yang sedang berlangsung pada saat dan di tempat itu, walaupun terkadang dilakukan secara tidak sadar. Verhaar (1993: 85) menyatakan bahwa: “Pengunduran diri semacam ini bisa juga merupakan reaksi terhadap apa yang sedang berlangsung”. Dengan kata lain, pengunduran diri terjadi akibat keadaan tertentu yang dimiliki oleh pelakunya, misalnya dari contoh di atas, orang yang naik bis tadi sedang memiliki banyak masalah atau sedang bersedih sehingga tidak memungkinkan baginya untuk melakukan percakapan kecil dengan orang yang tidak dikenal pula.

2.1.3.2 Ritual

“Yang dimaksud dengan ritual dalam hal ini adalah suatu transaksi yang diprogramkan menurut kebiasaan yang disetujui secara sosial di tempat tertentu.” (Berne, 2009: 14). Dengan kata lain, struktur ritual di setiap tempat dapat berbeda-beda, ditentukan oleh kebiasaan masyarakat di tempat tersebut. Ritual adalah serangkaian transaksi saling melengkapi. Menjalankan ritual ini sangatlah mudah dan aman, sehingga tidak berdampak negatif. Sebuah ritual bisa diramalkan akan seperti apa ritualnya berlangsung. Begitu ritual ini selesai, tidak akan terdapat keterlibatan apa-apa lagi di antara para pelakunya. Contoh dari ritual ini adalah ketika A dan B bertemu pada suatu tempat dan waktu yang menuntut supaya sesuatu diperbincangkan, kalau tidak, kedua orang tersebut akan menjadi tegang. Oleh karena itu, A menyapa B: “Apa kabar? Mau ke mana?” lalu B menjawab “Mau pergi ke kampus.” Interaksi ini merupakan ritual saling menyalami. Bisa saja kalau A sebenarnya tidak peduli B mau ke mana. A hanya ingin mencairkan suasana dan membangun suatu hubungan yang baik dengan B. Selanjutnya ketika A berkata: “Saya duluan, Bu.”, maka selesailah ritual yang dilakukan A dan B dan kekosongan waktu selama perjalanan itu telah dihindari (lihat Verhaar, 1993: 85).

2.1.3.3 Aktivitas

Makna dari aktivitas yang dimaksud di sini adalah ketika dua orang atau lebih menjalankan suatu aktivitas dengan tujuan tertentu (Verhaar, 1993: 86), contohnya adalah ketika beberapa orang melakukan olah raga atau memperbaiki mobil bersama, kemudian mereka melakukan sebuah percakapan ringan tentang kejadian di sekeliling mereka. Pelaku komunikasi yang menggunakan aktivitas sebagai sarana komunikasinya adalah orang-orang yang sebenarnya cukup akrab untuk melakukan sesuatu bersama, tetapi tidak cukup akrab dalam bercakap-cakap tanpa ada kegiatan tertentu, contohnya ketika ayah dan anak yang lebih akrab dalam bercakap-cakap ketika mereka memancing bersama dibandingkan pada kesempatan lainnya.

2.1.3.4 Waktu Luang

Pastimes atau waktu luang bisa didefinisikan sebagai transaksi yang sederhana, semi-ritualistik, dan merupakan rangkaian beberapa transaksi komplementer, yaitu rangkaian transaksi berkelanjutan yang terbentuk akibat kesepahaman yang baik antara pelaku transaksi. Biasanya pastimes diawali dan diakhiri dengan ritual. Waktu luang sering muncul dalam sebuah pesta, acara perkumpulan, ketika menunggu acara utama dalam suatu pesta atau rapat dimulai, dan sebagainya. Waktu luang bisa dikatakan sebagai percakapan kecil atau chit-chat. Biasanya percakapan kecil ini memiliki tema objektif pada sekumpulan orang tertentu, contohnya adalah di dalam sebuah pesta, sekumpulan ibu rumah tangga membicarakan tentang model baju terbaru, resep masakan, atau mengenai keluarga mereka, sedangkan di salah satu sudut ruangan, para pria membicarakan tentang otomotif, pekerjaan mereka, atau pertandingan sepak bola. Tanpa percakapan kecil seperti ini akan membuat orang yang berada di pesta itu akan menjadi tegang. Di dalam percakapan jenis pastimes tidak terdapat transaksi tersembunyi, yang diungkapkan hanyalah untuk mengisi waktu luang. Biasanya transaksi yang timbul adalah antara ego state dewasa dan ego state dewasa atau antara ego state orang tua dan ego state orang tua. Transaksi yang terjadi merupakan transaksi komplementer, sehingga semua orang dapat menyetujui argumen-argumen yang dilontarkan dalam percakapan itu (lihat Berne, 2009: 16-17).

2.1.3.5 Game (Permainan)

Game adalah suatu jenis transaksi yang rumit. Ritual dapat berjalan dengan efektif, aktivitas dapat berakhir sukses, kegiatan dan waktu luang dapat berjalan dengan harmonis, semua jenis pengisian waktu tersebut didasari dengan keterbukaan dan kejujuran secara psikis, beda halnya dengan game yang dalam arti psikis tidaklah jujur serta memiliki motivasi tersembunyi untuk mendapatkan payoff pada setiap transaksinya (lihat Berne, 2009: 12). Khusus mengenai game, akan dibahas secara mendalam pada subbab 2.1.4.

2.1.3.6 Keintiman

Menurut Berne, pengisian waktu yang paling sempurna adalah dengan hubungan keintiman, kemesraan, dan keakraban (lihat Verhaar, 1993: 89). Di dalam sebuah keintiman, tidak terdapat game atau ketidakjujuran. Keintiman bagi setiap orang hanya akan mungkin dilakukan dengan jumlah beberapa orang saja yang sangat terbatas, misalkan suami, istri, anak, orang tua atau keluarga lainnya, dan beberapa sahabat yang akrab di luar lingkungan keluarganya.

2.1.4 Game dalam Buku “Games People Play”

“Game adalah rangkaian berkelanjutan dari sebuah transaksi komplementer dan tersembunyi yang hasilnya dapat terprediksi.” (Berne, 2009: 19). Game ini dimainkan oleh ketiga ego state, yaitu ego state anak, ego state orang tua, dan ego state dewasa. Berbeda dengan jenis pengisian waktu lainnya, game memiliki karakteristik tersendiri, yaitu sifat transaksinya yang tersembunyi atau samar-samar dan segi pencapaian payoff, sehingga secara psikis, game bisa disebut sebagai interaksi sosial yang tidak jujur walaupun tidak disadari secara langsung. Setiap game memiliki keuntungan tersendiri yang disebut dengan payoff bagi para pelakunya, mulai dari tujuan memperoleh simpati, kepuasan, pembenaran, sampai materi (lihat Verhaar, 1993: 87). Salah satu aspek terpenting dalam sebuah game adalah jumlah pemainnya. Sebuah game bisa saja dimainkan oleh dua, tiga, empat, lima, sampai oleh banyak orang, tergantung jenis game-nya. Aspek lain yang penting menurut Berne (2009: 26) dari sebuah game adalah:

Fleksibilitas: Transaksi yang terjadi di dalam sebuah game bisa memiliki objek transaksi dalam bentuk kata-kata, gerakan tubuh atau materi, disesuaikan dengan konteks yang meliputi game tersebut.

Ketahanan: Para pemain memiliki ketahanan yang berbeda dalam mengikuti sebuah game. Seorang pemain bisa saja menyerah dalam sebuah game atau tetap bertahan sampai game selesai.

Intensitas: Sebuah game yang mudah bisa dimainkan dengan santai, sedangkan game yang berat biasanya dimainkan dengan agresif dalam keadaan yang menegangkan.

Di dalam buku “Games People Play”, Berne mengemukakan puluhan jenis game dan memberikan contoh game-nya berupa beberapa buah contoh cerita. Kumpulan game tersebut memiliki ciri dan karakteristik tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dari segi transaksi, ego state pemain, tujuan, maupun payoff. Dalam penganalisisan sebuah game pada suatu teks percakapan, cerita di dalam teks percakapan tersebut tidaklah harus selalu sama persis dengan contoh cerita yang terdapat dalam teori game dari buku “Games People Play”, bisa saja tokoh dan jenis keuntungan dalam teks percakapan yang dianalisis berbeda dengan yang terdapat dalam contoh cerita dalam buku “Games People Play”, akan tetapi konteks dan tujuan game dalam teks percakapan yang dianalisis haruslah sejalan dengan ketentuan-ketentuan yang tersirat dalam contoh cerita dari buku “Games People Play”. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jenis-jenis game yang terdapat dalam buku “Games People Play” akan dijelaskan dalam subbab-subbab berikutnya.

2.1.4.1 Permainan Kehidupan (Life Games) Life games atau permainan kehidupan dimainkan dengan waktu yang lama sehingga dapat menyerupai sebuah bagian kehidupan. Macam-macam life games di antaranya adalah “Alkoholik”, “Pengutang”, “Tendang Saya”, “Sekarang Saya Tahu, Kamu adalah Seorang Bajingan”, dan “Lihat, Kamu Membuat Saya Melakukannya”. Game jenis ini di satu sisi memiliki hubungan dengan marital games (permainan pernikahan) dan di sisi lainnya berhubungan dengan underworld games (permainan dunia penjahat) (Berne, 2009: 30).

1) “Alkoholik” (Alcoholic): Game ini dimainkan oleh lima pihak, pihak pertama adalah sang pecandu alkohol yang biasanya memiliki ego state anak pemberontak sebagai orang yang terus-menerus melakukan kebiasaan buruk dan meminta beberapa respon mengenai perbuatannya dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Pihak kedua dimainkan oleh penganiaya (persecutor) yang selalu mengeluhkan keadaan sang pecandu, biasanya peran ini dimainkan oleh orang terdekatnya seperti istrinya yang selalu memarahi suaminya karena menghabiskan uang untuk mabuk-mabukan. Penyelamat (rescuer) yang memiliki ego state orang tua pembimbing adalah pihak ketiga yang memiliki peran untuk membantu pecandu alkohol supaya keluar dari kebiasaan buruknya, seperti dokter, keluarga, atau teman terdekat. Pihak keempat adalah seseorang yang memiliki kedekatan dengan sang pecandu alkohol tapi selalu memberikan peluang padanya untuk kembali melakukan hal yang buruk (patsy) yang biasanya memiliki ego state anak alamiah, contohnya adalah ibu dari pemabuk ini yang terus memberikan uang pada sang pemabuk untuk dibelikan minuman keras atau bisa juga dimainkan oleh teman sang pemabuk yang selalu mengajak kembali melakukan kebiasaan buruknya. Peran terakhir dimainkan oleh pedagang minuman keras, atau orang yang menjadi perantara bagi sang pemeran utama agar melakukan kebiasaan buruknya terus-menerus karena dia selalu diuntungkan dengan perbuatan buruk yang sering dilakukan sang pemeran utama. Game ini bisa dimainkan oleh dua pihak saja, seperti pemabuk dan dokter, pemabuk dan istrinya, dan sebagainya. Pemabuk ini selalu memiliki keinginan untuk menguji sang dokter dan istrinya, seberapa hebatkah atau seberapa keraskah sang dokter dan istrinya mengeluarkannya dari ketergantungan pada perbuatan buruknya. Sebenarnya pecandu alkohol ini lebih menikmati eksistensinya daripada menikmati sesuatu yang dicandunya, seperti sikap perhatian yang ia dapatkan dari beberapa orang di sekitarnya. Ketika game ini berakhir karena bantuan penyelamat, sang persekutor akan memaafkan sang pecandu, teman mabuknya akan kehilangannya dan pedagang minuman keras akan merugi (lihat Berne, 2009: 30-33).

2) “Pengutang” (Debtor): Game ini lebih mirip dengan naskah atau kisah kehidupan daripada sebuah game. Game “pengutang” dimainkan oleh dua pihak, yaitu debitor dan kreditor. Debitor (memiliki ego state anak) selalu memiliki pikiran untuk mencoba apapun yang ditawarkan oleh kreditor. Kreditor (memiliki ego state orang tua) selalu menawarkan sesuatu atau lebih pada kreditor dan selalu meyakinkan debitor agar mencoba untuk menerima tawarannya, sehingga debitor menjadi bergantung padanya. Barang yang dipertukarkan dalam game ini sekaligus merupakan payoff yang didapatkan oleh keduanya biasanya adalah uang dan barang. Ketika debitor sudah tidak memiliki uang lagi untuk membayar tagihan yang begitu banyak, biasanya debitor menyerahkan semua harta kekayaannya dan tinggal bersama keluarga terdekat. Setelah itu barulah debitor sadar bahwa dia sudah terperangkap dalam jebakan sang kreditor. Game ini biasanya berakhir dengan game lain bernama “Sekarang Saya Tahu, Kamu adalah Bajingan“ sebagai ungkapan kekesalan debitor kepada kreditor dan game “Mengapa ini selalu Terjadi Padaku” sebagai ungkapan penyesalan pada dirinya sendiri (lihat Berne, 2009: 33-34).

3) “Tendang Saya” (Kick Me): Game ini dimainkan oleh orang yang sedang depresi karena kegagalan atau kesalahan yang ia perbuat. Motif utama seseorang untuk memainkan permainan ini adalah ketika dirinya ingin disalahkan dan pasrah terhadap perlakuan apapun yang akan dia dapatkan, dengan kata lain dia selalu berperan menjadi victim atau korban dan memiliki ego state anak penurut. Game ini bisa berlanjut ketika dia mendapatkan simpati dan pengampunan atas masalah yang telah dia perbuat dari orang di sekitarnya dengan cara merendahkan dirinya sendiri seperti mengungkapkan perasaannya dengan kalimat: “Tendang saya!”. Setelah itu dia akan mendapatkan respon dari orang sekitarnya dan mendapatkan beberapa bantuan. Selanjutnya dia dapat memainkan game “Saya Hanya Mencoba Menolong Kamu” (lihat Berne, 2009: 35).

4) “Sekarang Saya Tahu, Kamu adalah seorang Bajingan” (Now I’ve Got You, You Son of a Bitch): Dalam bukunya, Berne (2009: 35) menjelaskan game ini dengan satu contoh cerita, yaitu ketika seorang pemilik rumah memanggil tukang ledeng untuk memperbaiki saluran airnya, kemudian dia dan tukang ledeng memperhitungkan biaya belanja yang akan dikeluarkan. Harga pun disepakati bersama tanpa ada tambahan biaya. Setelah pekerjaan tukang ledeng itu selesai, ternyata terdapat biaya tambahan pada kertas tagihannya melebihi harga yang telah disepakati. Pemilik rumah itu marah dan membeberkan kesalahan tukang ledeng tersebut. Akhirnya tukang ledeng menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Inti dari permainan ini adalah penghakiman pihak pertama terhadap kesalahan yang telah dilakukan pihak kedua dan pihak kedua ini tidak bisa mencari pembenaran lain atas kesalahannya. Terkadang pihak pertama ini sampai memiliki kemarahan yang sangat besar, sehingga bisa menganiaya pihak kedua secara habis-habisan, sehingga pihak kedua bisa saja akhirnya memainkan game “Tendang Saya” untuk meminta simpati dari orang di sekitarnya. Transaksi yang terjadi pada permainan ini adalah transaksi dari ego state orang tua pengkritik yang menghakimi ego state anak penurut.

5) “Lihat, Kamu Membuat Saya Melakukannya” (See What You Made Me Do): Game ini dapat dilakukan dalam tiga tingkatan, contohnya, game tingkat pertama dilakukan ketika seorang ayah yang sedang menikmati hobinya melukis, lalu anaknya datang dan menanyakan tentang rencana liburan keluarga. Sang ayah merasa terganggu dan akhirnya melakukan kesalahan pada lukisannya, lalu ayah berkata pada anaknya dengan nada tinggi “Lihat? Gara-gara kamu lukisan ayah jadi rusak!” sang anak pun akhirnya pergi dengan penyesalan dan rasa sedih. Dengan mengatakan demikian, sang ayah tidak akan diganggu lagi kelak ketika sedang terlarut dalam hobinya. Tingkat kedua dari permainan ini adalah lanjutan dari tingkat pertama, yaitu ketika dilanjutkan dengan amarah dari sang ayah yang dilampiaskan pada anaknya dengan cara mencaci-maki anaknya sampai anaknya memainkan game “Tendang Saya” atau “Mengapa Ini Selalu Terjadi Padaku”. Tingkat ketiga dimainkan ketika kerusakan yang telah terjadi akibat permainan ini menjadi sangat besar, biasanya dimainkan oleh suami istri yang berujung pada pertengkaran hebat atau perceraian, sehingga membutuhkan penanganan dari pihak lain seperti konsultan atau psikiater (lihat Berne, 2009: 36-37).

2.1.4.2 Permainan Pernikahan (Marital Games) Hampir semua jenis game ini dimainkan dalam kehidupan pernikahan dan keluarga, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada kehidupan sehari-hari dengan konteks yang sama pada kehidupan pernikahan. Jenis-jenis dari game ini di antaranya adalah “Sudut”, “Ruang Pengadilan”, “Perempuan Berhati Dingin”, “Terlalu Berat”, “Jika saja ini Bukan untuk Kamu”, “Lihat, Betapa Kerasnya Saya Berusaha”, dan “Kekasih” (Berne, 2009: 39).

1) “Sudut” (Corner): Untuk mengetahui lebih jelas mengenai game ini, Berne (2009: 39-40) memberikan sebuah contoh kasus permainan sebagai berikut: Seorang istri mengajak suaminya untuk pergi ke bioskop dan suaminya setuju. Sesaat kemudian sang istri bilang kepada suaminya kalau rumahnya perlu dicat, tetapi suaminya menolak dengan kasar. Hati sang istri terluka dan menyuruh suaminya untuk pergi ke bioskop sendirian saja karena sang istri butuh waktu menyendiri untuk mengobati sakit hatinya. Pada akhirnya sang suami pergi ke bioskop bersama anak-anaknya, meninggalkan istrinya yang perasaannya sedang terluka sendirian di rumah. Sebenarnya sang suami tahu kalau istrinya ingin dibujuk, tetapi dia tidak menghiraukannya. Dengan cara tinggal di rumah dengan perasaan sedih, sang istri bisa mendapatkan kemenangan, yaitu menimbulkan rasa bersalah kepada suaminya.

2) “Ruang Pengadilan” (Courtroom): Permainan ini dimainkan oleh tiga pihak, contohnya adalah seorang istri, suaminya dan psikiater. Suami-istri ini pergi ke psikiater untuk memintanya membantu permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Salah satu dari mereka akan berkata: “Katakanlah kalau saya yang benar.” dan yang lainnya berkata: “Faktanya adalah seperti ini…”. Percakapan yang terjadi selama itu bisa saja berjalan tenang atau berujung konflik. Pada akhirnya psikiater yang menentukan siapa yang salah atau benar dan permainan pun berakhir. Biasanya transaksi yang terjadi dalam game ini adalah transaksi komplementer antara suami-istri yang memiliki ego state anak dan psikiater yang memiliki ego state orang tua pembimbing (lihat Berne, 2009: 41).

3) “Perempuan Berhati Dingin” (Frigid Woman): Berne (2009: 42) menjelaskan game ini dengan sebuah contoh: seorang istri menganggap kalau suaminya dan semua laki-laki itu hanya menginginkan seks dan tidak sungguh-sungguh mencintainya, mereka beradu argumen dan perang dingin pun dimulai. Sebulan kemudian sang istri merasa rindu akan sentuhan suaminya, kemudian dibujuklah sang suami untuk bercinta dengannya, suaminya mengira kalau permasalahan sebulan lalu sudah terlupakan dan akhirnya mereka pun bercinta. Setelah itu istrinya mengatakan kembali kalau suaminya memang hanya membutuhkan seks dari dirinya dan semua laki-laki adalah binatang. Tidak jarang permainan ini berakhir dengan pertengkaran. Dengan game ini, sang istri dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan suci sedangkan suaminya adalah seorang yang seperti binatang.

4) “Terlalu Berat” (Harried): Berne (2009: 43-44) menjelaskan game ini dengan sebuah contoh: Seorang istri memposisikan dirinya pada posisi yang berat, dia harus melakukan banyak sekali pekerjaan dalam kesehariannya. Sang istri bisa dikatakan bekerja sebagai perawat, pekerja rumah tangga, guru, pelayan, dan sebagainya. Bertahun-tahun dia jalani kehidupan yang berat itu, dia pun merasa sangat lelah dengan hidupnya. Sebenarnya sang istri bisa saja memainkan game “Jika Saja Ini Bukan Karena Kamu” untuk mendapatkan simpati yang lebih atau “Blemish” untuk melampiaskan kekesalannya, tetapi sang istri terus melanjutkan hidupnya dan tidak menemukan jalan lain, akhirnya dia memainkan “Terlalu Berat” karena menurutnya cara kerja permainan ini sangat mudah bagi dirinya. Sang istri cukup menjalankan kegiatan kesehariannya yang berat tersebut dan melakukan pekerjaan tambahan yang lain, sehingga kondisi sang istri akan sangat lelah dan akhirnya sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Walaupun cara ini terlihat sangat kasar, pada akhirnya sang istri mendapatkan kemenangannya di atas ranjang rumah sakit, dia terbebas dari pekerjaannya, dia mendapatkan penyesalan dari keluarganya dan akhirnya sang istri akan mendapat perhatian lebih dari keluarganya dan kelak tidak akan disuruh atau dibiarkan oleh keluarganya untuk bekerja terlalu berat lagi, bahkan akan membuat keluarganya tersadar, bahwa dia adalah orang yang sangat berjasa.

5) “Jika Saja Ini Bukan Untuk Kamu” (If It Weren’t For You): Contoh cerita dari game ini adalah ketika seorang istri yang suka sekali bergaul dengan teman-temannya memiliki seorang suami yang sangat dominan dan mengatur pergaulan istrinya dengan keras. Suatu saat, sang istri disuruh suaminya untuk menolak ajakan teman-temannya keluar rumah dan menyuruhnya tinggal di rumah saja dan melakukan sebuah pekerjaan untuk suaminya. Kemudian sang istri menyetujuinya dan berkata: “Jika bukan karena kamu, sekarang saya pasti sedang bersenang-senang dengan teman-teman”. Dengan mengatakan kalimat ini sang istri akan memperoleh beberapa payoff. Pertama, sang istri menjadi pihak yang tidak bisa disalahkan apabila dirinya melakukan sebuah kesalahan ketika melakukan pekerjaan yang disuruh suaminya, sehingga suaminya akan menerima apapun yang telah dilakukan sang istri apa adanya karena istrinya dianggap telah melakukan suatu pengorbanan. Kedua, sang istri dapat menimbulkan perasaan bersalah pada suaminya, sehingga sang suami akan memanjakannya atau memenuhi permintaannya jika ia meminta sesuatu (lihat Berne, 2009: 20-21).

6) “Lihat Betapa Kerasnya Saya telah Berusaha” (Look How Hard I’ve Tried): Dengan mudah game ini dapat dimainkan ketika seorang anak mengerjakan pekerjaan yang diberikan sang ibu padanya. Anak itu tidak selesai mengerjakannya dengan baik atau pekerjaan itu malah menjadi berantakan. Sang ibu tidak bisa menyalahkan anaknya, karena anaknya telah berusaha semampunya. Dengan kata lain, dengan melakukan pekerjaan semampunya, maka sang anak memposisikan dirinya sebagai anak yang tidak bisa disalahkan. Selanjutnya game ini dapat dimainkan dalam tiga tingkatan, contoh dari tingkat pertama adalah ketika seorang pria memberi tahu rekan kerjanya kalau dia sedang sakit, lalu dia melakukan pekerjaannya sampai selesai, maka semua rekan kerjanya akan kagum padanya dan menghargai apapun hasil pekerjaannya. Tingkat kedua: Pekerja ini tidak memberitahukan kalau dia sedang sakit, lalu ketika dia mengerjakan pekerjaannya, dia terjatuh dan pingsan, setelah rekan kerjanya tahu kalau dia sedang sakit, mereka akan lebih menghargai hasil pekerjaannya dan timbul rasa bersalah atau simpati. Tingkat ketiga: Pekerja ini meninggal dunia ketika melakukan pekerjaannya karena ternyata dia menderita kanker, perasaan bersalah dan penghargaan dari rekan kerjanya akan datang dalam kualitas tertinggi. (lihat Berne, 2009: 45-46).

7) Kekasih (Sweetheart): Game ini dimainkan ketika seorang suami meminta persetujuan kepada istrinya akan opini sang suami dalam sebuah acara pesta dengan mengatakan “Benar kan, sayang?” sehingga istrinya akan menyetujui apapun yang dikatakan oleh suaminya. Sang istri tidak mungkin menolak untuk menyetujui argumen dari suaminya yang menyapa dirinya dengan kata “sayang” padanya di depan publik (Berne, 2009: 46).

2.1.4.3 Permainan Pesta (Party Games) Party games dimainkan layaknya dalam sebuah pesta. Pastimes dalam sebuah pesta seringkali menjadi dasar atau awal dari permainan “Bukankan Itu Menyakitkan”, sekumpulan orang pencari keburukan orang lain memainkan “Blemish”, sang “Schlemiel” membuat keributan dalam pesta tersebut, dan sebagian orang di sudut ruangan memainkan “Kenapa Kamu Tidak – Ya, Tetapi”. Dengan demikian, kelompok permainan ini mudahnya disebut dengan party games (Berne, 2009: 47).

1) “Bukankah Itu Menyakitkan” (Ain’t It Awfull): Game ini bisa dimainkan pada sebuah pesta, obrolan pastimes, atau percakapan lainnya. Sang pemain mengatakan suatu kejadian yang menyedihkan dan mengharapkan respon atau payoff berupa simpati dari orang yang mendengarkannya. Sehingga mereka selanjutnya akan membicarakan hal yang butuh perhatian atau simpati tersebut bahkan memenuhi motif tersembunyi dari pemain utama (Berne, 2009: 47). Contohnya adalah ketika seorang ibu menceritakan penyakit yang diderita anaknya sehingga mendapatkan simpati dari tetangganya berupa perhatian bahkan materi.

2) “Mencemarkan” (Blemish): Pemain dari game ini sebenarnya adalah seseorang yang merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya sendiri akibat seseorang di sekitarnya, akhirnya dia mencari-cari keburukan atau kesalahan orang tersebut dan terkadang membicarakannya dengan teman-temannya. Hal ini bisa mengakibatkan teman-temannya menjadi berpikiran atau berpendapat sama dengannya. Pemain game ini juga bisa melakukan aksinya langsung kepada orang yang dituju. Game ini bersifat parental, atau dengan kata lain, transaksi yang terjadi adalah antar-ego state orang tua atau ego state orang tua terhadap ego state anak (lihat Berne, 2009: 48).

3) “Schlemiel” (Schlemiel): Game ini dimainkan oleh seseorang yang suatu ketika melakukan kesalahan yang berat pada orang lain, lalu orang itu memaafkannya. Orang yang bersalah ini terus melakukan kesalahan lainnya pada orang tersebut, karena dia menganggap semua orang akan selalu memaafkannya (Berne, 2009: 49).

4) “Kenapa Kamu Tidak – Ya, Tetapi” (Why Don’t You – Yes, But): Verhaar (1993: 88) memberikan contoh dari game ini melalui sebuah teks percakapan sebagai berikut: X : “Saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan.” Y: “Susah, ya… Tapi mengapa kamu tidak memasang iklan di koran-koran?” X: “Ya… Tapi soalnya iklan terlalu mahal.” Y: “Yang besar memang mahal, tetapi ada juga iklan kecil yang cukup murah. Mengapa kamu tidak mencari keterangan di bagian periklanan?” X: “Ya.., tetapi soalnya iklan kecil tidak dibaca orang.” Y: “Itu betul juga… Lantas mengapa kamu tidak mampir di lembaga (sebut nama lembaga/ biro jasa tertentu). Mereka sering memberi informasi tentang lowongan dan jasanya gratis.” X: “Ya, tetapi saya malu menghadap pegawai-pegawai di situ, mereka suka campur tangan.” Pada taraf sosial, setiap transaksi yang terjadi adalah transaksi antar-ego state dewasa. Tetapi pada situasi psikis, tarafnya lain. X dengan tidak sadar membuktikan bahwa Y tidak bisa berbuat apa-apa dan gagal menjadi penasihat yang baik untuk X. Z tidak tahu kalau dia sedang dipermainkan dan terjerat, Z hanya ingin menjadi penasihat yang baik (memainkan ego state orang tua). Permainan ini akan terus berlanjut sejalan dengan X yang terus mengatakan: “Ya, tetapi” sampai Y kehabisan akal untuk mencari solusi lain. Permainan ini juga bisa sebagai indikasi seseorang yang ingin ditolong tetapi belum siap untuk menolong dirinya sendiri.

2.1.4.4 Permainan Seksual (Sexual Games) Sebagian besar keuntungan atau payoff dari kelompok game ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan seks dan dimainkan sebelum pernikahan. Kerusakan yang terjadi akibat game jenis ini bisa sangat fatal, seperti game yang berujung dengan pembunuhan dan pengadilan.

1) “Biarkan Kamu dan Dia Bertarung” (Let’s You And Him Fight): “Game ini biasa dilakukan seorang wanita yang membiarkan dua orang pria bertarung atau berlomba untuk mendapatkan dirinya. Dengan demikian, payoff dari game ini adalah sesuatu dari yang diperebutkan kedua belah pihak” (Berne, 2009: 54).

2) “Perbuatan yang Tidak Wajar” (Perversion): Game ini dimainkan oleh seorang psikopat seksual yang melakukan pebuatan yang tidak wajar kepada teman yang sama-sama menyukai hal-hal yang berbau seks, sehingga mereka bisa saja memainkan “Kaki Kayu” dan menghindari lingkungan sosial yang umum (Berne, 2009: 54).

3) “Rapo” (Rapo): Game ini dimainkan oleh dua orang, biasanya adalah seorang pria dan wanita dalam tiga jenis intensitas, yaitu: Rapo tingkat pertama terjadi ketika pria menggoda sang wanita dan wanita ini tertarik dengan godaan sang pria dan akhirnya permainan berakhir dengan kemenangan di pihak pria. Rapo tingkat dua adalah ketika godaan sang pria ditolak oleh wanita, kemudian wanita ini meninggalkannya dan sang pria menyerah tanpa berbuat apa-apa. Rapo tingkat ketiga terjadi ketika penolakan wanita terhadap godaan sang pria dibalas oleh pria tersebut dengan paksaan, biasanya berakhir dengan penindasan pada sang wanita (lihat Berne, 2009: 55).

4) “Permainan Kaus Kaki” (The Stocking Game): Game ini adalah berbagai macam perbuatan yang dilakukan oleh seorang wanita atau pria secara tidak langsung untuk menarik perhatian seksual seseorang (lihat Berne, 2009: 56).

5) “Kegemparan” (Uproar): Eric Berne (2009: 57) memberikan contoh dari game ini berupa kejadian pertengkaran antara ayah dan anaknya di dalam rumah, pertengkaran ini berakhir dengan tiga kemungkinan, pertama: sang ayah masuk ke kamarnya dan membanting pintu, kedua: sang anak masuk ke kamarnya dan membanting pintu, kemungkinan terakhir terjadi ketika keduanya masuk ke kamar masing-masing dan keduanya membanting pintu. Masuknya mereka ke kamar masing-masing sambil membanting pintu adalah tanda bahwa mereka memiliki posisi atau urusan masing-masing. Payoff yang didapatkan oleh pemainnya adalah pembuktian kalau pihak yang lainnya adalah pihak yang salah. Game ini bisa dimainkan oleh siapa saja dalam posisi yang saling melawan dan beradu argumen, sehingga secara alami permainan ini biasanya berlanjut ke game “Ruang Pengadilan”.

2.1.4.5 Permainan Dunia Penjahat (Underworld Games) Banyaknya contoh dari kumpulan game ini yang muncul dalam lingkungan penjara, kepolisian dan dunia kriminal, serta motif tersembunyi khas yang dimiliki oleh setiap pemainnya, membuat game “Polisi dan Pencuri”, “Bagaimana Cara Kamu Keluar dari Sini”, dan “Mari Kita Jerumuskan Dia” dengan mudah dikelompokkan dalam satu jenis game dan diberi nama underworld games (lihat Berne, 2009: 59).

1) “Polisi dan Pencuri” (Cops and Robbers): Dalam sebuah contoh, game ini dimainkan oleh dua pihak, yaitu penjahat dan polisi. Polisi selalu memiliki keinginan yang besar untuk mengejar penjahat dan sebenarnya sang penjahat selalu membuka kemungkinan untuk ditangkap seperti dengan berkata: “Tangkaplah saya jika kamu bisa!”. Semakin susah ditangkap, polisi semakin semangat untuk menangkap pencuri ini karena nilai tangkapannya akan semakin besar, dan apabila polisi menyerah untuk menangkap pencuri, biasanya sang pencuri akan kecewa karena permainan selesai sebelum waktunya walaupun sang pencuri akan sangat kecewa kalau sampai tertangkap polisi (lihat Berne, 2009: 60). Dalam sebuah percakapan, game dapat berupa sebuah tanya-jawab. Orang yang bertanya diibaratkan sebagai polisi dan orang yang ditanya diibaratkan sebagai penjahat.

2) “Bagaimana Cara Kamu Keluar dari Sini” (How Do You Get Out of Here): Game ini dimainkan oleh orang yang ingin keluar dari satu hal dan menanyakannya atau memperbincangkannya dengan seseorang. Kemudian lawan bicaranya memberikan beberapa cara untuk keluar dari hal tersebut. Pada akhirnya orang yang ingin keluar dari satu hal ini melakukan apa yang seharusnya dilakukan, contohnya adalah ketika seseorang ingin keluar dari penjara, dia harus “berkelakuan baik”, walaupun sebenarnya kelakuan baiknya itu hanyalah topeng sebagai alatnya untuk cepat keluar dari penjara (lihat Berne, 2009: 61).

3) “Mari Kita Jebak Dia” (Let’s Pull a Fast One on Joey): Game ini dilakukan oleh dua pihak yang ingin menjerumuskan atau menjebak satu pihak. Mereka bekerja sama dan menyusun rencana sebaik mungkin dan bisa saja hasilnya berjalan sesuai dengan rencana. Tetapi kadang rencana itu gagal dan ketahuan sebelum rencana tersebut berjalan, sehingga pihak ke empat, yaitu pihak “penegak kebenaran”, menyelesaikan masalah (lihat Berne, 2009: 62).

2.1.4.6 Permainan Ruang Konsultasi (Consulting Room Games) Di dalam kelompok game ini, “Saya Hanya Mencoba Menolong Kamu” dan “Psikiater” dimainkan oleh seseorang yang layaknya seorang ahli terapi dan dokter, “Rumah Kaca” dimainkan layaknya oleh orang-orang profesional yang “memakan” pasiennya sendiri, kemudian “Fakir Miskin”, “Petani”, “Bodoh” dan “Kaki Kayu” dimainkan oleh seseorang layaknya pasien (Berne, 2009: 63). Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis dari game ini:

1) “Rumah Kaca” (Greenhouse): Contoh dari game ini adalah: seorang psikiater yang memandang sebuah kasus sebagai bunga dalam rumah kaca yang akan lebih baik untuk diamati dan dibiarkan tumbuh saja sampai waktu tertentu hingga siap untuk dipanen. Dalam hal ini permasalahan dianggap sebagai suatu percobaan dan pengamatan. Permasalahan dibiarkan melebar sehingga dia mendapat keuntungan berupa pengetahuan yang lebih (Berne, 2009: 63). Dengan kata lain, pemain game ini memberikan sebuah pertolongan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

2) “Saya Hanya Mencoba Menolong Kamu” (I’m Only Trying To Help You): Contoh dari game ini adalah ketika seorang pasien dengan penyakit yang cukup parah dan langka datang kepada seorang dokter terpercaya dan meminta untuk disembuhkan. Pengobatan dan terapi pun berlanjut dari hari ke hari. Sang pasien merasa kalau penyakitnya semakin parah dan menyalahkan pada dokter, kalau sang dokter melakukan mal praktek. Sang dokter hanya berkata: “Saya hanya berusaha untuk membantu Anda.”, maka permainan pun selesai, sang dokter mendapatkan pengampunan secara psikologis walaupun bisa saja sang pasien melaporkannya pada pihak berwenang. (lihat Berne, 2009: 63-65). Permainan ini juga biasa dilakukan untuk membuat kerusakan pada orang lain secara tidak langsung.

3) “Fakir Miskin” (Indigence): Game ini adalah pasangan dari “Saya Hanya Mencoba Menolong Kamu” ketika dimainkan oleh seorang pekerja sosial yang hidup dari pekerjaannya, dan “Fakir Miskin” dimainkan oleh klien yang hidup dari lembaga sosial ini. Ketika klien sudah tidak membutuhkan bantuan dari lembaga sosial ini lagi, maka pekerja sosial akan kehilangan pekerjaannya. Oleh karena itu, permainan ini dimainkan sang pekerja sosial supaya kliennya tidak mendapatkan pekerjaan dengan cepat (lihat Berne, 2009: 66-67).

4) “Petani” (Peasant): Contoh dari game ini adalah ketika seorang petani dari sebuah desa pergi berobat ke sebuah klinik di kota. Ketika bertemu dengan dokter di klinik tersebut, sang petani percaya sepenuhnya pada sang dokter bahwa dirinya akan disembuhkan. Sang dokter bisa saja mempergunakan kesempatan ini untuk menjadikan sang petani sebagai bahan percobaan bagi mahasiswa kedokterannya karena sang petani akan menuruti dan mempercayai apa yang akan dilakukan sang dokter kepadanya. Pada akhirnya sang petani akan menuruti semua saran dokter. (Berne, 2009: 67-68).

5) “Psikiater” (Psychiatry): Pemeran dalam game ini adalah layaknya seorang dokter yang mengobati pasiennya. Dia akan berusaha semampunya sesuai dengan prosedur yang berlaku dalam membantu pasiennya dan memberikan beberapa saran atau syarat pada pasiennya mengenai hal apa yang harus pasiennya lakukan. Keuntungan yang didapatkan oleh pemain ini setelah membantu orang lain adalah pertambahan pengetahuannya, dalam contoh ini, dia akan menjadi dokter yang lebih baik lagi setelah mengobati pasiennya (Berne, 2009: 69-71).

6) “Bodoh” (Stupid): Game ini dimainkan oleh seseorang yang sengaja berbuat bodoh dan menjadikan kebodohan tersebut menjadi jati dirinya supaya dikenal oleh orang sekitar sebagai orang yang bodoh. Orang tersebut tidak mau membuat sebuah kemajuan. Dia lebih suka apabila orang di sekitarnya menertawakan kebodohannya. Kebodohan yang dilakukannya tidak bisa dimaafkan oleh orang disekitarnya. Dengan cara ini, dia tidak akan belajar di sekolah dengan baik dan tidak bekerja di tempat kerjanya terlalu berat, karena orang lain menganggap dirinya adalah orang yang bodoh. (Berne, 2009: 70).

7) “Kaki Kayu” (Wooden Leg): Dimainkan oleh seseorang yang memiliki beberapa kekurangan tertentu, contohnya adalah keterbatasan fisik atau kemampuan lainnya. Pemain game ini menggunakan kekurangan ini sebagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa, sehingga orang yang berada di lingkungannya tidak akan mengharapkan apa-apa darinya. Pemain Kaki Kayu juga menggunakan kekurangannya sebagai alat untuk permohonan maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat bahkan simpati dari orang sekitarnya sehingga ia akan mendapatkan pertolongan (lihat Berne, 2009: 71-72).

2.1.4.7 Permainan Baik (Good Games) Sebagian besar game memiliki motivasi yang sangat tersembunyi dan selalu memiliki nilai eksploitasi. Berbeda dengan beberapa game sebelumnya, good games cenderung memberikan efek yang baik pada setiap pemainnya. Berikut adalah beberapa jenis good games yang diungkapkan Berne di dalam bukunya (2009: 73-75):

1) “Liburan Seorang Supir Bus” (Busman’s Holiday): Sebenarnya ini lebih mirip dengan pastimes daripada sebuah game. Game akan berjalan apabila memiliki transaksi tersembunyi, contohnya adalah ketika seorang pegawai mengajak pegawai lainnya untuk pergi jalan-jalan ke luar kantor dan minum di restoran sambil mengerjakan tugas bersama milik mereka berdua. Keuntungan didapatkan oleh kedua pihak tersebut, mereka akan menyelesaikan pekerjaanya dengan suasana yang lebih santai di luar tempat dan waktu kerja mereka.

2) “Kavaleri” (Cavalier): Game ini biasa dimainkan oleh seorang pria yang sedang merayu seorang wanita tanpa ada penekanan seksual. Game ini merupakan bentuk rasa saling mengagumi (lihat Berne, 2009: 73-74).

3) “Senang untuk Menolong” (Happy To Help): Game ini dimainkan oleh seseorang yang senang menolong tetapi memiliki motif tersembunyi di balik perbuatan baiknya ini, seperti menutupi kesalahan yang telah dia perbuat pada waktu yang telah lalu, motif mendapatkan teman dan pengakuan, atau ingin melebihi saingannya (lihat Berne, 2009: 74).

4) “Guru yang Bersahaja” (Homely Sage): Contoh dari game ini adalah ketika seseorang yang berpendidikan pindah ke sebuah desa. Semua orang di desa tersebut selalu datang kepadanya untuk meminta pemecahan masalah mereka. Dia akan selalu mendengarkan masalah yang diungkapkan orang di sekitarnya dan berbagi pengalaman dengan mereka (Berne, 2009: 75).

5) “Mereka akan Senang telah Mengenal Saya” (They’ll Be Glad They Knew Me): Contoh dari game ini dimainkan oleh seseorang yang ingin eksistensinya diakui atau lebih dihormati oleh orang disekitarnya. Orang ini melakukan sesuatu yang akan membuat orang di sekitarnya bangga telah mengenal dirinya. Menurut Berne, permainan ini adalah varian dari ungkapan “Saya akan tunjukkan pada mereka.” (lihat Berne, 2009: 75).

Posted by: schariev | June 12, 2009

John Titor Sang Pengelana Waktu, benar atau bohong?

Kabar yang beredar di internet mengenai sang pengelana waktu ini kian ternyata merebak. Isu ini pun sering dibicarakan di tempat-tempat umum dan mengakibatkan orang di sekitarnya ikut mendengarkan cerita yang tidak biasa ini. Bagaimana tidak, kebanyakan yang membicarakannya adalah para remaja yang suaranya aduhai menggelegar.

Saya akhirnya tertarik untuk mengetahui cerita ini lebih dalam. Di internet terdapat banyak sumber mengenai hal ini. Sumber terbanyak berasal dari blog-blog yang tidak memiliki referensi yang jelas, selain forum dan website milik „John Titor“. Hmmm! Menarik juga untuk diteliti kebenarannya. Dengan analisis dari sumber-sumber „terpercaya“ melalui sedikit kajian ilmiah dan logika, kita bisa membuat analisisnya:

Berita utamanya adalah: „John Titor lahir tahun 1998 di Florida, dia mengemban tugas dari Militer Amerika tahun 2036 kembali ke tahun 1975 untuk mengambil PC IBM 5100, yang menurut dia di PC itu terdapat bahasa unix yg dpt memecahkan beragam bahasa unix. Menurut John Titor, teknologi di PC itu hanya segelintir karyawan IBM saja yang tahu dan teknologi itu tidak pernah lagi di pasang di PC generasi selanjutnya hingga 2036. Menurut John Titor, semua sistem unix akan menghadapi time error di tahun 2036. Oleh sebab itu, IBM 5100 sangat penting. Hal ini langsung diakui oleh pihak IBM dan mereka kaget, karena hanya 5 orang yang boleh mengetahui hal itu, dan itu pun terjadi pada tahun 1975.”

Analisisnya: Pengarsipan di suatu perusahaan teknologi tentu saja tidak sama seperti pengarsipan di kantor kelurahan. Dengan arsip ini kita bisa dengan mudah memproduksi ulang PC tersebut kapan pun waktunya. Jadi tidak usah cape pulang ke beberapa tahun lalu. Tidaklah mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu mengenai teknologi ini karena komputer diproduksi secara massal. Jadi, pembuatannya pun akan jelas terpapar pada prosedur pembuatan barangnya dan tentunya diarsipkan. Artinya seluruh pekerja pembuat komputer itu akan mengetahuinya. Eh.. Pihak IBM kaget dan mengakuinya? Bencong sekali pihak IBM ini. Katanya rahasia, tapi mengapa diberi tahu kalau yang mengetahui hal yang rahasia ini hanya lima orang? Bukan rahasia lagi dunks!

Berita selanjutnya: „John Titor memperingatkan keluarganya di masa lalu pada tahun 2001 untuk pindah dari Florida karena akan ada badai yang menerjang daerah itu. Setelah John Titor pergi, kejadian itu pun terjadi.“

Analisis selanjutnya: John titor bersabda dalam hukum mesin waktunya: „Apapun yang saya lakukan dengan pergi ke masa silam tidak akan mengubah masa depan saya, karena kita hidup di dimensi yang berbeda. Masa depan adalah keputusan. Apa pun keputusan yang dibuat, di masa depan sudah ada jawabannya.” Nah nah, kenapa keluarganya di masa lalu diselamatkan? Sungguh mulia benar hati anak ini plus tidak konsisten sama teorinya. Ngapain cape-cape menyelamatkan orang kalau tidak akan berpengaruh sama dimensinya? Misi penyelamatan ini memunculkan teori yang menyalahi teori John Titor sebelumnya bahwa bila Titor tidak menyelamatkan keluarganya, dia tidak akan ada di masa depan. Lagi pula, Teori kimia pun akan lebih kuat bermain di sini. Seluruh proses yang ada di dunia ini bekerja berdasarkan teori kimia dan fisika. Reaksi yang telah terjadi tidak bisa dikembalikan, apabila little Titor mati terbunuh badai, tidak akan ada Titor sang penyelamat. Bagaimana mungkin dia hidup di tahun 2036 dan menyelamatkan little Titor kalau dia sudah mati 36 tahun sebelumnya? Logika!

Berita lagi: Di salah satu situs tertulis: „Kaum yang tak percaya tetap menyerangnya dengan pertanyaan bahwa jika John memang benar dari masa depan, kenapa John tidak memperingatkan dunia tentang tragedi WTC 9/11, bom Bali, tsunami Aceh? Padahal tragedi-tragedi itu menghebohkan dunia. Tapi kaum yang percaya membela John bahwa tragedi-tragedi itu tidak ada artinya dibandingkan Perang Dunia 3 dan perang sipil 2015 yg mengoyak Amerika menjadi 5 pecahan (itu sebabnya John tidak menganggap penting untuk menyebutkan tragedi WTC dll).“ Di situs lainnya tertulis: „John pernah menyatakan di NY akan ada gedung pencakar langit yang akan hilang dalam waktu dekat (9/11) dan tidak ditemukannya Senjata pemusnah massal di Timur Tengah (Irak) tetap membuat politik Amerika untuk berperang.”

Analisis lagi: Sudah jelas dan pasti, ketika terdapat dua keterangan yang berlawanan dari sumber yang sama, maka keterangan itu dianggap tidak bisa dipercaya. Makannya, kalau mau berbohong, disarankan untuk konsisten. Satu lagi, John Titor memberikan prediksi tentang Olimpiade (dibahas di bawah). Eh? Olimpiade lebih penting dari pada Tsunami Aceh, Perang Irak- Afghanistan- Palestina, Flu Babi, dan Krisis Global ya?

Ada berita: Untuk membuat mesin waktu bahan-bahan yang dibutuhkan adalah: Magnetic housing units for dual microsignularities, Electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities, Cooling and x-ray venting system, Gravity sensors (VGL system), Main clocks (4 cesium units), Main computer units (3).

Ada analisis: saya memang belum pernah menanyakan pada teman saya yang seorang dosen fisika mengenai alat-alat ini. Menurut saya, barang-barang ini memang ada, tetapi mengapa kita tidak diberi tahu cara perakitannya? Mengapa diberitahukan kepada kita? Sungguh mulia hati anak muda ini. Sungguh tolol orang yang merasa beruntung mengetahui hal ini dari sang Titor, seperti mendapat wangsit. Saudara-saudara sekalian, mengapa hal ini tidak mendapat respon dari pihak berwenang seperti NASA dan media masa atau Oprah Winfrey Show? Ya mungkin karena informasi ini untuk orang awam saja, karena kalau sampai ke ilmuan, mungkin hanya akan ditertawakan. Saya pun dengan mudah bisa berkata kalau obat HIV adalah semur jengkol. Whua whua!

Sudahlah cukup analisis semacam ini. Langsung saja ke analisis paling mudah mengenai keabsahan “wahyu” dari Nabi John Titor.

KATA JOHN: Olimpiade 2004 adalah olimpiade terakhir, olimpiade selanjutnya dilaksanakan tahun 2040.

FAKTA: Olimpiade Beijing berlangsung lancar tahun 2008.

KATA JOHN: Perang saudara di Amerika bergejolak sejak tahun 2004.

FAKTA: Tidak ada perang saudara di Amerika hingga saat ini.

Melalui fakta-fakta ini sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan kalau cerita mengenai  John Titor itu hanya kebohongan belaka. Sebenarnya dia sudah menyebutkan prediksi-prediksi lainnya mengenai masa depan mengenai perang dunia tahun 2015 dan bencana lainnya. Kalau anda nonton semua seri Naked Science di Metro TV, anda dapat langsung menyimpulkan kalau prediksi-prediksi John Titor sangat mirip dengan prediksi-prediksi di tayangan ini. Sebenarnya masih banyak yang saya ingin analisis mengenai kebohongan ini, tetapi saya harus melanjutkan penulisan skripsi saya… ok, singkat saja poin penting dari penelitian kecil ini:

Berita mengenai John Titor hanyalah sebuah HOAX atau kebohongan yang dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai kenyataan yang ilmiah. Sasaran berita bohong ini adalah pengguna internet yang kebanyakan adalah orang awam dan heboh seperti siswa SMP atau SMA. Sehingga HOAX pun akhirnya menyebar ke dunia luas dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Contoh konkritnya adalah HOAX yang menyatakan bahwa Teh Botol Sosro mengandung Hydroxylic Acid (Sumber: Koran Kompas). Isu ini mulanya beredar di internet, lalu menyebar di masyarakat dan mengakibatkan perusahaan teh ini mengalami kerugian. Apabila orang kimia membaca berita ini mungkin akan tertawa. Tetapi orang ahli kimia ini memang sedikit jumlahnya, yang terbesar adalah orang awam yang tidak mengetahui kalau Hydroxylic Acid adalah nama lain dari H2O yang tidak lain adalah AIR MURNI. HOAX memang sedang ngetren, hal ini dipermudah dengan akses internet terjangkau oleh berbagai orang dan kekreativitasan orang jaman sekarang yang membabi buta.

HOAX mengenai John Titor adalah contoh HOAX yang sukses dan didukung oleh banyak orang. Penyebaran HOAX mengenai John Titor bukanlah tanpa alasan. Saya sangat salut pada para pencipta ide sekaligus pelaksana kebohongan ini yang telah merancang semua kebohongan seedan mungkin, walaupun kadang mereka ga kompak. Alasan mereka berbuat begitu adalah bukan hanya pencarian sensasi, tetapi juga motif ekonomi. Lihat saja di website John Titor sendiri, dijual „John Titor The Time Traveler’s Tale“ seharga 100 dollar, “John Titor Graviti Distortion Gear”, sampai John Titor Bumper Sticker and Mugs. Cape deeeehhh…

Posted by: schariev | June 12, 2009

Obat serbuk, puder, atau puyer bahaya?

Obat serbuk, puder, atau puyer bahaya?

„Obat berbentuk serbuk itu berbahaya“ begitulah kira-kira pernyataan yang dikeluarkan oleh salah satu berita di stasiun tv swasta. Sebenarnya apakah obat puyer ini berbahaya? Di sini saya hanya akan menjawab tuduhan yang mereka keluarkan di media masa:

KASUS: Menurut media masa, obat racikan puyer itu tidak steril, seharusnya mortir, tempat peracikan obat, dicuci setiap mau dipakai ulang, seharusnya para ahli farmasi mengenakan sarung tangan, jadi obatnya steril.

JAWAB: soal sterilisasi, kami para ahli farmasi tidak pernah main-main. Tidak hanya mencuci mortir, kami paling hobi membakar mortir, dengan cara melumuri mortir dengan alkohol absolutum dan membakarnya sampai kering, jadi mortirnya sangat steril, melebihi tingkat kesterilan di masyarakat awam. Kami tidak mencuci mortir karena memang obat yang akan diracik sama dengan obat yang diracik sebelumnya, hanya cukup dengan mengeluarkan sisa obat yang menempel pada mortir dengan sudip. Itpun jaran dilakukan karena kami selalu tidak menyisakan sisa obat pada mortir. Kami mencuci mortir kalau mortir itu telah dipakai untuk meracik obat yang berdosis maksimal sensitif. Soal sarung tangan, apakah bisa dijamin kalau kita pakai sarung tangan akan steril? Bakteria malahan akan muncul di sarung tangan yang terus berulang dipakai. Kami para ahli farmasi melakukan sterilisasi tingkat C pada diri kami sendiri, pembersihan diri mendasar yang bisa dilakukan pada manusia atau aseptik. Mengapa tidak sterilisasi B atau A? tingkat B dan A hanya dilakukan pada peralatan farmasi, seperti membakar mortir tadi, kalau manusia dikenai sterilisasi B atau A, gosong dong kita.

KASUS: obat serbuk hanya dibagi berdasarkan perkiraan, tidak ditimbang.

JAWAB: Para peracik obat atau yang disebut dengan asisten apoteker telah menjalani pelatihan selama tiga tahun di SMF full day. Kita belajar begitu lama untuk menyempurnakan keahlian dan insting asisten apoteker kita, sehingga pembagian obat puyer bisa sama rata, mau bukti? Silahkan timbang sendiri dan buktikan ketelitian dari seorang asisten apoteker. Kami akan menimbang obat puyer kalau di dalamnya terkandung abat berdosis maksimal sensitif, walaupun hasilnya akan selalu sama, hal ini harus dilakukan karena kami memiliki prosedur dan harus menjalankannya.

KASUS: obat racikan itu dicampur aduk, berbahaya.

JAWAB: apa bedanya dengan obat dalam bentuk lainnya? Seringkali dokter memberikan obat dengan variabel yang banyak, obat flu terpisah dari obat panas dan vitamin. Tetapi toh nantinya diminum bersamaan juga. Obat puyer malah memudahkan hal ini.

Dosen ITB untuk mata kuliah undang-undang kesehatan DR. Embit Kartadarma beberapa tahun lalu berkata di kelas Ilmu Resep SMF YPF Bandung: „obat puyer adalah sediaan obat terpadu yang absorbsi atau tingkat penyerapannya lebih tinggi dari sediaan obat oral lainnya“.

Posted by: schariev | February 7, 2009

Derita atau Kesejahteraan Rakyat Korea Utara

north_korea

Sebenarnya sudah sekian lama saya mengamati negara komunis ini. Hanya saja dulu saya pikir tidak ada hal yang menarik dari negara ini, hanya sebuah negara komunis yang memiliki disiplin kemiliteran yang tinggi. Ternyata saya salah, negara kecil ini memiliki sesuatu yang patut disorot dengan lebih seksama. Ketertarikan saya dimulai ketika saya menyaksikan sebuah tayangan dokumenter dari National Geographic yang sepertinya sudah diproduksi beberapa tahun lalu. Di dalam film dokumenter ini ditayangkan suatu misi kemanusiaan yang dilakukan sebuah tim dokter untuk mengobati masyarakat Korea Utara yang menderita katarak. Wartawan dan relawan kemanusiaan menyusup di dalam tim ini untuk mengetahui kondisi di Korea Utara dan memberitakannya kepada dunia.

Selama tim dokter menjalankan operasinya, wartawan itu meliput beberapa keadaan di kota Pyongyang. Banyak sekali kejadian yang memilukan dan kenyataan yang mencengangkan. Korea Utara menutup semua akses dengan dunia luar, tidak ada internet atau handphone. Bahkan masih banyak orang yang belum tahu kalau sudah ada orang yang berjalan di bulan. Rakyat Korea Utara tidak diperbolehkan untuk menikmati barang Import, padahal Kim Jong Il adalah penikmat barang-barang import, hampir semua kekayaannya berasal dari luar negeri. Di bawah rezim ini masyarakat Korea Utara hidup dalam ketertinggalan dan ketertindasan. Semua anak yang lahir di negeri ini kekurangan 10 kg berat badan dan membuat mereka menjadi manusia yang pendek. Tidak ada pelayanan kesehatan yang memadai, hanya infus yang menggunakan botol bir, tidak ada anastesi dan desinsfektan, ranjang operasi pun penuh dengan noda darah, lebih mirip dengan film horor. Anehnya mereka tetap memuja pemimpinnya walaupun mereka kelaparan dan menderita berbagai penyakit.

Buku Pintar yang diedit oleh Iwan Gayo mengatakan kalau Korea Utara adalah negara yang biasa saja, bahkan mencantumkan prosentase agamanya. Setelah saya lihat tayangan ini, ternyata tak ada satupun Tuhan yang dipuja disini selain kedua pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il dan Kim Il Song. Lihat saja semua rumah yang ada di Korea Utara. Hanya terdapat foto-foto dari dua pemimpin besar ini. Tidak ada satupun foto keluarga mereka. Setiap keluarga memuja foto kedua pemimpin ini dengan cara membungkukkan badan, dan mereka memperlakukan foto-foto tersebut dengan khusus, seakan-akan foto itu memiliki kamera perekam yang dapat mengetahui kalau ada orang yang memperlakukannya secara kurang baik. Ternyata masih ada hal-hal seperti ini di jaman sekarang, di mana sebuah bangsa begitu berlebihan memuja Tuhannya yang tidak lain adalah manusia. Ketika sang relawan kemanusiaan bertanya kepada sebuah keluarga tentang bagaimana kalau sang Jendral Besar ini melakukan kesalahan, mereka terlihat sangat kebingungan, karena mereka tidak memiliki kosakata tentang keburukan dari sang Jendral Besar ini.

Lebih parah dari yang pernah dilakukan tentara NAZI pada kaum Yahudi, Pemerintah Korea Utara memiliki sebuah kamp konsentrasi yang sangat besar. Di dalam kamp itu terdapat banyak barak dan ruangan seperti ruangan penyiksaan sampai ruang pencucian otak. Kebanyakan yang ditahan disini adalah orang yang tidak berdosa. Apabila ada seseorang yang mengeluarkan kata-kata yang sedikit meremehkan pemerintahan seperti ‘sekarang cari makan susah’, orang yang mengucapkannya berserta semua keluarga besarnya akan digiring masuk ke kamp ini dan ditahan seumur hidup. Di kamp ini sering terjadi kekerasan sampai penembakan yang dilakukan penjaga. Penembakan dilakukan biasanya karena hal yang kecil, seperti tahanan yang mencari tikus untuk dijadikan makanan.

Kejadian paling mengiris berada di akhir tayangan ini, ketika tim dokter sudah berhasil mengoprasi lebih dari seribu pasien. Ketika perban mata mereka dibuka, bukannya berterima kasih pada dokter, malah langsung bersujud di hadapan foto kedua pemimpin Korea Utara yang faktanya telah membuat mereka menderita katarak karena tidak menyediakan pelayanan kesehatan yang layak. Semua pasien pun bersorak memuja sang pemimpin, hal ini terjadi setiap seorang pasien dibuka perbannya, sedangkan yang telah dioperasi berjumlah lebih dari seribu orang, jadi ritual pemujaan ini berjalan lebih dari seribu kali, dan artinya semua orang yang berada di situ melakukan pemujaan sebanyak seribu kali lebih kepada sang Jendral Besar. Terlintas saya berpikir, manakah yang benar-benar memuja dan berterima kasih pada sang jendral secara tulus dan yang yang melakukannya karena rasa takut. Sepertinya masa kediktatoran yang begitu lama membuat mereka tidak bisa membedakan antara rasa takut dan rasa tulus.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories